Pertamina didesak segera menggelar teknologi monitoring BBM (Bahan Bakar Minyak) subsidi. Dengan langkah ini diharapkan, kasus kelangkaan pasokan BBM subsidi seperti solar dan premium bisa terkurangi.
Wakil Ketua Komisi VII DPR Ahmad Farial menegaskan, kasus kelangkaan BBM subsidi seperti solar sangat meresahkan, terutama bagi pengusaha angkutan.
Sementara di sisi lain, lanjutnya, Pertamina tidak menambah pasokan BBM subsidi khususnya di wilayah Jawa. “Dengan kondisi ini, maka Pertamina bisa mempercepat penggunaan alat monitoring BBM subsidi. Apalagi PT INTI sudah memenangkan tender sistem monitoring. Tunggu apa lagi,†timpalnya di Jakarta, kemarin.
Dengan sistem ini pula, maka menurut dia, Pertamina bisa memantau sejauh mana konsumsi BBM subsidi tersebut, benarkah habis karena konsumsi atau sengaja diselundupkan.
Sebelumnya, berdasarkan pantauan
Rakyat Merdeka di beberapa wilayah Jawa Tengah akhir pekan lalu masih ditemui antrean mobil, bus dan truk untuk membeli BBM subsidi jenis solar. Bahkan, di beberapa pom bensin tidak menjual solar karena stoknya habis.
Salah satu pom bensin yang kehabisan solar adalah pom bensin yang berada di daerah Lempuyangan, Jawa Tengah. Di pom bensin ini solar subsidi sudah habis. Tio, petugas jaga mengatakan, pasokan solar belum datang. Kendati pihaknya menyediakan pertamina dex alias solar non subsidi tapi peminatnya minim karena harganya dua kali lipat harga solar subsidi.
Vice President Corporate Communication PT Pertamina Ali Mundakir mengatakan, perseroaan tetap menyalurkan solar sesuai dengan kuota yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Rencananya pengadaan sistem monitoring BBM bersubsidi ini akan digunakan untuk seluruh wilayah Indonesia pada awal 2014. (
Rakyat Merdeka, 3/4)
Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Hanung Budya Yuktyanta menjelaskan bahwa jika tender dijalankan dan pemenang tender bisa ditunjuk awal tahun depan, Pertamina dapat mulai memasang teknologi tersebut mulai dari Jabodetabek.
Kemudian dilanjutkan di Jawa bagian barat dan Jawa Bali. Pada 2014 pemasangan TI (teknologi informasi) tersebut selesai di seluruh Indonesia.
“Dari tender sedang dilakukan Pertamina terkait dengan pengadaan sistem monitoring dan pengendalian BBM bersubsidi tersebut sudah sewajarnya harus diawasi secara bersama baik oleh rakyat maupun pemerintah agar Pertamina benar-benar mendapatkan pemenang tender yang sesuai harapan dan mendapatkan teknologi yang tepat guna dan tidak mubazir,†imbuh Ferial.
Pihak Pertamina menyatakan proses lelang pemanfaatan TI melalui program Sistem Monitoring dan Pengendalian Bahan Bakar Minyak (SMP BBM) bersubsidi menyisakan dua peserta.
Senior Vice President Fuel Marketing and Distribution Pertamina Suhartoko mengatakan, kedua peserta tender itu adalah PT Telkom Tbk dan PT INTI.
Sebelumnya, PT LEN dan PT Sucofindo juga turut bersaing. Dalam prosesnya INTI menawarkan harga Rp 18 per liter. Sementara Telkom Rp 72,5 per liter.
Pertamina akhirnya menunjukkan PT INTI sebagai pemenang lelang TI SMP. BUMN ini menargetkan penandatanganan kontrak dengan pemenang tender pada 1 April 2013. Pemenang tender ditargetkan telah memasang peralatan TI di seluruh wilayah Jabodetabek 1 Juli 2013. Setelah merampungkan pemasangan SMP di Jabodetabek, Pertamina akan memperluas sistem monitoring tersebut ke seluruh SPBU di Pulau Jawa yang ditargetkan akan siap dioperasikan pada akhir 2013. [Harian Rakyat Merdeka]