.Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan berharap pemerintah sudi menyerahkan 100 persen hak pengelolaan minyak dan gas (migas) Blok Mahakam kepada Pertamina.
Dahlan optimis perusahaan pelat merah tersebut mampu mengeÂlola Blok Mahakam.
“Mampulah, masa perusahaan sebesar ini tidak mampu,†kata Dahlan usai mengÂhadiri Rapat Pimpinan BUÂMN di Kantor Pusat PertaÂmina, kemarin.
Soal dana investasi, Dahlan meÂÂnilai masalah tersebut bukan sebagai hambatan. Dia yakin BUMN perminyakan ini bisa menÂÂcari dana segar. “Soal uang investasi bisa dicari, gamÂpang itu,†kata bekas Dirut PLN ini.
Soal dana investasi, Dahlan meÂÂnilai masalah tersebut bukan sebagai hambatan. Dia yakin BUMN perminyakan ini bisa menÂÂcari dana segar. “Soal uang investasi bisa dicari, gamÂpang itu,†kata bekas Dirut PLN ini.
Blok Mahakam saat ini masih dikelola perusahaan migas asal Prancis Total E dan P dan perusaÂhaan migas asal Jepang, Inpex. Kontrak kerja sama dengan keÂdua perusahaan itu akan berÂakhir 2017. Dana investasi yang diÂkeÂluarkan dua perusahaan itu saat ini 2 miliar Dolar AS. Satuan Kerja Khusus Pelaksana KegiaÂtan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) sampai saat ini belum mengambil keputusan siapa yang akan dipilih jadi pengelola blok Mahakam.
Kepala SKK Migas Rudi RuÂbiandini sempat mengaku tidak mau berdebat soal siapa pengÂeÂlola Blok Mahakam. MeÂnuÂrut dia, yang paling penting, menÂÂcari siapa yang mampu berÂinÂÂvestasi dan meningkatkan proÂduksi.
Diterangkannya, cadaÂngan gas di Mahakam diÂperkiraÂkan tinggal 2 triliun kaki kubik (tcf) dan dibuÂtuhkan inÂvesÂtasi Rp 80 triliun untuk dapat memproÂduksi gas dari blok tersebut seÂlama masa operasi 20 tahun.
Dahlan menyarankan, pemeÂrinÂtah segera mengambil kepuÂtuÂsan. Jika kepuÂtusan baru diÂambil dekat dengan batas berÂakhirnya masa kontrak bisa mempengaruhi produksi. DiÂjelasÂkannya, untuk mengelola Blok Migas perlu waktu perÂsiapan.
“Saya tidak ingin kejadian Blok West Madura Offshore (WMO) terulang, produksi PerÂtaÂÂmina mengÂÂalami penurunan, karena keÂputusan yang terlalu meÂpet,†cetus Dahlan.
Meskipun mendukung PertaÂmina, Dahlan menyatakan akan mengÂiÂkuti apapun pun keputusan peÂmeÂrintah mengenai siapa pengelola Mahakam.
Pengamat ekonomi Yanuar Rizki mendukung keinginan Dahlan. Yanuar heran dengan seÂjumlah kalangan yang memperÂsoalkan dana investasi. MenurutÂnya, sebagai perusahaan BUMN, apalagi Pertamina dalam kondisi sehat, mencari dana investasi buÂkan perkara sulit.
“Dengan keuntungan yang akan diterima Pertamina bila keÂlola Blok Mahakam tentu bukan hal yang suÂlit mencari pinjaman,†kata Yanuar. Dia menuturkan, dari sisi dana dan teknologi nyaris tidak ada maÂsalah. “Pertamina selama ini sudah meÂnyatakan sanggup. Yang belum diÂdapatkan selama ini kan duÂkungan pemeÂrintah,†kata dia.
Berbagai kalangan sempat mengkhawatir mengambangnya status Blok Mahakam akan memÂbuat celah kolusi. Jangan sampai blok tersebut dicincai untuk keÂpenÂtingan politik menÂjelang Pemilu 2014.
Direktur Eksekutif Indonesia Resources Studies (IRESS), MarÂwan Batubara memÂperÂtaÂnyakan sikap kalangan pemerintah seÂperti SKK Migas yang meraÂguÂkan keÂmampuan Pertamina.
“90 persen yang kerja di Blok MaÂhaÂkam itu orang Indonesia. Sebagian besar pernah mengabdi ke Pertamina. Kok masih saja diÂraÂgukan,†cetus dia.
Dirut Pertamina Karen AgusÂtiawan memperkirakan laba PertÂamina bisa mencapai Rp 170 triÂliun jika mengelola Blok MahaÂkam. [Harian Rakyat Merdeka]