Sejumlah kalangan mensinyalir mahalnya harga bawang putih bukan disebabkan faktor keterbatasan stok. Namun, ada tangan jahat yang sengaja memainkan harga untuk memuluskan impor. Komisi Pengawasan Persaingan Usaha (KKPU) sedang menyelidiki.
Harga bawang putih dua peÂkan belakangan ini menjadi soÂrotan tajam banyak kalangan. Pasalnya harga komoditas terÂsebut melonÂjak sampai berkali-kali lipat. Harga di pasaran samÂpai menemÂbus 80 ribu per kiloÂgram (kg). Padahal harga normal bawang sekitar Rp 12 samai 14 ribu per kg.
Tidak hanya bawang putih, baÂwang merah beberapa hari beÂlakangan ini pun ikut merangkak naik. Harga di pasaran Rp 50 sampai 70 ribu per kilogram. Harga normalnya, 15 ribu per kilogram.
Mahalnya harga bawang itu mengundang keprihatinan karena membebani masyarakat.Apalagi, sampai saat ini pemerintah belum mampu mengatasi mahalnya harga daging yang harganya terÂmahal di dunia.
Pengamat Ekonomi
Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati mensinyalir harga baÂwang mahal saat ini karena ada ketidakberesan dalam tata niaÂganya.
Dia menuturkan, memang seÂsuai hukum ekonomi, harga seÂbuah komoditas dapat melonjak bila terjadi ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan (supply and demand). Namun, daÂlam kasus bawang, dia tidak melihat ada masalah tersebut. “Saya melihat supply and deÂmand tidak ada masalah. KonÂdisinya biasa saja. Oleh sebab itu patut dicurigai ada pihak yang sengaja membuat bawang langka dan melakukan kontrol harga. Saya mau bilang, mereka yang curiga ada praktik kartel itu tidak salah,†kata Enny kepada
Rakyat Merdeka, kemarin.
Enny menuturkan, kasus harga sebuah komoditas pangan memÂbumbung tinggi bukan pertama kali. Seperti diketahui, beberapa tahun lalu, harga kedelai, cabai dan beras pernah terjadi. MenuÂrutnya, sepanjang tata niaga tidak dibenahi, potensi kasus serupa terulang kembali terbuka lebar.
Komisioner Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) TresÂna Priyana Soemardi memiliki kecurigaan sama. “KelangÂkaan komoditas pangan bukan baru pertama kali. Sangat mungkin modusnya sama,†kata Tresna.
Apalagi, kasus persekongkolan bisnis di negeri ini sudah kerap terjadi. Untuk membuktikan keÂcurigaan tersebut, pihaknya sudah membentuk tim dan kini sedang menyelidikiÂnya. Dia berjanji paling lama satu bulan hasilnya sudah bisa diÂketahui.
Ketua Dewan Hortikultura Nasional (DHN) Benny Kusbini memiliki penilaian lain. Dia mengaÂtakan, Kementerian PertaÂnian (Kementan) sudah mengaÂkui bahwa penyebab harga baÂwang melonjak karena terlambat mengeluarkan rekomendasi ImÂpor Produk Hortikultura (RIPH). Pertanyaannya, kenapa RIPH terÂlambat?
Dia mensinyalir, kaÂrena kuÂatnya tarik menarik pihak-pihak yang berkepentingan. Dia curiga, ada parpol tertentu yang ikut campur mengatur alokasi impor bawang.
Benny menyarankan, Presiden SBY mengevaluasi kinerja MenÂteri Pertanian Suswono. “KeÂmenÂterian Pertanian mengurusi hajat hidup orang banyak. Saya usulÂkan kementerian dipimpin orang yang bebas dari kepentingan poliÂtik,†pinta Benny.
Ketua Komisi IV DPR MochaÂmad Romahurmuzy belum lama ini menyampaikan kekecewaanÂnya dengan kelambanan KemenÂtan terbitkan RIPH. Karena meÂnurutnya, kelambanan tersebut bukan hanya menyebabkan harga bawang melambung. Tetapi juga telah dimanfaatkan importir naÂkal. Dia menilai, para importir terÂsebut bermain-main dengan keÂkosongan kebijakan dengan hanya menggunakan PemberitaÂhuan Impor (PI) dari KementeÂrian Perdagangan.
“Akibatnya, impor dilakukan justru oleh pelaku usaha yang buÂkan profesinya sehingga terjadi kegagapan pasar,†katanya. [Harian Rakyat Merdeka]