Berita

ilustrasi/ist

Bisnis

Solar Langka, Pemerintah Dan Pertamina Dinilai Lepas Tangan

Organda Ngeluh Distribusi Barang & Penumpang Terganggu
SENIN, 08 APRIL 2013 | 08:00 WIB

.Para pengusaha angkutan mengeluhkan kelangkaan solar di beberapa daerah. Pemerintah dan Pertamina tidak boleh lepas tangan.

Sekjen Organisasi Angkutan Da­rat(Organda) Andriansyah me­ngatakan, kelangkaan solar yang terjadi sejak akhir Maret te­lah berdampak pada bisnis para pe­ngusaha angkutan.Bahkan, saat ini Organda masih mela­ku­kan pengumpulan data daerah ma­na saja yang mengalami ke­sulitan bahan bakar solar.

Menurut dia, berdasarkan la­poran, daerah yang mengala­mi ke­­langkaan solar adalah Sumate­ra Utara, Sumatera Barat, Beng­kulu, dan Jawa Te­ngah.


”Sisanya akan ketahuan  saat rapat Selasa (9/4),” katanya kepa­da Rakyat Merdeka, kemarin.

Andriansyah mengatakan, ke­langkaan solar tersebut telah mengganggu distribusi barang dan angkutan penumpang. Ke­lang­­kaan ini membuat tidak ter­jamin­nya pengangkutan. Pa­sal­nya, pa­sokan bahan bakar mi­nim, sedang­kan armada yang ada ba­nyak me­layani untuk antar kota.

”Tidak ada kepastian apakah bisa dapat solar lagi di jalan. Apa­­lagi pembeliannya juga di­ba­tasi. Bahkan banyak bus dan truk yang mogok karena keha­bisan solar,” katanya.

Kondisi ini membuat banyak ang­kutan penumpang dan barang yang tidak produktif karena harus banyak mengantre di pom bensin, sehingga yang seharusnya bisa dua kali sekarang jadi satu kali angkut. Kondisi ini mem­buat pe­ngiriman barang dan jad­wal ang­kutan penumpang tak tepat waktu.

“Untuk mengatasi pengiriman barang kami sudah mengan­tisi­pasi dengan mengirim lebih ce­pat. Namun, lagi-lagi itu ter­gan­tung pasokan solar,” jelasnya.

Andriansyah mengatakan, pi­haknya sudah menyurati Dirjen Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengenai kelangkaan solar. Pi­haknya sudah menyampaikan masalah ini ke Pertamina.

Karena itu, dia meminta, Ke­men­terian ESDM dan Pertamina se­gera menye­­le­saikan masalah itu dengan mencukupi kebutuh­an so­lar untuk angkutan umum dan ba­rang. “Hingga kini kami belum dipanggil pemerintah dan Perta­mina terkait masalah ini,” jelasnya.

Kendati begitu, dia belum mempunyai data kerugian dari kelangkaan solar yang terjadi da­lam beberapa hari terakhir ini.

“Kita masih menghitung dan me­nunggu laporan dari daerah. Se­telah itu baru kita tahu berapa kerugiannya,” jelasnya.

Wakil Ketua Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) Mahendra Rian­to mengatakan, kelangkaan solar yang terjadi saat ini telah me­nam­bah beban para pengusaha logis­tik. Apalagi, kontrak dengan  in­dustri tidak ada perubahan.

Kelangkaan itu, kata Mahendra, menyebabkan biaya BBM untuk transportasi naik dua kali lipat. “Saat ini untuk jarak 500 km biaya BBM menyedot 60 persen dari bia­­ya transportasi. Dengan kelang­­kaan solar, cost naik dua kali lipat karena harus membeli lebih ma­hal. Jika dihitung biaya­nya su­dah me­lebihi harga jasa kita ke industri dan itu ditang­gung kita,” katanya ke­pada Rakyat Merdeka.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa ingin masalah kelangkaan solar subsidi di beberapa daerah diselidiki. Pe­merintah tak ingin ada penyim­pangan distribusi solar subsidi.

“Seharusnya solar itu cukup digunakan sesuai dengan perun­tuk­annya. Harus diselidiki apa­kah ada penyimpangan atau ku­o­ta tersebut yang sudah di­aloka­sikan ke daerah industri dan per­tambangan,” jelas Hatta

Ia mengatakan, jika tidak di­selidiki lebih lanjut, maka ke­bo­coran kuota BBM subsidi akan terus terjadi. Menurutnya, jika ka­sus seperti ini sering terjadi, ma­ka be­rapapun tambahan yang digelon­torkan akan bocor terus.

Kelangkaan solar juga berdam­pak pada nelayan gara-gara Per­tamina membatasi pasokan. Ba­nyak nelayan di Jawa dan Su­matera yang tidak bisa melaut.

Anggota Komisi IV DPR  Ma’mur Hasanuddin mengata­kan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) harus melaku­kan koordinasi segera dengan Per­­tamina, Kementerian ESDM maupun Badan Penga­tur Hilir (BPH) Migas untuk menye­le­saikan permasalahan ini. Jika tidak maka pemerintah dan Per­tamina bisa dinilai lepas tangan. “Jaminan pasokan BBM subsidi harus jelas,” katanya.

Vice President Corporate Com­munication Pertamina Ali Mun­dakir mengatakan, secara total rea­lisasi penyaluran premium dan solar telah melampaui kuota yang ditetapkan oleh pemerintah. [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

UPDATE

Antam dan Pegadaian Ikut Uji Keaslian 55 Keping Platinum OTT Bupati Langkat

Minggu, 12 Juli 2026 | 20:16

Proses Hukum Febrie Adriansyah Wujud Ketegasan Pemerintahan Prabowo

Minggu, 12 Juli 2026 | 19:54

Prabowo: Kopdes Merah Putih Akan Ciptakan Perputaran Uang Rp223 Triliun di Desa

Minggu, 12 Juli 2026 | 19:43

Belajar dari Yunnan, Tobat Ekologi Ditopang Gerakan Koperasi

Minggu, 12 Juli 2026 | 19:33

Kopdes Merah Putih Siapkan Kredit Super Mikro, Bunga 8 Persen

Minggu, 12 Juli 2026 | 19:03

Taruna Akmil Pahami Pemikiran Sun Tzu dan Doktrin Pertahanan Negara

Minggu, 12 Juli 2026 | 18:55

Prabowo Kritik Neoliberalisme, Dorong Kembali Ekonomi Kerakyatan

Minggu, 12 Juli 2026 | 18:51

Kemensos Evakuasi Bocah Sukabumi yang Suka Cium Tangki Motor Warga

Minggu, 12 Juli 2026 | 18:34

Prabowo Tetapkan Barang Subsidi Wajib Disalurkan Lewat Kopdes Merah Putih

Minggu, 12 Juli 2026 | 18:17

Karhutla Mengamuk di Jawa dan Kalimantan, 1 Warga Pingsan

Minggu, 12 Juli 2026 | 18:03

Selengkapnya