Komisi V DPR akan memanggil PT Kereta Api Indonesia (KAI) untuk meminta penjelasan terkait rencana penghapusan kereta kelas ekonomi.
“Kita ingin panggil KAI dan Kementerian Perhubungan (KeÂmenÂÂhub) untuk meminta penjeÂlaÂsan terkait penghapusan kereta keÂlas ekonomi itu,†ujar Ketua KoÂmisi V DPR Laurens Bahang DaÂma kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
Laurens mengatakan, saat ini komisinya sedang menyusun jadÂwal pemanggilan tersebut. NaÂmun, kemungkinan pekan ini mengÂingat waktunya yang sudah mepet.
Untuk diketahui, per 1 April KAI berencana menghapuskan kereta ekonomi non AC JaboÂdeÂtabek jurusan Bekasi-Jakarta Kota dan Serpong-Tanah Abang.
Menurut politisi PAN itu, dalam Undang-UnÂdang (UU) PerkeretaÂapian disebutÂkan, kereta api (KA) kelas ekonomi tetap diseÂdiakan unÂtuk masyaraÂkat yang berÂpengÂhasilan rendah. Jadi tidak bisa dihaÂpuskan seÂmuanya begitu saja.
“Bisa berÂtahap, misalnya untuk keÂreta AC 80 persen dan 20 perÂsennya tetap ekonomi,†jelasnya.
Selain itu, dia juga mengataÂkan, dalam pemanggilan tersebut akan membahas usulan pembeÂrian subsidi tiket jika kereta ekoÂnomi dihapuskan. Jika tidak ada subsidi, akan memberatkan masÂyarakat karena harganya kereta non ekonomi lebih mahal.
“Jangan sampai kebijaÂkan terÂsebut justru merugikan masyaÂrakat kecil,†ucap Laurens.
Dikatakan, pihakÂnya mengÂusulÂkan dibentuk badan baru unÂtuk mengurusi prasarana kereta mulai dari pemeliharaan jalur, siÂnyal dan perawatan staÂsiun. MeÂnurut Laurens, selama ini saÂrana dan prasarana semuaÂnya dibeÂbankan kepada KAI.
“Inilah yang selama ini dikeluhÂkan rekan-rekan KAI karena meÂnyedot anggarannya,†ujarnya.
Menteri Badan Usaha Milik NeÂgara (BUMN) Dahlan Iskan meÂngatakan, kondisi KA ekoÂnomi saat ini memang sudah sangat tua. Selain itu, kereta terÂsebut bukan milik KAI, melainÂkan milik KeÂmenterian Perhubungan.
Menurut bekas dirut PT PeruÂsahaan Listrik Negara (PLN) itu, jika masyarakat ingin kereta ekoÂnomi tetap ada, maka KemenÂteÂrian Perhubungan harus mengÂgantinya dengan kereta baru. SeÂbab, dalam operasionalÂnya, keÂreta ekonomi yang sudah uzur kerap moÂgok dan mengganggu kereta lainnya seÂperti
commuter line.
“Dalam setahun kemarin (2012) saja rusaknya 1.200 seÂkian kali, itu menjadi omongan di maÂsyarakat kereta kok rusak terus,†ucap Dahlan, kemarin.
Mogoknya kereta ekonomi terÂsebut, menurut dia, sangat mengÂganggu kereta lainnya yang ingin melintas. Hal ini memÂberikan dampak buruk kepada KAI kaÂrena banyak keluhan dari masÂyarakat. Padahal yang rusak adaÂlah kereta ekonomi milik KeÂmenÂterian Perhubungan.
Pengamat transportasi dari Masyarakat Transporrasi IndoÂnesia (MTI) Djoko SetijoÂwarno mengatakan, pemerintah harus tetap memberikan subsidi bagi masyarakat menengah ke bawah agar bisa menikmati transportasi murah kereta api.
Namun, bukan berarti kereta ekonomi tidak dihapuskan. MeÂnurut dia, subsidinya lebih baik diberikan langsung kepada peÂnumÂpang kereta. Jika subsidi diÂberikan untuk kereta, menuÂrutÂnya, akan rawan penyimÂpangan. Sebab, kenyataannya keÂreta ekoÂnomi masih kerap diguÂnakan orang mampu. “Jadi yang disubÂsidi penumÂpangÂnya, bukan keÂretanya,†ujarnya.
Djoko sepakat jika kereta ekoÂnomi nantinya dihapus atau direÂmajakan. Sebab, dengan begitu semua kereta akan memiliki faÂsilitas sama. Tapi, sebeÂlumnya pemerintah harus menÂdata masÂyarakat menengah ke bawah pengÂÂguna kereta agar tetap bisa menggunakan jasa transÂportasi berbasis rel itu.
Dia mengatakan, pengguna keÂreta harus diberikan kartu khusus sehingga bisa membeli tiket deÂngan harga lebih murah. Kartu itu bisa digunakan di hari kerja dan jam-jam tertentu. Khusus hari libur, kartu tidak berlaku.
“Sama seperti program BLT (Bantuan Langsung Tunai), nanti tugas pemerintah mendata pengÂguna kereta dan mengeÂvaluasi,†saran Djoko.
Kepala Humas PT KAI Mateta Rizalulhaq mengatakan, pihakÂnya siap menghadiri panggilan Komisi V DPR untuk menjeÂlasÂkan rencana penarikan kereta keÂlas ekonomi. Menurutnya, peÂmanggilan itu adalah hak DPR.
Alasan pihaknya menarik kereta kelas ekonomi karena alasan keÂselamatan. Sebab, kereta ekoÂnomi yang ada saat ini umurnya sudah tua dan rata-rata buatan 1974.
“Suku cadangnya sudah tidak ada dan sering mogok, makanya kami tarik,†katan Mateta kepada
Rakyat Merdeka, kemarin. [Harian Rakyat Merdeka]