.Rencana pemerintah menghentikan ekspor bahan mentah mineral pada 2014 tidak maksimal. Sebab, jumlah smelter atau industri pengolahan yang sudah siap produksi masih minim.
“2014 yang sudah siap produksi sekitar 4-5 smelter,†ujar Direktur JenÂderal Basis Industri ManuÂfaktur Kementerian Perindustrian Panggah Susanto kepada Rakyat Merdeka, Jumat (22/3).
Padahal, kata dia, banyak yang sudah mengajukan proposal pembangunan smelter. Namun, semuanya harus diseleksi lagi. Saat ini, dia sudah menandai bebeÂrapa perusahaan yang siap untuk melakukan pembangunan smelter.
Terkait usulan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) agar
smelter dibangun menggunakan Anggaran PendaÂpatan dan Belanja Negara (APBN), Panggah mengaku usulan itu beÂlum pernah dibahas.
Panggah mengaku sedang menyusun
roadÂmap PengÂembangan Industri BerÂbasis Mineral (Besi Baja, AluÂminium, Tembaga dan Nikel) sesuai Instruksi Presiden No. 3 Tahun 2013 tentang PerceÂpatan PeningÂkatan Nilai Tambah melalui Pengolahan dan PemurÂnian Mineral di Dalam Negeri.
Dia menjelaskan, dengan peÂmurnian di dalam negeri akan memberikan nilai tambah yang besar. Sebagai perbandingan, harga satu ton
iron ore 60 dolar AS. Nilai ini akan meningkat menjadi 350 dolar AS per ton apabila diolah menjadi
sponge iron dan 700 dolar AS per ton jika diolah lagi menjadi produk
slab atau
billet.
Bauksit seharga 17 dolar AS per ton akan meningkat nilainya menjadi 350 dolar AS per ton jika diolah menjadi alumina. Apabila diolah lagi menjadi aluminium, maka harganya akan meningkat menjadi 2.500 dolar AS per ton.
Untuk mineral nikel, harga Ni ore 25 dolar AS per ton. Apabila diolah menjadi FeNi dan baja tahan karat, maka nilainya akan meningkat masing-masing menÂjadi 2.574 dolar AS per ton dan 2.627 dolar AS per ton. Demikian pula untuk tembaga.
Pengolahan menjadi
concenÂtraÂte akan meningkatkan nilai menjadi 3.000 dolar AS per ton dibanding Cu Ore yang harga per tonnya 80 dolar AS per ton. Apabila diolah menjadi ingot, nilainya akan melambung lagi menjadi 8.000 dollar AS per ton.
Terkait masih sedikitnya
smelter yang siap pada 2014, Panggah mengaku optimistis akan rencana pelarangan ekspor bahan baku mentah tetap terlaksana sesuai waktunya. “Tetap dilarang, nanti penggaliannya sesuai deÂngan kebutuhan industri,†tegasnya.
Menteri Perindustrian (MenÂperin) MS Hidayat mengaku baÂnyak tekanan dari negara-neÂgara asing terkait rencana peÂmerintah menghentikan ekspor bahan baku mineral karena akan mengganggu industri dalam negeri negara terÂsebut.
Salah satunya, kata dia, adalah Jepang. Negeri Sakura itu protes karena akan kesulitan memÂperoleh pasoÂkan bahan baku nikel jika kebiÂjakan hilirisasi dan pelaÂrangan ekspor pada 2014 dilakÂsanakan.
“Mereka panik akan kesulitan bahan baku karena akan memÂbuat industrinya tidak berÂkemÂbang. Saya pernah dipanggil sama Pemerintah Jepang soal itu, ditegur sama Perdana Menterinya juga sudah soal kebijakan itu,†aku Hidayat.
Namun, akhirnya Jepang meÂnerima kebijakan itu dan berniat merelokasi industrinya ke dalam negeri. “Tujuan kita dengan kebijakan itu adalah menarik industri pengolahan mereka ke Indonesia dan menjadikan Indonesia sebagai pusat indusÂtrinya,†jelas dia.
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Wamen ESDM) Susilo Siswoutomo meÂngatakan, pihaknya menargetkan pembangunan 20
smelter untuk mendukung program hilirisasi pertambangan mineral.
Kebijakan tersebut, kata dia, sesuai dengan Undang-Undang No. 4 Tahun 2009. “Sekarang ada 154 proposal yang masuk, tapi kami akan mengevaluasi karena tidak perlu dibangun 154
smelter,†ujarnya.
Bagi dia, tidak perlu semua peÂrÂusahaan yang memiliki Izin UsaÂha Pertambangan (IUP) harus membangun pusat pengolahan, karena harus menyelaraskan deÂngÂan sumber energi yang ada. [Harian Rakyat Merdeka]