Kekayaan sumber daya alam (SDA) Indonesia ternyata tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan rakyat, bahkan rakyat yang berada di sekitar eksplorasi sekalipun.
Begitu dikatakan Sekretaris DPP IMM Dedi Irawan kepada Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Minggu, 24/3).
Ia mencontohkan tambang Freeport di Papua. Meski menjadi tambang penghasil emas terbesar di dunia, eksplorasi Freeport tidak serta merta membuat rakyat papua sejahtera, maju, dan mempunyai fasiliatas modern.
"Kekayaan alam papua diangkat dan dipindahkan, namun Papua tetap miskin, bersengketa dan bahkan meminta merdeka," lanjut Mahasiswa Pascasarjana Sains Fisik Kelautan UI itu.
Itu baru di Papua, katanya, ada lagi Newmont di Nusa Tenggara Barat. Tambang batu hijau yang semula gunung, kini menjadi kubangan sedalam 700 meter ke perut bumi. Tapi disatu sisi, kondisi rakyatnya tetap miskin dan bahkan rawan kekurangan gizi.
"Belum lagi tambang timah di belitung, Dan masih banyak lagi fenomena sumber daya alam melimpah, namun rakyat sekitar tetap miskin dan jelata. Yang didapat rakyat hanya kerusakan alam akibat eksplorasi, udara yang tercemar, dan tempat tinggal yang tergusur," lanjutnya.
Pencemaran, masih lanjutnya, menjadi dampak yang tersembunyi dan cenderung ditutupi. Bagaimana tidak, secara gamblang ratusan ribu ton limbah Newmont di buang ke laut, padahal laut merupakan tempat rakyat bergantung hidup. Sementara pemerintah seakan tutup mata dengan permasalahan itu.
"Lengkap sudah penderitaan rakyat, udara dicemari, tanah digusur, air diracun, laut dirusak," tukasnya.
Kondisi seperti ini memungkinkan opsi revolusi dan bahkan sampai opsi untuk memerdekakan diri terkadang menjadi jalan pintas yang diaanggap ampuh membebaskan penderitaan itu.
"Jika pemerintah tetap tidak segera sadar, mungkin tiba saatnya nanti setiap berpindah pulau tentu kita akan menggunakan 'passport'," demikian Dedi.
[ian]