Berita

ilustrasi, Hulu Minyak dan Gas Bumi

Bisnis

Ekspor Gas Nggak Distop Bikin Industri Dipaksa Beli Energi Mahal

Infrastruktur Gas Belum Kelar, Bos SKK Migas Minta Pengusaha Bersabar
SABTU, 02 MARET 2013 | 08:29 WIB

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) meminta industri bersabar untuk memperoleh pasokan gas. Pasalnya, pembangunan infrastrukturnya membutuhkan waktu dua tahun.

“Kelangkaan gas saat ini karena infrastruktur gas. FSRU (Floating Storage Regasification Unit) kan sudah selesai, tetapi pembangunan infrastruktur butuh waktu kira-kira dua tahun sampai selesai,” ujar Kepala SKK Migas Rudi Rubiandini kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Rudi mengatakan, banyaknya gas diekspor karena dulu industri dalam negeri belum mau menggunakan gas dan masih senang menggunakan minyak. Tapi, setelah harga minyak naik mulai beralih menggunakan gas yang harganya lebih murah.


Padahal, gas sejak 20 tahun lalu sudah terkontrak penjualannya. Jadi untuk mengalihkan ke dalam negeri sepenuhnya tidaklah mudah. “Silakan bersabar dulu sampai FSRU dan infrastrukturnya jadi. Kalau dari hulunya sudah disiapkan, termasuk infrastrukturnya hari ini bisa dikirim,” jelasnya.

Saat ini, menurut Rudi, yang terjadi pada pengelolaan gas dalam negeri adalah sinkronisasi antara hulu dengan hilir dan infrastruktur masih bermasalah.

Terkait dengan kelangkaan pasokan gas di Sumatera Utara, dia mengaku disebabkan masalah yang sama yaitu infrastruktur.

Anggota Badan Pengatur Hilir Migas (BPH Migas) Qoyum Tjandranegara meminta kebiasaan ekspor gas yang dilakukan pemerintah dihentikan. Dengan Indonesia terus mengekspor gas sebagai energi murah, maka industri dalam negeri dipaksa menggunakan energi mahal.

“Kebijakan ekpor gas itu harus dikaji ulang dan dialihkan ke dalam negeri,” katanya.

Dia juga mengatakan, dalam membangun infrastruktur gas perlu dilakukan kerja sama. Sebab, pembangunan itu tidak hanya menjadi kerjaan Perusahaan Gas Negara (PGN) dan pemerintah, tapi juga BPH Migas dan SKK Migas. “Tujuannya agar gas sebagai energi murah bisa dinikmati industri dalam negeri,” terang Qoyum.

Anggota Komisi VII DPR Daryatmo mengatakan, jika masalah kelangkaan gas tidak diselesaikan, akan berdampak pada industri nasional.

“Kalau industri nasional sudah kena dan industri kecil runtuh akan berdampak pada perekonomian nasional,” ujarnya.

Direktur Utama PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Hendi Prio Santoso menyambut baik kebijakan tambahan alokasi gas domestik. Sebab, dengan bertambahnya pasokan gas, maka kebutuhan konsumen, khususnya industri yang terus meningkat akan mampu terpenuhi.

Bagi sektor industri, ketersediaan dan jaminan pasokan gas akan mendorong mereka untuk terus melakukan ekspansi usaha, sehingga peluang tersedianya lapangan kerja baru akan semakin besar.

Adanya jaminan pasokan gas bagi sektor industri, lanjut Hendi, akan menciptakan multiplier effect yang sangat positif bagi perekonomian Indonesia. Bila tahun lalu kontribusi sektor industri, menurut data Kementerian Perindustrian mencapai 24 persen dari Gross Domestic Product (GDP) nasional, di tahun-tahun mendatang tentunya akan semakin meningkat.
 
Agar tujuan tersebut tercapai, Hendi mengatakan, perlu sinergi yang baik di antara seluruh stake holders gas di Indonesia. Dengan demikian, dalam pengembangan dan pengelolaan gas bumi, tiga unsur utama, yaitu pasokan, infrastruktur dan pasar bisa berjalan bersamaan. [Harian Rakyat Merdeka]

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

UPDATE

Kasus Korupsi Kuota Haji Masuk Babak Baru, Gus Yaqut Cs Dilimpahkan ke JPU KPK

Selasa, 14 Juli 2026 | 12:19

Kericuhan Warnai Kongres VII BM PAN di Banten

Selasa, 14 Juli 2026 | 12:12

Purbaya Bidik Ekonomi Digital hingga Sektor Informal untuk Dongkrak Penerimaan Pajak

Selasa, 14 Juli 2026 | 12:10

Trump Sebut Mojtaba Khamenei Nyaris Tumbang, Militer Iran Hancur

Selasa, 14 Juli 2026 | 12:08

DPR Ingin Rampungkan RUU Perampasan Aset Tahun Ini

Selasa, 14 Juli 2026 | 12:00

JPO Tendean Rusak Berat Ditabrak Truk, Warga Diimbau Gunakan Jalur Alternatif

Selasa, 14 Juli 2026 | 11:56

Saham Shell Menguat Usai Divestasi Bisnis Energi Terbarukan di India

Selasa, 14 Juli 2026 | 11:56

Bantah Isu Penolakan, DPR Tegaskan RUU Perampasan Aset Masih Berproses

Selasa, 14 Juli 2026 | 11:44

BRI Setor Rp19,1 Triliun ke Kas Negara di Kuartal I 2026, Bukukan Kontribusi Pajak Terbesar

Selasa, 14 Juli 2026 | 11:21

Indonesia Harus Benahi Regulasi dan Insentif untuk Perkuat Filantropi

Selasa, 14 Juli 2026 | 11:19

Selengkapnya