Berita

ilustrasi, Terumbu Karang

Bisnis

KKP Ajak Pengusaha Ambil Peluang Bisnis Di Kawasan Terumbu Karang

SELASA, 26 MARET 2013 | 08:28 WIB

Pemerintah akan bersinergi dengan enam negara anggota Segitiga Terumbu Karang (Coral Triangle) guna mendorong dan mengawal transformasi pemanfaatan sumber daya laut yang berkelanjutan. Keenam negara itu Malaysia, Papua Nugini, Filipina, Kepulauan Solomon dan Timor Leste.

Dirjen Kelautan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (KP3K) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Sudirman Saad mengatakan, sinergitas ini terkait upaya menemukan solusi terbaik pemanfaatkan sumber daya bawah laut sebagai sumber daya ekonomi.

“Kita akan terus mengajak dunia usaha melihat kawasan segitiga koral kita, yang memiliki peluang bisnis yang sangat besar dan prospektif. Supaya tidak mengulangi kesalahan kinerja investasi di sektor lain yang merusak lingkungan, sejak awal kita juga sudah mengingatkan mereka bahwa kita bisa menggunakan metodologi tertentu dalm hal ini blue economy,” jelas Sudirman di Ambon, Minggu (24/3).


Karena sebetulnya, lanjut dia, melalui prinsip-prinsip blue economy dalam memantapkan resources yang ada, pengelolaan akan lebih efisien dengan melibatkan banyak tenaga kerja dan ditambahinovasi teknologi. Itu sebabnya aktivitas bisnis di kawasan Segitiga Terumbu Karang perlu dikembangkan lagi guna meningkatnya perekonomian nasional.

Sudirman juga mengemukakan, kerja sama ini suatu arena nasional untuk lebih meyakinkan masyarakat agar memiliki peluang bisnis di lautan. Bukan hanya ikan tapi terumbu karang dan pariwisata.

Ke depan, KP3K akan menggunakan dua pendekatan sebagai turunan blue economy dalam memajukan pembangunan daerah-daerah pesisir. Pertama, setiap kawasan akan dipetakan sesuai potensinya untuk kemudian dialokasikan ruang dan tata aksesbilitas serta fasilitas energi untuk mengelola sumber daya alam.

Misalnya, di Nusa Indah dan Lombok Timur ada berbagai sektor yang potensinya masih bisa ditingkatkan secara optimal. Seperti perikanan baik budi daya dan tangkap, pariwisata, pengolahan, transportasi. Semua itu adalah sumber yang terintegrasi dalam suatu kawasan yang masih bisa kita tingkatkan.

Soal berapa investasi yang diperlukan hingga terwujudnya pencapaian dari program tersebut secara maksimal, Sudirman belum mengetahui secara pasti berapa total investasi yang diperlukan. Sejauh ini pemerintah masih melakukan studi untuk mengetahuinya. “Sekarang kita masih menghitung DDE (Detail Design Engineering)-nya berapa. Tapi sedari awal, pemerintah sudah membuat investasi publik,” ulasnya.

China Minta Dikirim 5.000 Ton Udang

Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif Cicip Sutardjo mengklaim udang asal Indonesia makin diterima pasar ekspor sehingga permintaannya semakin besar.
“Banyak negara seperti Jepang, China, Amerika dan Eropa yang sangat berminat membeli udang dari kita,” ujarnya di Maluku, Minggu (24/3).

Menurut Cicip, kualitas udang Indonesia terus mengalami peningkatan sehingga membuat sejumlah negara berminat membeli dari Indonesia. Dengan terus meningkatnya permintaan udang dari berbagai negara, makin banyak pula pengusaha swasta yang berminat membudidayakan produk tersebut. Pemerintah pun akan membantu swasta meningkatkan budidaya udang ini.

Menurut Cicip, wilayah Indonesia bagian timur, selama ini menjadi lokasi produk perikanan utama dan kondisi itu sangat didukung pemerintah. Sejumlah negara sudah mulai ada yang mengurangi konsumsi daging sapi untuk memperoleh protein dan beralih ke perikanan, khususnya udang.

“Konsumen di China, misalnya, mereka sudah mulai mengurangi daging dan mengkonsumsi ikan untuk dapatkan protein tinggi,” jelas Cicip.

Manager Operasional PT Wahana Lestari Investama, Tanggung, mengakui saat ini selain Jepang, China juga tengah menawarkan kerja sama ekspor dengan permintaan 5.000 ton udang per tahun.

“China meminta kita mengekspor 5.000 ton per tahun, tapi kita belum dapat memenuhi angka itu, mereka sudah mengunjungi tempat ini beberapa waktu lalu. Kita targetkan tahun ini angka produksi mencapi 3.000 ton per tahun,” papar Tanggung. [Harian Rakyat Merdeka]

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

UPDATE

Proses Hukum Febrie Adriansyah Harus Bebas dari Intervensi Politik

Senin, 13 Juli 2026 | 06:23

Tentara Salib Eropa dalam Penjarahan Konstantinopel 1204

Senin, 13 Juli 2026 | 06:05

PT Japfa Comfeed di Cengkareng Terbakar

Senin, 13 Juli 2026 | 06:03

Timnas Inggris Tak Pernah Masuk Daftar Lawan Lionel Messi

Senin, 13 Juli 2026 | 05:32

Ivan Gunawan Harap Pemerintah Bantu Pembangunan 99 Masjid

Senin, 13 Juli 2026 | 05:23

Mengungkap Skandal Pemerasan Bu Etik

Senin, 13 Juli 2026 | 05:09

Ketahuan, Amplop Baru Dikembalikan?

Senin, 13 Juli 2026 | 05:03

MBG dan KDMP Manifestasi Nyata Pelaksanaan Pasal 33 UUD 1945

Senin, 13 Juli 2026 | 04:36

Mundurnya Febrie Adriansyah Jadi Pesan Politik Antikorupsi Pemerintahan Prabowo

Senin, 13 Juli 2026 | 04:05

Waspada! Ada Kompromi Kasus Ijazah Jokowi Disetop

Senin, 13 Juli 2026 | 04:02

Selengkapnya