.Rencana pemerintah mengkonversi bahan bakar minyak (BBM) ke bahan bakar gas (BBG) tahun ini berjalan lamban. Pemerintah dianggap hanya melempar wacana karena kegagalannya pada tahun-tahun sebelumnya.
“Itu hanya lagu lama. Program ini pernah dicanangkan pada 2005, namun belum juga berhasil,†ujar pengamat energi Dirgo Purbo di Jakarta, akhir pekan kemarin.
Mengenai konversi yang bertuÂjuan menghemat BBM, meÂnurut Dirgo, memang upaya yang bagus. Namun, dalam pelakÂsanaan konÂversi ini harusnya ada kejelaÂsan. Semua penghematan BBM bagus, namun harus terukur ketika menÂcanangkan konversi tersebut.
Menurut Dirgo, konversi BBM ke BBG harus ada kejelasan siapa dulu yang akan menggunakan BBG. Dengan ada kejelasan siapa yang menggunakan BBG, akan mendorong keberhasilan konÂverÂÂsi tersebut. “Misalnya, mobil diÂnas pemerintah dulu yang diÂkonÂversi. Kalau sudah terukur seperti ini harus dihayati, bukan sekadar proyek,†tekannya.
Wakil Direktur Eksekutif ReÂfomainer Energi Komaidi NotoÂnegoro mengatakan, sebaikÂnya pemerintah melakukan perÂsiapan yang lebih matang jika berniat mengubah pola konsumsi masÂyarakat terhadap penggunaan BBM bersubsidi.
“Pemerintah saya kira jangan banyak bicara dan wacana saja. Lebih baik disiapkan dengan maÂtang, diimplementasikan dan baru disampaikan ke publik,†kata Komaidi.
Menurut dia, pemerintah harus bekerja lebih giat selain ada tinÂdakan nyata jika menginginÂkan masyarakat menerima kebiÂjakan konversi BBM ke BBG. PersoalÂan tidak akan selesai dengan haÂnya banyak wacana.
Namun, Wakil Menteri Energi Dan Sumber Daya Mineral (WaÂmen ESDM) Susilo Siswoutomo mengatakan, tim percepatan telah dibuat dan bekerja sama dengan swasta guna mengoptimalkan sasaran implementasi konversi.
“Kita sudah gandeng PT PeruÂsahaan Gas Negara Tbk (PGN), PT Pertamina dan swasta seperti Medco, serta Himpunan WirasÂwasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas),†ujarnya.
Susilo mengatakan, sasaran aksi percepatan ini, Stasiun PeÂngisian Bahan Bakar Gas (SPBG) akan segera diwujudkan atau melakukan revitalisasi Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).
“Nanti harus dipastikan SPBG bisa terintegrasi dengan SPBU lewat bantuan Hiswana Migas atau PGN yang membangung SPBG
online,†katanya.
Dengan demikian, katanya, reaÂlisasi program tersebut akan diÂlihat masyarakat sehingga proÂyek konÂversi ini berhasil diÂmakÂsimalkan. Opsi-opsi aksi perÂceÂpatan juga diÂproyeksi bakal memÂbangun pipa gas guna diÂdisÂtribusikan langÂsung ke setiap SPBG yang sudah terinÂtegrasi di SPBU.
Bagikan Converter KitGuna memaksimalkan kebijaÂkan konversi BBM ke BBG, Kementerian ESDM membaÂgikan
converter kit untuk kendaÂraan umum, taksi dan mobil dinas pemerintah dan Pemerintah DaeÂrah (Pemda).
Direktur Pembinaan Usaha HiÂlir Minyak dan Gas Bumi Ditjen Migas Kementerian ESDM Umi Asngadah menjelasÂkan,
converter kit akan dibagikan di PalemÂbang dan Surabaya dengan maÂsing-masing alat konversi 1.000 unit. Sementara untuk JabodetaÂbek sebesar 2.000 unit.
“Kita sudah koordinasi deÂngan Kepala Dinas Perhubungan seÂtempat,†kata Umi.
Umi menjelaskan, pembagian
converter kit tambahan itu dilaÂkukan untuk meningkatkan minat masyarakat menggunakan BBG agar pengelola SPBG dapat meraup keuntungan.
Saat ini, pihaknya tengah melaÂkukan proses lelang pengaÂdaan
converter kit. Total anggaran unÂtuk kegiatan ini sekitar Rp 70 miÂliar. Selain Kementerian ESDM, tahun ini Kementerian PerindusÂtrian (KeÂmenperin) juga akan memÂÂbagikan sekitar 14.000
converter kit untuk kendaraan umum.
Sebagai informasi, pemerintah berencana melakukan konversi BBM ke BBG dengan tujuan unÂtuk menekan konsumsi BBM berÂsubsidi. Rencana itu sempat gagal dilaksanakan sesuai target pada 2012 karena terbentur anggaran.
Badan Penelitian dan PengemÂbangan Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (Balitbang ESDM) sebelumnya menguÂsulÂkan pembuatan SPBG untuk kendaraan dinas kementerian, dengan nilai investasi sebesar Rp 5-10 miliar. [Harian Rakyat Merdeka]