Produksi karet nasional berÂpotensi anjlok. Hal ini terÂjadi kaÂrena cuaca yang kurang berÂsahabat.
Sekretaris Gabungan PenguÂsaha Karet Indonesia (Gapkindo) Sumatera Utara (Sumut) Edy IrÂwanÂsyah memprediksi, potensi penurunan produksi karet nasioÂnal untuk periode Maret-Mei menÂcapai 200 ribu ton.
“Ada dua beÂlahan wilayah di Indonesia yang menjadi sentra produksi karet. Yaitu wilayah InÂdonesia Utara dan Indonesia SeÂlatan. Kedua wiÂlayah itu kini meÂngalaÂmi ganggu cuaca,†katanya, akhir pekan lalu.
Untuk Indonesia utara seperti di Sumatera Utara, produksi terÂganggu karena perubahan iklim menyebabkan tanaman karet guÂgur daun.
Sementara di wilayah IndoÂnesia selatan seperti SumaÂtera Selatan, Jambi dan LamÂpung, porduksi terganggu karena inÂtensitas hujan yang tinggi.
“Sumatera Utara merupakan proÂdusen terbesar ke dua di InÂdoÂnesia, tentu menurunnya proÂdukÂsi di wilayah itu mempeÂngaruhi proÂÂduksi nasional,†kata Edy.
Menurutnya, dampak paling beÂrat dari perubahan iklim dialaÂmi di sentra produksi di Sumatera Selatan. Sebab, baÂnyak pabrik karet berada pinggir Sungai MuÂsi. Curah huÂjan yang tinggi memÂbuat pabrik-pabrik kaÂret terenÂdam banjir seÂhingga sempat samÂpai berhenti berproÂduksi.
Persoalan yang dihadapi petani karet tidak hanya itu. Petani di KecaÂmaÂtan Rao Utara, KabuÂpaÂten PasaÂman, Sumatera Barat, Ismail mengungkapkan, kurang bersaÂhaÂbatnya cuaca menyeÂbabkan harga karet anjlok.
Biasanya harga karet Rp 10 riÂbu per kg, kini haÂnya dihargai Rp 7 ribu per kg.
Penurunan harÂga disebabÂkan kualitas karet yang dinilai kurang bagus.
“Sejak banjir bandang akses ke tempat kami sempat terputus seÂlama seminggu. Hal ini membuat harga karet hasil kebun kami saÂngat murah,†kata Ismail.
Yang tambah menyedihkan, lanjut Ismail, banjir menghamÂbat produksi. Biasanya dalam satu minggu, setiap satu hektar lahan petani bisa menghasilkan 200 kg karet.
Tapi sekaÂrang hanya satu kali. Bahkan seÂring tidak sama sekali memanen karena karet di dalam cawan peÂnampungan haÂnyut terbawa air.
“Beban petani semakin berat karena pada musim hujan. PeÂnamÂpung karet tidak mau menÂdatangi pemukiman petani. SeÂhingga para petani harus memÂbawa sendiri ke pasar untuk menÂjualnya,†curhat Ismail.
Hal ini, menurutnya, tentu meÂÂnambah biaÂya pengeluarÂan. Dari rumah peÂtani ke pasar berÂjarak 25 kiloÂmeter. [Harian Rakyat Merdeka]