.Anggaran subsidi energi yang mendekati Rp 300 triliun memang mengemaskan. Tapi menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) saat ini dinilai belum tepat. Karena, tingkat kepercayaan masyarakat ke pemerintah sangat rendah. Risiko politisnya besar.
Kepala Ekonom Danareksa Research Institute Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, subsidi BBM mencapai triliunan sangat beÂsar. Seharusnya, subsidi bisa diÂgunakan untuk membangun inÂfrastruktur agar ekonomi bisa tumÂbuh cepat.
Tapi menaikkan harÂga saat ini, menurutnya, belum teÂpat karena berisiko secara poÂlitis. BerÂdaÂsarkan survei ekoÂnoÂmi, kata dia, tingkat keperÂcaÂyaan masyarakat terhadap peÂmeÂrintah belum pada posisi level aman.
“Sekarang keadaannya (keperÂcayaan rakyat ke pemerintah-red) naik sedikit. Tapi levelnya jauh dari aman. Jadi kesimpulan saya meski membaik, tapi peluang peÂmerintah untuk menaikkan harga BBM itu belum aman. Jadi harus cari cara yang lain,†kata Purbaya di acara DisÂkusi dengan tajuk OpÂtiÂmaÂlisasi Peran Perbankan bagi PerÂekoÂnomian Nasional di Gedung Annex Sudirman, JaÂkarta, keÂmarin.
Selain itu, dampak menaikkan harga BBM bisa memperlambat laju pertumbuhan ekonomi. KeÂnapa? Sebab, sampai sekarang peÂmerintah masih belum bisa memÂbelanjakan anggaran dengan maksimal, khususnya untuk beÂlanja moÂdal. “Mengapa saya tidak setuju jika pemerintah naikÂkan harga BBM subsidi? Karena pemeÂrinÂtah masih belum bisa belanja. SeÂpanjang tahun uaÂng maÂsih meÂnumÂpuk, akhirnya haÂnya memperÂlamÂbat ekonomi saja,†imbuhnya.
Bila penyerapan bagus, meÂnurutnya, boleh saja BBM naik. Tapi untuk sekarang ini berÂbahaya.
Dia mengingatkan, untuk meÂnaikkan harÂga BBM tidak seÂmudah apa yang dikatakan MenÂteri KeÂuangan (Menkeu) Agus MarÂtowardojo. Saat itu dia meÂnegaskan jika harga BBM naik maka fiskal (anggaran negara) akan aman. “Kalau BBM naik, ekonomi jatuh,†timpal Purbaya.
Pemerintah bulan depan kaÂbarÂnya akan mengambil kebijakan meÂnyikapi proyeksi jebolnya kuoÂta BBM tahun ini. Badan KeÂbijakan Fiskal sudah memberikan masukan tiga opsi kebijakan keÂpada Presiden. Yaitu, menaikkan harga, melakukan pembatasan, dan kombinasi keduanya.
Ekonom Kepala PT Mandiri SeÂkuritas Destry Damayanti meÂmiliki pandangan berbeda dengan Purbaya. Dia menilai, kebijakan menaikkan harga BBM perlu dilakukan untuk menÂjaga keÂsinambungan pertumÂbuhÂan ekoÂnomi nasional yang cenÂderung mengalami penurunan.
“Satu-satunya opsi untuk meÂnyelamatkan perekonomian yang terkait dengan kesehatan APBN kita adalah menaikkan harga BBM bersubsidi,†ujar Destri di GeÂÂdung DPR Jakarta, kemarin.
Menurutnya, harga BBM berÂsubsidi Rp 4.500 per liter suÂdah tidak ideal untuk menopang kinerja perekonomian nasional. DisÂparitas harga antara BBM bersubsidi dan non-subsidi yang menyebabkan ketidakÂefiÂsienÂan penggunaan BBM berÂsubÂsidi. Kondisi ini jelas akan mempengÂaruhi kinerja ekonomi.
Tada tahun ini, Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APÂBN) mengÂalokasikan subsidi energi Rp 274,7 triliun. RinciÂannya, subsidi listrik Rp 80,8 triliun dan BBM Rp 193,8 triliun dengan asumsi volume konsumsi 46 juta kiloÂliter.
Namun demiÂkian, KeÂmenÂkeu memÂprediksi kuota BBM berÂsubsidi akan bertambah tujuh juta kiloliter (kl). Artinya pemerintah harus meroÂgoh tamÂbahan Rp 35 triliun. [Harian Rakyat Merdeka]