.Pasal modal Indonesia menjadi tujuan investasi paling menarik di Asia Tenggara. Tapi sayang, pemainnya didominasi asing. Investor lokal ditantang terjun ke lantai bursa.
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Suryo BamÂbang Sulisto mengaÂtaÂkan, IndoÂnesia saat ini maÂsih menÂjadi tuÂjuan investasi paling meÂnarik.
“Di Asia, investasi di negara InÂdonesia masih tertinggi, tidak saja dalam bentuk investasi langÂsung, tetapi juga pasar modal,†kata SurÂyo di Gedung Bursa Efek InÂdonesia (BEI) di Jakarta, keÂmaÂrin.
Direktur Perdagangan dan PeÂngÂaturan Anggota Bursa BEI SamÂsul Hidayat mengÂungÂkapÂkan, pertumbuhan investasi di paÂsar modal terus naik selama lima tahun terakhir.
Kapitalisasi pasar moÂdal Indonesia kini suÂdah menÂcapai Rp 4.500 triliun. MenÂdeÂkati Singapura, yang berÂada di angka 500 miliar dolar AS atau seÂkitar Rp 5 ribu triliun.
“SaÂyangÂnya, keÂtertarikan invesÂÂtor lokal masih minim. Pasar moÂdal InÂdoÂnesia maÂsih tergantung pada inÂvestor asing,†sesalnya.
Dia menuturkan, otoritas bursa sebetulnya berharap pelaku pasar di ÂBEI didominasi investor lokal. Sebab, dengan demikian, baÂnyak masyarakat Indonesia yang bisa menikmati keuntungan dari aktiÂvitas keuangan di pasar modal.
Selain itu, partisipasi investor lokal diperlukan agar pasar modal teÂrus bergairah. “Peran asing di paÂsar modal masih sangat besar. KaÂlau tak ada asing, siapa yang mau menggerakkan pasar,†jelasnya.
Direktur Utama PT Henan PuÂtihrai Securities Ferry SuÂdjono menilai, peran investor lokal miÂnim karena mereka takut mengÂambil risiko. Kondisi itu disaÂyangÂkannya.
Sebab, kata Ferry,
return of investment atau keunÂtungan hasil investasi dari pasar modal lebih tinggi dari investasi deposito yang disimpan di bank-bank besar di tanah air.
“Bank meÂmang memberikan jaminan atas dana investasi yang disimpan, terÂutama bank pemeÂrinÂtah. SeÂmentara inÂvestasi di pasar modal ada risiko yang perlu dihaÂdapi.
TaÂpi perlu diketahui, banyak inÂvesÂtor yang bisa meÂngelola risiko,†kata Ferry.
Namun, Ferry mengÂingatkan, para calon investor baru yang tertarik melantai di pasar modal harus hati-hati. Jangan terlalu perÂcaya dengan rekanan bisnis yang baru dikenal.
“Calon investor harus lebih aktif mempelajari perkembangan perÂusaÂhaan publik yang akan menÂjadi tempat investasi,†pesan Ferry.
Pengamat pasar modal DanÂdossi Matram menilai, partiÂsipasi invesÂtor lokal minim karena pengeÂtaÂhuan masyarakat tentang cara inÂvestasi di pasar modal juga minim.
“Selama ini hanya orang yang mengetahui saja yang bermain saÂham di bursa.
Sebenarnya banyak orang yang berminat, hanya tidak tahu bagaimana caranya. Ini menÂjadi pekerjaan rumah otoÂritas bursa,†katanya.
Dia memahami tidak mudah unÂtuk melakukan sosialisasi ke masÂyarakat karena banyak yang takut mengambil risiko. Untuk meÂningÂkatkan jumlah investor loÂkal, memÂbutuhkan proses dan waktu yang cukup panjang. [Harian Rakyat Merdeka]