Berita

ilustrasi

Kasus Harrier Anas Urbaningrum Bikin Yulianis Nyengir Kuda

KAMIS, 21 MARET 2013 | 11:53 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Mantan Wakil Direktur Keuangan Permai Group, Yulianis, hanya bisa myengir kuda mengikuti kasus yang dituduhkan kepada Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum berkaitan dengan kepemilikan mobil Toyota Harrier.

Menurutnya, mobil itu dibeli mantan Bendahara Umum Partai Demokrat M. Nazaruddin dari rekening PT. Pasific Metropolitan. Sama sekali bukan dari rekening Hambalang.

Berikut ini adalah keterangan Yulianis yang dituliskannya di laman Kompasiana dan diposting subuh tadi (Kamis, 21/3).


SAYA sudah pernah dilidik oleh KPK mengenai mobil Harrier Anas, dan saya mejelaskan darimana asal muasal mobil Herrier tersebut. Tanggal 12 September 2009, Hasyim, adik Nazar mengambil uang cash dan cek untuk membayar mobil Harrier. Uang cash dari brankas operasional Rp150.000.000, dan cek PT Pasific Metropolitan dengan nomor cek EP 677964 sebesar Rp 520.000.000.

Saya mendapat perintah dari Neneng SW untuk mengeluarkan itu semua, cek Pasific ditulis sendiri oleh Neneng SW, saya hanya memberikannya ke Hasyim.

Uang yang ada di rekening PT Pasific, bukan berasal dari Hambalang, mana mungkin itu uang Hambalang. Sedangkan saya sendiri tahu proyek Hambalang baru Januari tahun 2011. Uang yang ada di rekening PT Pasific adalah proyek lain yang di kerjakan oleh Permai Group.

Saat sidik, keluarlah nama tersangka Dedy Kusnendar (Kepala Biro dan Keuangan Kemenpora, berstatus tersangka kasus Hambalang, Red), mobil Harrier tidak ditanyakan oleh penyidik, penyidik bilang saat itu Herrier tidak bisa masuk dalam Hambalang bu. Kan ibu sudah menerangkan ke kami kalo itu bukan uang Hambalang.

Saya sebagai orang yang tahu kondisi Herrier belum pernah disidik mengenai Harrier. Harrier baru dalam tahap Lidik (penyelidikan, Red), sehingga setiap KPK berbicara Herier berasal dari Hambalang, saya hanya nyengir kuda. Saya sampaikan kepada penyidik yang saya kenal, hati-hati kalo bicara di media, bukti yang ada tidak seperti itu, ini bisa menjadi bumerang untuk KPK.

Saya tidak peduli dengan gonjang-ganjing politik, dan saya malas untuk mengikuti kasus yang sedang saya hadapi di media, jadi saya tidak mau ambil pusing dengan langkah-langkah yang akan diambil KPK atas keterangan yang sudah saya berikan dahulu.

Rabu 13 Februari 2013, saat saya datang ke KPK untuk disidik kasus lain, bukan kasus Hambalang, 2 orang penyelidik Hambalang minta waktu untuk bicara menanyakan sesuatu kepada saya mengenai Harrier dan beberapa hal lain. Mungkin tidak ada niat penyelidik itu menekan saya, mereka hanya ingin mengetahui kebenaran dari uang Hambalang.

Dan saya merasa mereka tidak mempercayai apa yang saya bicarakan. Wajar, mungkin mereka berpikir saya pro-Anas. Akhirnya saya bicara kepada mereka. Jangan seret saya untuk ikut skenario yang sudah digadang-gadangkan, memaksa sesuatu yang tidak sesuai dengan bukti yang saya punya. Saya tidak mau menjadi kendaraan politik siapa pun. Pertanggungjawaban saya bukan ke Anda, bukan ke Manusia, tanggung jawab saya hanya ke Allah SWT. Jadi saya tidak takut mengatakan kalo KPK salah, jangan sampai KPK kalah di pengadilan karena kesaksian saya, karena saya dapat membuktikan aliran uang yang ada bukan dari Hambalang. Aliran uang itu meninggalkan jejak, dan saya dapat membuktikan sampai sekecil-kecilnya.

Saya tidak keberatan siapa pun yang salah menjadi tersangka, apabila ada bukti yang kuat dan kesaksian yang mendukung, tapi janganlah saya dibawa-bawa skenario jahat untuk menjatuhkan seseorang. Tujuan saya memberikan keterangan ke KPK sejujur-jujurnya dan sedetail-detailnya adalah untuk kepentingan pribadi.

Saya menganggap hidup saya dulu bergelimpangan dosa, apa yg saya lakukan sekarang untuk menebus dosa-dosa saya. Semoga Allah SWT meridhoi amiennnn. [dem]

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Jokowi Injak Kepala Kerbau saat Terima Gelar Adat Lampung, Apa Maknanya?

Selasa, 30 Juni 2026 | 18:21

Safari Politik Jokowi Bukti Kepemimpinan Gibran dan Kaesang Lemah

Selasa, 30 Juni 2026 | 18:21

Jokowi dan PSI, Duri dalam Daging Pemerintahan Prabowo

Selasa, 30 Juni 2026 | 18:09

Daftar Wilayah yang Berpotensi Terdampak El Nino 2026

Selasa, 30 Juni 2026 | 18:05

Keiko Fujimori Akhirnya Bernasib Sama Seperti Prabowo

Selasa, 30 Juni 2026 | 18:03

KPK Sebut 10 Orang Diamankan dalam OTT Kuansing

Selasa, 30 Juni 2026 | 17:57

Panitia Minta Jokowi Datang Setelah Acara Adat, Kunjungan Malah Batal

Selasa, 30 Juni 2026 | 17:50

Koperasi Beri Ruang Bagi Mahasiswa Berwirausaha

Selasa, 30 Juni 2026 | 17:37

Tutup Perdagangan Akhir Bulan: IHSG Merosot ke 5.643, Rupiah Loyo Dekati Rp18 Ribu

Selasa, 30 Juni 2026 | 17:28

Ketum AHY: Genap 25 Tahun, Partai Demokrat Ingin jadi Bagian Solusi

Selasa, 30 Juni 2026 | 17:19

Selengkapnya