Berita

ilustrasi/ist

Bisnis

Pengumuman Perang Korut Cuma Retorika

SENIN, 01 APRIL 2013 | 08:55 WIB

.Ancaman perang Korea Utara (Korut) atas daratan Amerika Serikat dan meratakan Gedung Putih dengan tanah serta meng­hancurkan pangkalan militer AS di Hawaii, Guam dan Korea Se­latan, dianggap retorika belaka.

Ancaman itu disampaikan Ko­rea Utara karena terganggu de­ngan latihan perang yang digelar AS dan Korea Selatan. Dalam latihan perang tersebut AS meng­operasikan pesawat pengebom anti radar.

“Kami tidak menemukan indi­kasi pada titik ini bahwa itu (an­caman Korea Utara) tidak lebih dari retorika perang,” ujar pejabat senior di Kementerian Perta­hanan AS yang kepada CNN meminta agar namanya tidak disebutkan.


Dewan Keamanan Nasional yang memberikan nasihat kepada Presiden Barack Obama me­nge­nai hal ini juga memiliki pe­nilaian sama. Namun, mereka menganggap AS harus tetap waspada.

“Tetapi, kami juga mencatat bahwa Korea Utara memiliki sejarah yang panjang dalam hal retorika untuk memperlihatkan keinginannya berperang (belli­cose rethoric), dan hari ini peng­umuman (Korea Utara) mem­per­lihatkan pola yang sudah umum,” ujar jurubicara Dewan Keamanan Nasional Caitlin Hayden.

Meski mengumumkan perang, kompleks industri antar-Korea, yang terletak di Korut tetap ber­operasi seperti biasa, kemarin.

Kompleks di kota Kaesong, persis di utara perbatasan, ber­ope­rasi seperti biasa setelah Pyong­yang memperingatkan un­tuk menutupnya saat meng­umumkan “keadaan perang” de­ngan Korsel pada Sabtu (30/3).

Kompleks Industri Kaesong di Korut dibangun Korsel 2004 sebagai simbol kerja sama lintas perbatasan.

Sekitar 53.000 warga Korut be­kerja pada 120 perusahaan Korsel di kompleks, yang merupa­kan satu sumber penting keuangan bagi untuk negara komunis itu.

Ketegangan meningkat antara Korut dan Korsel dan pada Sabtu Pyongyang memperingatkan Seoul dan Washington bahwa setiap provokasi akan dengan cepat meningkat menjadi konflik nuklir besar-besaran.

Korea secara teknis masih dalam keadaan perang karena Perang Korea tahun 1950-1953 diakhiri dengan satu perjanjian gencatan senjata bukan satu perjanjian perdamaian. Korut awal Maret mengumumkan gen­catan senjata itu tidak berlaku lagi. [Harian Rakyat Merdeka]

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

UPDATE

Proses Hukum Febrie Adriansyah Harus Bebas dari Intervensi Politik

Senin, 13 Juli 2026 | 06:23

Tentara Salib Eropa dalam Penjarahan Konstantinopel 1204

Senin, 13 Juli 2026 | 06:05

PT Japfa Comfeed di Cengkareng Terbakar

Senin, 13 Juli 2026 | 06:03

Timnas Inggris Tak Pernah Masuk Daftar Lawan Lionel Messi

Senin, 13 Juli 2026 | 05:32

Ivan Gunawan Harap Pemerintah Bantu Pembangunan 99 Masjid

Senin, 13 Juli 2026 | 05:23

Mengungkap Skandal Pemerasan Bu Etik

Senin, 13 Juli 2026 | 05:09

Ketahuan, Amplop Baru Dikembalikan?

Senin, 13 Juli 2026 | 05:03

MBG dan KDMP Manifestasi Nyata Pelaksanaan Pasal 33 UUD 1945

Senin, 13 Juli 2026 | 04:36

Mundurnya Febrie Adriansyah Jadi Pesan Politik Antikorupsi Pemerintahan Prabowo

Senin, 13 Juli 2026 | 04:05

Waspada! Ada Kompromi Kasus Ijazah Jokowi Disetop

Senin, 13 Juli 2026 | 04:02

Selengkapnya