ilustrasi, Terumbu Karang
Pemerintah akan bersinergi dengan enam negara anggota Segitiga Terumbu Karang (Coral Triangle) guna mendorong dan mengawal transformasi pemanfaatan sumber daya laut yang berkelanjutan. Keenam negara itu Malaysia, Papua Nugini, Filipina, Kepulauan Solomon dan Timor Leste.
Dirjen Kelautan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (KP3K) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Sudirman Saad mengatakan, sinergitas ini terkait upaya menemukan solusi terbaik pemanfaatkan sumber daya bawah laut sebagai sumber daya ekonomi.
“Kita akan terus mengajak dunia usaha melihat kawasan segitiga koral kita, yang memiliki peluang bisnis yang sangat besar dan prospektif. Supaya tidak mengulangi kesalahan kinerja investasi di sektor lain yang merusak lingkungan, sejak awal kita juga sudah mengingatkan mereka bahwa kita bisa menggunakan metodologi tertentu dalm hal ini blue economy,†jelas Sudirman di Ambon, Minggu (24/3).
Karena sebetulnya, lanjut dia, melalui prinsip-prinsip
blue economy dalam memantapkan
resources yang ada, pengelolaan akan lebih efisien dengan melibatkan banyak tenaga kerja dan ditambahinovasi teknologi. Itu sebabnya aktivitas bisnis di kawasan Segitiga Terumbu Karang perlu dikembangkan lagi guna meningkatnya perekonomian nasional.
Sudirman juga mengemukakan, kerja sama ini suatu arena nasional untuk lebih meyakinkan masyarakat agar memiliki peluang bisnis di lautan. Bukan hanya ikan tapi terumbu karang dan pariwisata.
Ke depan, KP3K akan menggunakan dua pendekatan sebagai turunan blue economy dalam memajukan pembangunan daerah-daerah pesisir. Pertama, setiap kawasan akan dipetakan sesuai potensinya untuk kemudian dialokasikan ruang dan tata aksesbilitas serta fasilitas energi untuk mengelola sumber daya alam.
Misalnya, di Nusa Indah dan Lombok Timur ada berbagai sektor yang potensinya masih bisa ditingkatkan secara optimal. Seperti perikanan baik budi daya dan tangkap, pariwisata, pengolahan, transportasi. Semua itu adalah sumber yang terintegrasi dalam suatu kawasan yang masih bisa kita tingkatkan.
Soal berapa investasi yang diperlukan hingga terwujudnya pencapaian dari program tersebut secara maksimal, Sudirman belum mengetahui secara pasti berapa total investasi yang diperlukan. Sejauh ini pemerintah masih melakukan studi untuk mengetahuinya. “Sekarang kita masih menghitung DDE (
Detail Design Engineering)-nya berapa. Tapi sedari awal, pemerintah sudah membuat investasi publik,†ulasnya.
China Minta Dikirim 5.000 Ton UdangMenteri Kelautan dan Perikanan Sharif Cicip Sutardjo mengklaim udang asal Indonesia makin diterima pasar ekspor sehingga permintaannya semakin besar.
“Banyak negara seperti Jepang, China, Amerika dan Eropa yang sangat berminat membeli udang dari kita,†ujarnya di Maluku, Minggu (24/3).
Menurut Cicip, kualitas udang Indonesia terus mengalami peningkatan sehingga membuat sejumlah negara berminat membeli dari Indonesia. Dengan terus meningkatnya permintaan udang dari berbagai negara, makin banyak pula pengusaha swasta yang berminat membudidayakan produk tersebut. Pemerintah pun akan membantu swasta meningkatkan budidaya udang ini.
Menurut Cicip, wilayah Indonesia bagian timur, selama ini menjadi lokasi produk perikanan utama dan kondisi itu sangat didukung pemerintah. Sejumlah negara sudah mulai ada yang mengurangi konsumsi daging sapi untuk memperoleh protein dan beralih ke perikanan, khususnya udang.
“Konsumen di China, misalnya, mereka sudah mulai mengurangi daging dan mengkonsumsi ikan untuk dapatkan protein tinggi,†jelas Cicip.
Manager Operasional PT Wahana Lestari Investama, Tanggung, mengakui saat ini selain Jepang, China juga tengah menawarkan kerja sama ekspor dengan permintaan 5.000 ton udang per tahun.
“China meminta kita mengekspor 5.000 ton per tahun, tapi kita belum dapat memenuhi angka itu, mereka sudah mengunjungi tempat ini beberapa waktu lalu. Kita targetkan tahun ini angka produksi mencapi 3.000 ton per tahun,†papar Tanggung. [Harian Rakyat Merdeka]