.Harga daging sapi di pasaran masih sangat tinggi sehingga merugikan pedagang. Pemerintah diminta segera mengambil kebijakan konkret untuk menurunkan harga komoditas tersebut.
Sekjen Asosiasi Pedagang PaÂsar Tradisional Ngadiran meÂngaÂtakan, saat ini harga daging di paÂsaran masih bertengger di Rp 90 ribu per kilogram (kg).
“Berbagai langkah yang sudah dilaÂkukan pemerintah belum ada yang berhasil menurunkan harÂga daging sejak Desember tahun lalu. Padahal, harga daging yang ideal itu kisaran Rp 60-70 ribu per kg,†ujarnya kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
Akibat tingginya harga daging, para pedagang harus mengalami kerugian karena pembelinya berÂkurang. Rata-rata kerugian yang ditanggung pedagang daÂging 10 persen.
“Selama ini operasi pasar yang dilaÂkukan pemerintah hanya tuÂrun ketika menteri datang (sidak-red). Ketika menteri pulang, harÂganya naik lagi. Jadi (kunjungan menteri) nggak ngaruh,†ungkap Ngadiran.
Ketua Asosiasi Pedagang DaÂging Indonesia (APDI) Asnawi meÂÂngatakan, saat ini anggotanya rata-rata menjual harga daging Rp 90-100 ribu per kg. Masih tingÂÂginya harga jual tersebut kaÂrena para pedagang membeli dari rumah pemotongan hewan (RPH) juga sudah tinggi.
“Jika dijual di bawah harga terÂsebut, itu jual rugi. Dengan jual Rp 95 ribu per kg saja pengusaha rata-rata hanya memperoleh keÂunÂtuÂngan 3 persen,†paparnya.
Asnawi mengatakan, kenaikan harÂÂga yang saat ini terjadi tidak dinikÂÂmati para pedagang. Justru, yang menikmati adalah para peÂngusaha yang tergabung di AsoÂsiasi Produsen Daging & Feedlot IndoÂnesia (Apfindo). PasalÂnya, RPH di JaboÂdetabek dikuasai meÂreka seÂhingÂga para pengusaha biÂsa meÂmainÂkan harga seenaknya.
“Mereka biasaÂnya imÂpor sapi dari AusÂtralia dan digemukan, lalu diÂsuplai ke RPH,†jelasnya.
Menurut Asnawi, kenaikan harÂga saat ini juga diseÂbabkan kenÂdala transportasi dalam pengangÂkutan sapi dari sentranya di Nusa TengÂgara Barat (NTB) dan Nusa TengÂgara Timur (NTT).
“Perlu dipercepat pembaÂnguÂnan alat transportasi khusus untuk peÂngangkutan sapi tersebut yang diÂjanjikan pemerintah,†katanya.
Dia memprediksi, kenaikan harÂga akan tetap berlangsung hingÂga pertengahan tahun. Sebab, pemÂbangunan transportasi khuÂsus itu baru bisa berjalan pada Mei.
Ketua Komisi IV DPR RomaÂhurÂmuziy meminta pemerintah seÂgera menurunkan harga daging saÂpi di pasar yang dinilai sudah meÂlebihi daya beli masyarakat.
“Sebagai wakil rakyat, kami melihat kepentingan utama saat ini adalah menekan harga yang suÂdah di luar jangkauan maÂsyaÂrakat,†katanya.
Dia menyadari, pemerintah saat ini dihadapkan pada dua piliÂhan yang sama pentingnya, yaitu meÂngejar target swasemÂbada daging sapi 2014 atau menekan harga yang semakin melambung tinggi.
Namun, yang jadi perhatian utaÂÂma sekarang adalah level harÂga daging sapi yang terus naik sejak Idul Fitri tahun lalu, dan itu harus dapat diturunkan.
Menurut politisi Partai PersaÂtuan Pembangunan (PPP) itu, harÂÂga daging sapi yang terlalu tinggi dapat merugikan banyak piÂÂhak, antara lain peternak dan konÂsumen.
Apabila pemerintah biÂsa menjamin harga daging sapi dapat ditekan dengan posisi imÂportasi sekarang, maka kebiÂjakan itu harus dipertahankan. Jika tiÂdak, berarti kuota impor mungÂkin perlu ditinjau kembali.
Menteri PerÂtaÂnian (Mentan) Suswono meÂngaÂÂtakan, tingginya harga daging di pasaran telah meÂrangÂsang para peternak meÂningkatkan produksi. Dengan berÂgairahnya para peÂterÂnak dalam meningÂkatkan poÂpuÂlasi sapi di sejumlah daerah, ada implikasi positif bagi IndoÂneÂsia untuk mengatasi keterganÂtungan impor.
Hingga kini, sapi peternak keÂtika sampai RPH dijual di kisaran Rp 6 juta. Padahal, sebeÂlumnya sempat anjlok hingga Rp 4 juta.
Suswono menjelaskan, tingÂginya harga sapi saat ini memang mengÂuntungkan para peternak. Namun, RPH atau tukang jagal cukup terÂpukul, akiÂbat kesulitan menenÂtuÂkan mekaÂnisme harga daging sapi potong yang dijual ke pasar-pasar. [Harian Rakyat Merdeka]