.Sejumlah pengusaha tidak keberatan dengan rencana pemerintah menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi. Beban subsidi energi mencapai Rp 274 triliun dinilai sudah terlampau besar. Namun, mereka berharap, kenaikannya jangan terlalu tinggi agar tidak menggangu iklim usaha.
Wakil Ketua Kamar Dagang Dan Industri (Kadin) Bidang UKM dan Koperasi Erwin Aksa mengatakan, kenaikan harga BBM tidak bisa ditolak karena pertumÂbuhan ekonomi cukup tinggi. MeÂnurutnya, pemerintah memerÂlukan anggaran besar untuk membangun infrastruktur dalam mengawal laju perekoÂnomian.
“Pelaku usaha di seluruh IndoÂnesia sangat membutuhkan pemÂbangunan infrastruktur. Itu harus direalisasikan. Kesuksesan pemÂbangunan itu menentukan nasib perekonomian nasional,†kata Erwin kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
Namun, Erwin berÂhaÂrap beÂsarÂan kenaikan harga BBM itu realisÂtis. Jangan sampai memÂÂbebani masyarakat. “Yang ideal naiknya 5 samÂpai 10 persen,†katanya.
Apakah pengusaha tidak terbeÂbani mengingat tarif dasar listrik (TDL) baru saja naik? Erwin menÂÂÂÂjawab, pemerintah sudah biÂcara dengan dunia usaha. PLN teÂlah memberikan keÂringanan dan membolehkan penguÂsaha memÂbayar dengan mencicil bila terÂbebani kenaikan TDL.
Wakil Ketua Kadin lain, AninÂdya Novian Bakrie meminta peÂmerintah tidak ragu mengambil kebijakan. “Rp 270 triliun itu buÂkan angka yang sedikit. Bila dana itu bisa dikurangi, bisa diÂpakai buat yang lain,†sarannya.
Sinyal pemerintah menaikkan harga BBM disampaikan Staf Khusus Presiden untuk PengenÂtasan KeÂmiskinan H.S Dillon, Kamis (14/3). Menurutnya, PreÂsiden sedang mempertimbangkan kenaikan harga BBM subsidi.
Dia memperkirakan, Presiden akan mengambil keputusan bulan April. Sekalipun tidak jadi naik April, Dillon memastikan keÂnaiÂkan akan dilakukan tahun ini karena pemerintah ingin keÂbijaÂkan diambil sebelum pemilu.
“Rencana kenaikan ini, bisa berubah bila parpol politik tidak setuju,†ujar Dilon.
Sinyal pemeÂrintah akan meÂnaikkan harga BBM juga disamÂpaikan Menteri Keuangan Agus Martowardojo. Dia menegaskan, pemerintah tidak takut mengÂamÂbil kebijakan untuk menjaga staÂbilitas ekonomi seperti meÂnaikÂkan harga BBM.
Menurutnya, naiknya suhu poliÂÂtik menjelang pemilu 2014 tidak akan menyurutkan langkah peÂmerintah mengambil kebijaÂkan tegas.
“Sesuatu yang bersifat politik akan terus jalan. Tapi untuk peÂnyehatan dan stabilisasi keÂuangÂÂan, itu harus terus dijaga,†kata Agus.
Ketua Umum Himpunan PengÂuÂsaha Muda Indonesia (Hipmi) Raja Sapta Okto juga mengaÂtakan, pihaknya tidak keberatan dengan rencana pemerintah. MeÂnurutnya, kenaikan harga BBM meÂmang akan membebani dunia usaha. Namun, pihaknya memaÂhami kebijakan itu karena beban subsidi sudah sangat besar.
“SubÂsidi BBM sangat besar terÂbuang sia-sia. Dana subsidi lebih baik digunakan untuk keÂpentingan pembangunan,†kaÂta Okto seraya berharap, besar keÂnaiÂkan dalam batas wajar seÂhingga perekonomian akan tetap tumbuh.
Dia menambahkan, bila harga BBM jadi naik, pemerintah harus membantu mengurangi beban rakyat kecil. Karena mereka yang paling terbebani.
Meskipun baÂnyak penguÂsaha setuju, kalangan dewan masih berat memberikan duÂkungan. Anggota Komisi VII DPR Dewi Aryani menilai, kenaikan harga BBM tidak
fair terhadap rakyat.
“Tidak fair kegagalan pemerinÂtah kelola pemerintahan, terÂutama kelola energi, rakyat yang diÂsuruh menanggungnya,†kata Dewi kepada
Rakyat Merdeka.
Dia meminta, pemerintah biÂcara jujur kepada rakyat, apa peÂnyebab sebenarnya ingin meÂnaikÂkan harga BBM.
Menteri Energi dan Sumber DaÂya Mineral (ESDM) Jero WaÂcik mengamini rencana keÂnaikÂan harga BBM.
“Kebijakan sedang disiapkan, karena banyak yang menilai harÂga BBM bersubsidi Rp 4.500 suÂdah tidak masuk hitungan keÂekonomian,†kata Wacik, Jumat (15/3).
Dia mengaku, pihaknya sedang mengkaji besarnya kenaikan. Namun, poltisi Demokrat itu keÂberatan menyampaikan waktu dan besaran kenaikannya. Dia bilang, kenaikan BBM subsidi pasti dilaÂkukan bila upaya pembatasan gagal dilakukan. [Harian Rakyat Merdeka]