Berita

Penangkaran Penyu

On The Spot

Diambil Dari Partai, Ditetaskan Di Boks

Berkunjung Ke Penangkaran Penyu Di Pariaman
MINGGU, 03 MARET 2013 | 08:42 WIB

Dini hari Kasterli menyisir pantai dari Ketaping sampai Naras. Di kegelapan malam ia mencari jejak-jejak di pasir.

“Cari telur. Harus pagi, kalau sudah siang telurnya bisa mati,” kata petugas konservasi penyu Kota Pariaman.

Pantai yang membentang dari Ketaping, Kabupaten Padang Pariaman sampai Naras di Kota Pariaman, Sumatera Barat merupakan tempat penyu-penyu bertelur. Desember-Januari merupakan musim penyu bertelur dan berangsur berkurang sampai Maret.


Pada musim bertelur, Kasterli menyisir pantai untuk mencari telur penyu. Telur-telur itu lalu dibawa ke penangkaran penyu di Kawasan Konservasi Laut Pantai Ampalu, Apar, Pariaman Utara, Kota Pariaman.

Di penangkaran, telur-telur penyu ditaruh di tempat penetasan. Tempat penetasan berupa boks berukuran 30x60 cm dari styrofoam yang diisi dengan pasir. Telur-telur itu dikubur di pasir.

Di boks itu dilampirkan sejumlah data mulai daerah telur ditemukan, tanggal peneluran, jumlah telur, tanggal perkiraan menetas, perkiraan spesies penyu, dan nama petugas yang mengubur penyu itu.

Biasanya, telur penyu menetas setelah 58 hari. Setelah menetas, bayi penyu atau yang biasa disebut tukik dibiarkan di pasir selama satu jam. Setelah itu dipindahkan ke ruang karantina. Di sini, penyu-penyu dipisahkan berdasarkan jenisnya.  Ada jenis penyu hijau, lekang dan sisik.

Setelah berusia enam bulan, penyu dipindah ke kolam pembesaran. Kolam ini juga biasa disebut kolam sentuh. Pengunjung yang datang ke penangkaran ini bisa menyentuh penyu-penyu yang ada di kolam ini.

Menurut Kasterli, tempat penetasan telur yang paling banyak adalah di pantai. “Kalau di pantai banyak predator,” ujarnya.

Telur-telur penyu ini bisa jadi santapan kepiting, burung hingga biawak. Juga jadi incaran manusia yang mengambil telur penyu ini untuk diperjualbelikan.
Ada kalanya, telur-telur penyu dibiarkan menetas alami di pantai. Untuk mencegah telur penyu dimakan predator, sarang dibongkar. Telur dikeluarkan. Sarangnya lalu dilapisi styrofoam. Telur dimasukkan kembali dan ditimbun dengan pasir.

Upaya melestarikan penyu yang dilakukan pusat penangkaran ini bukan hanya menyelamatkan telur di pantai, tapi juga melakukan “razia” terhadap pemburu telur.

Pencarian terhadap pemburu telur penyu dilakukan hingga pulau-pulau kecil Pariaman.  Dalam pencarian pemburu telur ini, petugas penangkaran dibantu polisi perairan. “Ke pulau dua atau tiga bulan. Kita juga cari nelayan yang suka mengambil telur penyu,” kata Kasterli.

Petugas membeli telur penyu dari pemburu. “Kita ganti uang jasa warga. Telur buru-buru kita bawa ke penangkaran,” ujarnya.

Jumat lalu, Rakyat Merdeka berkunjung ke penangkaran penyu di kawasan konservasi laut Apar, Pariaman Utara, Kota Pariaman. Di sini hanya ada dua bangunan: kantor dan tempat penangkaran.

Ruang penangkatan berukuran 8x5 meter. Di sini menjadi tempat penetasan hingga pembesaran penyu. Empat puluh kotak styroam disusun berdempetan. Kotak-kotak itu berisi telur-telur penyu yang diselamatkan dari pantai. Juga ada tong-tong plastik yang di dalamnya terdapat tukik.

Kepala Pusat Konservasi Penyu Citra mengatakan penangkaran ini dibuat pada 2009 lalu. Berdiri di atas lahan seluas 8 hektar. Selama ini penangkaran ini dikelola empat pegawai negeri sipil dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Pariaman. Dibantu dua tenaga teknik. Keduanya berstatus kontrak.
Menurut Citra, pihaknya akan menambahkan fasilitas di tempat ini. Selain jadi tempat penangkaran, kawasan konservasi ini sebagai tempat wisata.

Rencananya, di sini akan dibangun semacam Sea World yang menampilkan keanekaragaman hayati laut.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Pariaman, Yanrileza membenarkan rencana. Sea World itu akan mulai dibuka tahun depan.

Lokasinya persis di samping tempat penangkaran penyu. Biaya pembangunannya diperkirakan menghabiskan Rp 2 miliar.

“Tidak hanya penyu nanti yang ada di situ (Sea World) tetapi seluruh binatang laut akan ada di dalamnya,” katanya.

Pengamatan Rakyat Merdeka, pondasi bangunan sudah dibangun di sebelah kanan tempat penangkaran penyu. Puluhan tiang yang nantinya akan menjadi pagar telah berdiri.

Buka 6 Lokasi Penangkaran Selamatkan 15 Ribu Penyu

Pemerintah Provinsi Sumatera Barat menargetkan penangkaran sekitar 15.000 ekor penyu selama 2013.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumatera Barat Yos Meri mengatakan lokasi penangkaran tersebar di sejumlah pulau di pantai barat Sumbar.

“Lokasinya di Pulau Karabak Ketek, Pulau Penyu di Kabupaten Pesisir Selatan, Pulau Piyeh dan Desa Apar di Kabupaten Padangpariaman, Pulau Bindalang, Pulau Pisang, dan pulau-pulau di sekitar Sikuai,” katanya.

Menurutnya, pada tahun lalu sekitar 6.000 anak penyu telah dilepas di kawasan pantai Padangpariaman, dan 2.000 di pesisir Selatan.

Penangkaran penyu tersebut dilakukan sebagai salah satu cara melestarikan populasi hewan dilindungi tersebut. Apalagi telur-telur penyu tersebut diperdagangkan secara bebas.

Ia mengatakan, dalam setahun di masing-masing pulau hanya terdapat 2-5 ekor penyu yang bertelur dengan jumlah terbanyak 120 butir.

Menurunnya jumlah penyu dan telurnya itu disebabkan maraknya penangkapan dan perdagangan telurnya oleh warga yang berdomisili di pulau-pulau tersebut.

Untuk mengurangi eksploitasi telur penyu, lanjut dia, upaya yang dilakukan pemerintah adalah melakukan pendekatan dan membeli seluruh telur dari warga yang tinggal di pulau tersebut seharga Rp 2.000 per butir.

“Kalau dijual kepada orang lain, pasti akan dijual kembali, namun jika dijual kepada pemerintah, telur itu dapat ditetaskan untuk menjaga populasinya,” katanya.

Selain itu, pemerintah juga berupaya untuk memberikan kegiatan lain berupa usaha kepada warga yang biasa menjual telur penyu, sehingga tidak lagi menjual telur tersebut.

“Di kawasan Pantai Air Manis hal itu sudah dilakukan terhadap penjual terumbu karang yang dijadikan hiasan. Mereka sekarang sudah berhenti, kalau ini dilakukan terhadap penjual penyu, diharapkan bisa berhasil,” katanya.

Harganya Mahal, Dijual Ke Padang

Sejak beberapa tahun lalu Pemerintah Kota Pariaman melarang jual beli telur-telur penyu. Langkah ini untuk melestarikan hewan laut itu.

Yeti, Kepala Humas Kota Pariaman memastikan tidak ada lagi penjualan telur penyu di wilayahnya. Mereka yang ketahuan mengambil telur penyu maupun diperjualbelikannya akan diberi penyuluhan.

Ia menuturkan, pada 2009 di sepanjang pantai di Kota Pariaman berjejer pedagang telur penyu. Dulu dijualnya Rp 3 ribu sudah direbus. Banyak di pinggir pantai,” katanya.

Mulai 2011, Pemerintah Kota melarang, jual beli telur penyu. Telur-telur penyu yang dijajakan pedagang dibeli Rp 3 ribu per butir. “Kita imbau hewan penyu sudah langka. Tidak boleh dikonsumsi lagi telurnya,” kata Yeti.

Para penjual telur itu, lanjut Yeti, kemudian diberikan penyuluhan agar alih  profesi “ Kita tahu itu mata pencarian turun-menurun. Makanya kita bantu untuk jual sayur dan buah,” terangnya.

Sejak itu perdagangan telur penyu turun drastis. Walaupun begitu, dia tak menampik masih ada warga yang diam-diam masih memperjualbelikan telur penyu. Sebab, ada permintaan dari luar daerah. Harganya pun menggiurkan.
“Di Padang masih ada. Harganya Rp 8 ribu sebutir. Tapi kalau di Pariaman nggak boleh lagi jualan,” tandasnya.

Selama ini, kata Yeti, ada mitos mengenai telur dan daging penyu. Sebagian orang percaya, mengonsumsi telur penyu bisa meningkatkan vitalitas. Padahal, itu tidak benar.

Warga pun diberi penyuluhan mengenai bahaya mengonsumsi daging penyu yang memiliki kadar kolesterol tinggi. “Setelah dijelaskan baru warga mengerti,” katanya.

Pemerintah sudah menetapkan beberapa jenis penyu sebagai hewan yang dilindungi. Dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 7 Tahun 1999 ada beberapa jenis tumbuhan dan hewan yang harus dilindungi karena terancam punah. Di antaranya penyu hijau, penyu sisik, peny belimbing, penyu tempayan, penyu pipih dan penyu ridel.

Pantai di Kota Pariaman merupakan tempat penyu hijau dan penyu sisik bertelur. Untuk menyelamatkan telur-telur hewan laut itu dari predator dan incaran pemburu, Pemerintah Kota Pariaman memindahkannya ke penangkatan di Kawasan Konservasi Laut Apar, Pariaman Utara.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kota Pariaman, Yanrileza menyatakan jumlah penyu di dunia termasuk di kawasan Pariaman semakin berkurang. “Kita akan terus konservasi dan lepas ke laut,” ujarnya.

Kepala Pusat Konservasi Citra mengungkapkan, bulan lalu ada yang coba-coba berburu telur penyu di pesisi Pantai Pariaman. Rencananya, telur itu akan dijual ke Padang. Dengan bantuan Polisi Air, pemburu telur penyu itu ditangkap.

Mereka didata dan diberi teguran. “Kalau ketangkap lagi, kita bawa ke kantor, untuk penyuluhan,” katanya.

Menurut Citra, pihaknya tak bisa melakukan tindakan tegas kepada pemburu telur penyu karena belum ada peraturan daerah (Perda) yang mengatur soal ini. Namun dia yakin usaha Pemerintah Kota Pariaman melarang jual beli telur penyu cukup efektif untuk menekan perburuan.

“Awal 2012 sudah jarang yang jualan, kalau yang ngumpet-ngumpet (jual) ke Kota Padang, ada. Tapi sedikit sekali,” katanya.

Dukung Konservasi, Ketua DPD Lepas Tukik Ke Laut


Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Irman Gusman mendukung konservasi penyu. Menurut dia, di dunia hanya ada tujuh jenis penyu. Enam di antaranya ada di Indonesia.

Saat berkunjung ke tempat penangkaran penyu di Kawasan Konservasi Laut Pantai Ampalu, Apar, Pariaman Utara, Kota Pariaman, Jumat lalu, Irman melepaskan hewan yang dilindungi itu ke laut.

“Penyu itu perlu dikembangbiakkan mengingat populasinya sudah mulai berkurang akibat maraknya perburuan telur penyu serta penangkapan liar,” kata dia.

Menurut dia, penangkaran penyu dilakukan oleh Pemkot Pariaman perlu dicontoh di beberapa daerah di Indonesia.

Wali Kota Pariaman, Mukhlis Rahman, mengatakan saat ini populasi penyu di habitatnya mengalami penurunan cukup tajam.

Beberapa penyebabnya adalah penangkapan liar dan perdagangan telur penyu oleh sebagian masyarakat pinggiran pantai.

Dia mengatakan pusat penangkaran penyu tersebut memiliki 600 butir telur yang siap ditetaskan. Biasanya telor penyu dapat menetas dalam waktu 58 hari.

Mukhlis menjelaskan penyu yang ditangkar di sini yakni penyu sisik (Eretmochelys Imbricata), penyu hijau (Chleonia Mydas), dan penyu lengkang (Lepidocheyls Olivacea). [harian Rakyat Merdeka]

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

UPDATE

Potongan Ojol 8 Persen Belum Jalan, Menaker: Nanti Ya...

Senin, 22 Juni 2026 | 20:22

OTT Bea Cukai Belum Ungkap Pengendali Sistem Impor

Senin, 22 Juni 2026 | 19:50

Pertamina Bantu Pedagang Kuliner Jakarta Fair dengan Bright Gas

Senin, 22 Juni 2026 | 19:48

Keterlambatan RKAB Biang Krisis Batu Bara

Senin, 22 Juni 2026 | 19:42

Kejari Jaksel Ungkap Alasan Tidak Menahan Roy Suryo dan Dokter Tifa

Senin, 22 Juni 2026 | 19:32

PM Inggris Keir Starmer Resmi Mundur, Andy Burnham Siap Gantikan

Senin, 22 Juni 2026 | 19:20

Kritik Sejumlah Parpol untuk PDIP Bentuk Loyalitas ke Prabowo

Senin, 22 Juni 2026 | 19:16

Geruduk Kantor Gubernur, Ribuan Relawan Minta MBG Dilanjutkan

Senin, 22 Juni 2026 | 19:15

Penahanan Ditangguhkan, Dokter Tifa: Alhamdulillah Bisa Pulang

Senin, 22 Juni 2026 | 19:09

Sinopsis House of the Dragon Season 3, Perang Targaryen Kian Brutal,

Senin, 22 Juni 2026 | 19:05

Selengkapnya