Berita

Edhie Baskoro Yudhoyono/ist

Politik

Yulianis Diduga Beri Keterangan Palsu Soal Ibas

MINGGU, 17 MARET 2013 | 16:44 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Merebaknya pemberitaan soal pernyataan mantan Wakil Direktur Keuangan Grup Permai, Yulianis bahwa Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) menerima dana 200 ribu dolar AS proyek Hambalang saat Konggres Partai Demokrat di Bandung, Mei 2010, memunculkan presepsi yang spekulatif.
 
"Sebagai sebuah informasi silahkan saja, namun akan patah dengan sendirinya jika kita bisa runtut perjalanannya dari awal," tutur Peneliti Pusat Studi Pengembangan Demokrasi dan Masyarakat, Agus Setiabudi, kepada wartawan di Jakarta, Minggu (17/6).
 
Menurut Agus, fakta yang ada Ibas adalah faksi yang berseberangan saat berhadapan di Kongres Partai Demokrat di Bandung. "Jadi bagaimana bisa bahwa ada dana yang mengalir kepada Ibas seperti ucapan tak berdasar oleh Yulianis," tanya Agus.  
 

 
Belum lagi, lanjut Agus, fakta kedua Ibas bukan pemilik suara saat Kongres di Bandung karena yang punya hak suara adalah DPC, DPD dan DPP.

"Jadi apa hubunganya dengan jual beli suara jika itu yang menjadi motifnya," lanjutnya.
 
Selebihnya, tambah Agus, santer terdengar kabar bahwa Yulianis ini masih ada hubungan kerabat dengan salah satu orang yang sedang tersandung kasus Hambalang.  
 
Sejauh ini, masih lanjut Agus, Ibas tidak besar dan tumbuh dalam praktek politik transaksional.

"Bahkan berani kita tegaskan kalau dimanapun Ibas pasti dikerumuni banyak orang. Di situ saya jamin tidak ada peluang terbuka bagi seseorang melakukan komunikasi politik setengah kamar dengan saudara Ibas,” tegasnya.

Dikatakan Agus, justru patut dicurigai kuat jika Yulianis memberi keterangan palsu atas pernyataannya yang menuduh Ibas. "Ini proses hukum yang bergeser menjadi ajang lempar fitnah. Dan Ibas adalah pilihan buat lawan main untuk membalasnya," terang Agus.   
                            
Selanjutnya Agus menegaskan yang  harus di kejar adalah the man behind the gun alias siapa otak intelektual dari permainan fitnah ini. Paling kongkrit adalah percepatan proses penuntasan kasus Hambalang karena memang sudah terlalu lama dan memungkinkan memunculkan presepsi publik yang salah.
 
"Patut dicurigai juga ada kelompok atau oknum yang bermain dikeruhnya situasi saat ini untuk kepentingan politik atau bahkan kepentingan yang berbau duit. Biarlah waktu yang menjawab keadaan yang sesungguhnya dengan pendekatan fakta materiil bukan fitnah yang berbasis kebohongan teroganisir," demikian Agus. [ian]

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

UPDATE

Kebijakan Energi Harus Seimbang dengan Perlindungan Daya Beli Masyarakat

Minggu, 26 April 2026 | 08:05

Lewat Seminar di Wonosobo, Jateng Nyatakan Perang Terhadap Hoaks

Minggu, 26 April 2026 | 07:36

Jemaah Haji Diminta Selalu Bawa Kartu Nusuk dan Dokumen Resmi

Minggu, 26 April 2026 | 07:32

Menkop Optimistis Kopdes Perkuat Ekonomi Masyarakat

Minggu, 26 April 2026 | 07:03

Narkoba Melahirkan Rezim TPPU

Minggu, 26 April 2026 | 06:42

KH Imam Jazuli: Kiai Transformatif Cum Saudagar Gagasan

Minggu, 26 April 2026 | 06:23

Pertemuan Prabowo-Kapolri Mengandung Makna Kebangsaan Mendalam

Minggu, 26 April 2026 | 06:03

Satu Keluarga dengan Lima Nyawa Melayang di Barito Utara

Minggu, 26 April 2026 | 05:48

Tanpa Kubu Tetap

Minggu, 26 April 2026 | 05:13

Pertemuan Menhan dengan Para Jenderal Bukan Sekadar Temu Kangen

Minggu, 26 April 2026 | 05:09

Selengkapnya