.Pemerintah mengambil sejumlah kebijakan untuk mengendalikan harga daging sapi. Di antaranya, memberikan diskon biaya transportasi dan penerapan sistem lelang untuk impor pengadaan komoditas tersebut.
Kebijakan tersebut dirumusÂkan dalam Rapat Kordinator KeÂmenterian Perekonomian di KanÂtor Kementerian Koodinator PeÂreÂkonomian di Jakarta, keÂmarin.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa meÂnerangkan, untuk menstabilkan harga daging, suplai ke pasar-paÂsar ke depan akan dipercepat.
“Ke depan pemerintah akan memonitor Rumah Potong HeÂwan (RPH) untuk menghitung berapa ekor sapi lokal dan impor yang diÂbutuhkan oleh lebih dari 400 RPH.
Untuk mengawasinya, nanti perÂmintaan dan penawaran akan diÂlihat secara
online,†kata Hatta.
Setelah mempercepat suplai, pemerintah akan mengevaluasi
supply dan
demand serta melaÂkuÂkan sensus sapi nasional seÂhingga ke depan mempunyai daÂta yang akurat. “Dari data terseÂbut, pemerinÂtah bisa dengan akuÂrat mengetaÂhui berapa impor daÂging yang diperlukan,†ujarnya.
Selain itu, ungkap Hatta, peÂngadaan sapi impor ke depan akan dilakukan melalui meÂkaÂnisme lelang secara terbuka. Yang menyelenggarakan lelang adalah Kementerian Perdagangan dan Kementerian Pertanian.
Menteri Perdagangan Gita WirÂjaÂwan mendukung ide terseÂbut. Menurutnya, sistem lelang akan jauh lebih transparan.
“Sistem lelang sudah dilakuÂkan beberapa negara tetangga. Dan ide ini diterima secara baik oleh Pak Menko, Pak Mentan, WaÂÂmenkeu,†ungkap Gita.
Gita yakin, sistem lelang lebih baik dari sistem saat ini. Sistem ini akan mendorong harga daÂging lebih murah karena proses lebih kompetitif.
Dia menerangkan, saat ini ada 67 pemilik IP (importir produÂsen). Ke depan, jumlahnya bisa berÂÂÂkuÂrang dan tidak menutup keÂÂmungÂkinan bertambah.
SeÂmuaÂÂnya terÂgantung kemampuan meÂreka meÂmenuhi kriteria teknis. Kriteria tekÂnis tersebut antara lain meÂmiÂliki infrastruktur seÂperti
cool stoÂrage (ruangan penÂdiÂngin).
Menteri Pertanian Suswono meÂnambahkan, Kementerian PerÂtanian telah menjalin kerja sama dengan Pelni dan PT KeÂreta Api Indonesia (KAI) untuk menekan harga daging sapi. Biaya pengÂangkutan komoditas itu diuÂpaÂyakan akan diberikan diskon.
“Jadi kita mengalami kesulitan pengangkutan sapi dari sentra produksi. Kemungkinan nanti dapat diskon ketika mengangkut dari NTB dan NTT atau Jateng dan Jatim,†kata Suswono.
Jika rencana itu berjalan, lanÂjut menteri dari PKS itu, harga daging Indonesia daÂpat bersaing dengan daging imÂpor. MenuÂrutÂnya, selama ini harÂga daging sapi Australia lebih muÂrah karena peÂternak tidak perÂnah memberi maÂkan, hanya diÂgembalakan di paÂdang rumput. Oleh karena itu, perlu ada keÂbijaÂkan untuk menÂdukung peternak.
Sekadar informasi, harga daÂging di Indonesia enam bulan beÂlaÂÂkangan ini tidak wajar. Harga meÂnembus Rp 100 ribu per kiloÂgram. Harga tersebut termahal di dunia. Berbagai dugaan meÂngeÂmuka di balik mahalnya harÂga daÂging mulai minimnya stok samÂpai permainan kartel.
Ketua Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPÂSKI) Teguh Boediyana berÂharap, pemerintah tak hanya menghiÂtung jumlah populasi sapi untuk melihat kemampuan proÂduksi saÂpi dalam negeri. Tetapi membanÂtu peningkatan produksiÂnya. MeÂnurutnya, negeri ini meÂmiliki poÂtensi besar swasembada daging.
“Sentra penggemukan sapi belum digarap secara serius kaÂrena minimya bantuan disektor teknologi. Sudah saatnya peÂmeÂrintah membantu agar kita tidak impor terus,†kata Teguh kepada
Rakyat Merdeka, kemaÂrin. [Harian Rakyat Merdeka]