Berita

ilustrasi/ist

Bisnis

China Ogah Renegosiasi Harga Jual Gas Tangguh

Pengamat Minta Harganya Dibuat Sesuai Pasar Internasional
SELASA, 12 MARET 2013 | 08:09 WIB

.Nasib renegosiasi harga gas dari lapangan Tangguh Papua ke China belum jelas. Hingga kini Negeri Tirai Bambu itu belum mau menyetujui kenaikan harga beli gas tersebut. Indonesia terus merugi.

Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan, pemerintah sedang berjuang keras untuk menaikkan harga penjualan gas Tangguh ke Fujian, China. Saat ini sedang dibuat formula renegoisasi harga gas itu.

Kendati begitu, pria berambut perak ini belum mau membocorkan berapa harga baru yang akan diajukan Pemerintah Indonesia ke Pemerintah China.


Seperti diketahui, harga ekspor gas tersebut hanya 3,35 dolar AS per Million Metric British Thermal Units (MMBTU). Sementara harga pasar saat ini sudah berkisar 13-15 dolar AS per MMBTU dan Indonesia Crude Price (ICP) menembus 114 dolar AS per barel.

Artinya, ada selisih harga kontrak dan harga pasaran sekitar 10 dolar AS per MMBTU.

“Proses renegosiasi harga gas Tangguh sesuai mekanisme yang ada. Tapi untuk harga 3 dolar AS itu terlalu jauh. Saya harap akan meningkat harganya,” ujar Hatta kepada Rakyat Merdeka seusai menjadi pembicara dalam Kuliah Umum di Kampus Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta, akhir pekan lalu.

Saat ini, Hatta mengaku sedang mendesain formula khusus yang bisa menguntungkan Indonesia sebagai pengekspor dengan harga setinggi-tingginya. Pihaknya, tidak hanya fokus pada kenaikan harga, tapi meminta China mau mengikuti formula yang diajukan pemerintah. Seperti formula dengan Korea, Jepang dan Taiwan. Jadi normal bisnis.

“Inginnya harga bisa tinggi mengikuti formula yang nanti bakal ditetapkan, termasuk seiring dengan harga minyak mentah Indonesia,” harapnya.

Hatta mengakui, proses renegosiasi harga tersebut akan ketat karena China juga akan bertahan dengan formulanya. Namun, dia memastikan pemerintah akan berusaha keras menaikkan harga gas.

“Kita harus berani melakukan itu (menaikkan harga gas). Saya harap akan meningkat,” tegasnya.

Menurutnya, negosiasi sangat penting untuk menentukan harga dalam kontrak Liquefied Natural Gas (LNG) Tangguh ke Fujian.

“Dari Fujian berharap bisa beli gas dengan harga semurah-murahnya, sedangkan Indonesia beli gas sendiri saja sudah mahal. Di sinilah perlunya negosiasi dan dukungan lawyer yang kuat,” tandas politisi PAN itu.

Pengamat energi dari Reforminer Institute Komaidi Notonegoro mengatakan, harga gas Tangguh ke China sebesar 3 dolar AS per MMBTU terlalu murah
dibanding harga minyak saat ini.

Karena itu, dia berharap pemerintah bisa menyakinkan China untuk menaikkan harga.
Komaidi juga berharap, dalam renegosiasi tersebut, pemerintah tidak membuat flat harga jualnya seperti yang terjadi saat ini. “Percuma saja jika harga dinaikkan
namun dibuat flat . Nanti pas harga minyak naik lagi, masa kita harus
renegosiasi lagi,” katanya.

Menurutnya, yang harus dibuat pemerintah saat ini adalah harga jual disesuaikan dengan harga minyak dunia, sehingga ketika harga minyak naik, harga gas juga menyesuaikan. “Harus dibuat ngambang dan fleksibel agar Indonesia tidak rugi,” jelasnya.

Deputi Pengendalian Komersial Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Widhyawan Prawiraatmadja mengatakan, pihaknya telah mengirim delegasi pendahuluan renegoisasi harga gas Fujian ke Beijing belum lama ini. Langkah itu ditempuh untuk menyampaikan rencana pemerintah Indonesia terkait price review kontrak LNG Tangguh ke Fujian.
Setiap tahun, volume kontrak ekspor LNG Tangguh ke Fujian mencapai 2,6 juta ton dengan menggunakan formula batas atas (ceiling price) harga minyak
mentah sesuai patokan Japan Cocktai Crude (JCC).

Pihaknya juga sudah bertemu dengan perusahaan China National Oil Offshore Corporation (CNOOC)untuk menyampaikan rencana tersebut. “Usulan perubahan klausul kontrak baru secara resmi akan disampaikan Mei 2013,” ujar Widhayawan.
Dikatakan, Mei adalah waktu yang telah ditentukan untuk melakukan price review. Selanjutnya, kedua pihak akan duduk bersama membahas berapa harga yang pantas dalam proses negosiasi sampai ada kecocokan harga.

Widhayawan belum mau membocorkan formula harga baru yang diajukan pemerintah. Dia juga enggan memaparkan berapa batas atas dan batas bawah harga LNG ke Fujian yang selama ini diterapkan bakal dilepas. Yang jelas, pemerintah akan meminta kenaikan harga. [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

UPDATE

Selengkapnya