.Kelangkaan dan mahalnya harga bawang telah membuat dunia usaha kelojotan. Di sejumlah daerah, pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) yang mengandalkan bahan baku dari komoditas tersebut berhenti beroperasi. Bahkan, sebagian terancam bangkrut.
Di Kuningan, Jawa Barat, terÂpantau ada puluhan industri keÂcil yang memproduksi baÂwang goreng telah berhenti berÂoÂpeÂraÂsi. Penyuluh industri Agro DiÂnas Perindustrian dan PerdaÂgaÂngan Kabupaten KuÂningan Fidi Adi Nurjalil meÂnyatakan, pelaku usaha itu berhenti berproÂduksi karena kesulitan menÂdapatkan baÂhan baku.
“Sejak harga bawang merah naik menjadi Rp 40 ribu sampai Rp 50 ribu per kilogram, perlaÂhan-lahan industri bawang goÂreng pun berhenti beroperasi,†curhat Fidi, kemarin.
Selain pelaku usaha bawang goÂreng, pengrajin kerupuk di GreÂÂsik, Jawa Timur, juga terpuÂkul dengan mahalnya harga baÂwang. Pasalnya, komoditas terseÂbut menÂjadi salah satu bahan baÂku utama pembuatan krupuk. SamÂpai kini, terhitung ada 17 pengÂrajin di Desa Klangonan KeÂcaÂmatan Kebomas, Kabupaten GreÂsik, mengurangi produksinya untuk menekan pengeluaran.
Salah satu pengrajin krupuk, Nur Aini mengaku khaÂwatir akan bangkrut bila harga baÂwang tiÂdak segera turun. “Kalau meÂlamÂbung terus, kami bisa guÂlung tiÂkar,†keÂluhnya di GreÂsik, keÂmarin.
Akibat berkurangnya hasil proÂÂduksi, Nur kini tidak mampu meÂmenuhi permintaan para peÂlanggan setianya yang tersebar di berbagai kota.
DijeÂlaskannya, paÂda kondisi normal, seorang pengÂrajin keruÂpuk rata-rata mamÂpu memproÂduksi sebaÂnyak 30 kuinÂtal per minggu. NaÂmun, sejak harga baÂwang melonÂjak, para perajin meÂnurunÂkan proÂduksi hanya menÂjadi 15 kg per minggu.
Menurutnya, pengÂrajin tidak berani mengambil opsi menaikÂkan harga jual untuk menÂsiasasti kenaikan harga bahan baku. SeÂbab, tindakan itu dinilai terlalu berisiko. Pelanggan dikhawatirÂkan pindah ke produsen lain.
Nasib serupa dialami pengrajin bawang goreng di Tasikmalaya. Seorang pengrajin di daerah itu, Edi, mengatakan, sudah tiga mingÂgu tidak produksi. Empat orang anak buahnya kini prakÂtis kini menggangur. SebeÂlum harga baÂwang naik, Edi rata-rata mampu memproÂduksi baÂwang goreng tuÂjuh kuinÂtal per hari.
Edi mengisahkan, dia sudah menÂjadi produsen bawang goÂreng 10 tahun. Dalam kurun wakÂtu itu, baru pertama kali dia berÂhenti beroÂperasi.
Wakil Sekretaris Jenderal AsoÂsiasi Pengusaha Indonesia (ApinÂÂdo) Franky Sibarani meminta peÂmerintah bertanggung jawab terÂhadap dampak yang diakibatÂkan mahalnya harga bawang. SeÂlain menurunkan harga, menurutÂnya, pemerintah harus membantu keÂlangsungan UKM yang mengÂalami kesulitan.
“Mereka yang terancam bangÂkrut harus dibantu agar tetap bisa jalan. Apalagi memÂbantu UKM merupakan kewaÂjiban pemerinÂtah,†kata Franky kepada
Rakyat Merdeka di JaÂkarta, keÂmaÂrin.
Franky meminta, pemerintah bisa lebih cepat menormalkan harga bawang. Sebab, semakin lama stabilisasi harga dilakuÂkan, maka bakal semakin baÂnyak UKM yang gulung tikar.
Harga baÂwang melonjak berÂkali-kali lipat dua pekan belaÂkaÂngan ini. Harga bawang putih di pasaran sampai menembus Rp 80 ribu per kg. Sedangkan harga bawang merah Rp 50 per kg. HarÂga normal kedua jenis baÂwang itu sebelumnya hanya Rp 10-15 ribu per kg. [Harian Rakyat Merdeka]