Anggota Komisi VII DPR Dito Ganinduto meminta pemerintah untuk segera mengambil kebijakan mengantisipasi defisit neraca perdagangan yang disebabkan tingginya impor migas.
“Harus ada kebijakan mengatasi tingginya impor migas, meskipun kebijakan itu tidak popular,†ujar Dito kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
Apalagi, kata politisi Partai Golkar itu, jatah alokasi bahan BBM tahun ini akan melebihi kuota yang sudah ditetapkan sebesar 46 juta kiloliter (KL) dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Bahkan, diprediksi kuota akan tembus 48 juta KL dan setiap tahun cenderung mengalami kenaikan.
Ditambah, harga minyak dunia terus mengalami kenaikan dan sudah di atas 100 dolar AS per barel. Padahal, dalam APBN pemerintah menetapkan harga minyak 100 dolar AS per barel.
Menurut Dito, jika tidak ada keputusan soal masalah migas ini maka defisit perdagangan akan terus terjadi. Kondisi itu tentu berdampak pada pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan, konsep konversi energi alternatif seperti gas dapat mengurangi tekanan impor migas yang menyebabkan defisit neraca perdagangan.
“Untuk konversi saya masih ragu kalau realisasinya terus terhambat seperti sekarang padahal itu bisa mengurangi impor, namun saat ini masih jauh dari harapan,†kata Ketua Umum PAN ini.
Tahun ini, kata dia, pemerintah memang akan mengendalikan impor migas agar tidak menyebabkan defisit perdagangan. Jika sektor migas bisa dikendalikan, kemungkinan antara sektor migas dan non migas akan seimbang.
Hatta mengatakan, jika sektor migas bisa surplus, maka pengaruhnya terhadap pertumbuhan ekonomi sangat besar. Neraca pembayaran masih surplus karena didorong oleh transaksi modal dan keuangan yang semakin naik.
Selain itu, konsumsi elpiji mencapai di atas 5 juta ton per tahun untuk tabung ukuran 3 kilogram (kg), 12 kg dan 50 kg. Sementara produksi domestik hanya berkisar 2 juta ton per tahun. Dengan demikian, lebih dari separuh kebutuhan gas domestik masih diimpor.
“Sekarang harga meningkat sampai 917 dolar AS per metrik ton, atau dirupiahkan Rp 10.064 per kg,†jelas Hatta.
Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi menambahkan, defisit neraca perdagangan sangat dipengaruhi impor minyak. [Harian Rakyat Merdeka]