Berita

masinton pasaribu/ist

Politik

PENYERANGAN LAPAS

Indonesia Saat ini Lebih Parah Ketimbang Zaman Militerisme Orba

SABTU, 23 MARET 2013 | 20:02 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Penyerbuan lembaga pemasyarakatan (Lapas) Sleman oleh pasukan bersenjata yang melakukan penembakan hingga menewaskan 4 (empat) orang tahanan adalah tindakan brutal yang harus dikutuk oleh seluruh elemen rakyat Indonesia.

"Kita tidak boleh mendiamkan penyerbuan brutal itu, jika kita mendiamkan maka esok atau lusa penyerbuan brutal yang dilakukan oleh pasukan bersenjata dan terorganisir tersebut bisa terjadi terhadap siapapun dan kapanpun," ujar Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional (DPN) REPDEM Masinton Pasaribu kepada Rakyat Merdeka Online (Sabtu, 23/3).

Dikatakan Masinton, Presiden SBY sebagai kepala negara dan pemerintahan harus bertanggung jawab atas tragedi brutal yang dilakukan oleh pasukan bersenjata tersebut. Kebrutalan pasukan bersenjata itu terjadi karena ketidakpercayaan terhadap penegakan hukum di Indonesia saat ini.


Sebelumnya pasukan bersenjata juga menyerbu kantor polisi di OKU, Sumsel, dan kini menyerbu Lapas Sleman, DIY.

"Kalau kita tarik ke belakang, atau tepatnya tahun 1997-1998, pasukan elit bersenjata juga pernah bertindak brutal melakukan penculikan terhadap aktivis pro demokrasi, dan hingga sekarang kasusnya tidak jelas, dan keberadaan aktivis yang diculik tidak diketahui sampai saat ini," lanjutnya.

Menurutnya, kasus penculikan 1997-1998 hanya memecat Letjen.Prabowo sebagai Komandan Jenderal Kopassus saat itu. Sementara kasusnya tidak dibawa ke Mahkamah Militer, bahkan sekarang Letjen.Prabowo yang dipecat karena kasus penculikan aktivis pro demokrasi 1997-1998 justru leluasa kampanye untuk pencalonan dirinya sebagai Capres 2014 nanti.

Jika Presiden SBY mendiamkan kasus penyerbuan brutal oleh pasukan bersenjata ke Lapas Sleman, dan tidak bergerak cepat mengusutnya, maka sejatinya negara Indonesia kini berada dalam situasi darurat yang kondisinya lebih parah dari zaman rezim militerisme orde baru Soeharto.

"Sekecil apapun benih-benih kebrutalan pasukan bersenjata harus dieliminir, jarum sejarah tidak boleh diputar mundur kembali ke jaman militerisme seperti masa orde baru Soeharto," demikian Masinton. [ian]

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

UPDATE

Kebijakan Energi Harus Seimbang dengan Perlindungan Daya Beli Masyarakat

Minggu, 26 April 2026 | 08:05

Lewat Seminar di Wonosobo, Jateng Nyatakan Perang Terhadap Hoaks

Minggu, 26 April 2026 | 07:36

Jemaah Haji Diminta Selalu Bawa Kartu Nusuk dan Dokumen Resmi

Minggu, 26 April 2026 | 07:32

Menkop Optimistis Kopdes Perkuat Ekonomi Masyarakat

Minggu, 26 April 2026 | 07:03

Narkoba Melahirkan Rezim TPPU

Minggu, 26 April 2026 | 06:42

KH Imam Jazuli: Kiai Transformatif Cum Saudagar Gagasan

Minggu, 26 April 2026 | 06:23

Pertemuan Prabowo-Kapolri Mengandung Makna Kebangsaan Mendalam

Minggu, 26 April 2026 | 06:03

Satu Keluarga dengan Lima Nyawa Melayang di Barito Utara

Minggu, 26 April 2026 | 05:48

Tanpa Kubu Tetap

Minggu, 26 April 2026 | 05:13

Pertemuan Menhan dengan Para Jenderal Bukan Sekadar Temu Kangen

Minggu, 26 April 2026 | 05:09

Selengkapnya