Berita

Adhie M Massardi

Demokrat Makin Anas

SABTU, 23 FEBRUARI 2013 | 14:15 WIB | OLEH: ADHIE M. MASSARDI*

JUSTRU setelah diguncang isu korupsi proyek sarana olahraga terpadu di Bukit Hambalang, Partai Demokrat makin identik dengan Anas Urbaningrum dibandingkan dengan, misalnya, para pendiri partai seperti Vence Rumangkang, Subur Budhisantoso, atau Ahmad Mubarok.

Bahkan dalam beberapa hal, personifikasi Anas sebagai simbol Partai Demokrat lebih kental dibandingkan bos besar Susilo Bambang Yudhoyono. Ini dibuktikan oleh survei bikinan Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang menghasilkan angka elektabilitas Partai Demokrat tinggal 8,3 persen.

Anjloknya elektabilitas Partai Demokrat yang pada pemilu 2009 meraih suara 20,85 konon karena ketua umumnya terus digoyang isu korupsi. Ini berarti keberhasilan Yudhoyono mempertahankan kekuasaan selama dua periode, dan teknik pencitraan yang dilakukan untuk partainya, tidak berdampak sama sekali. Artinya, figur Anas sebagai personifikasi Partai Demokrat jauh lebh dominan.


Benar, Anas memang bukan pendiri Partai Demokrat. Dia baru masuk Demokrat pada 2005, setelah mundur dari anggota KPU yang diguncang isu korupsi dan setelah dianggap sukses mengantarkan Yudhoyono, Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat, menjadi presiden RI pertama yang dipilih langsung.

Banyak yang curiga Ketua Umum PB HMI 1997-1998 ini waktu masih di KPU punya andil besar dalam pemenangan Yudhoyono di pilpres 2004. Makanya diganjar jabatan strategis di partai penguasa itu: Ketua Bidang Politik dan Otonomi Daerah.

Sebagai politisi, kapasitas politik Anas sebenarnya biasa-biasa saja. Tapi kemampuan politik yang ditimbanya di HMI menemukan momentumnya di era politik pencitraan santun yang penuh tipu daya dan guyuran uang yang dikembangkan Yudhoyono.

Kongres ke-2 Partai Demokrat di Bandung (20-23 Mei 2010) menjadi panggung politik paling spektakuler bagi anak muda kelahiran Blitar 15 Juli 1969 ini. Dia terpilih menjadi ketua umum partai penguasa pemenang pemilu 2009 pada umur 40. Jadilah dia ketua partai termuda di Indonesia.

Dalam ajang pemilihan ketua partai bertabur uang dan citra itu, Anas sukses mengalahkan (Menegpora) Andi Mallarangeng, sang putra mahkota, hanya dalam sekali gebrak. Pada putaran kedua, giliran Ketua DPR Marzuki Alie yang juga didukung penuh Yudhoyono di-TKO. Dan Anas pun masuk dalam divisi utama politik nasional.

Tapi karena dianggap bukan berasal dari golongan orang-orang yang dikehendaki Bos Besar, Anas jadi tampak tidak leluasa menggiring bola. Upayanya meredam tekanan dari dalam dengan menggandeng Ibas, putra Bos Besar, ternyata hanya bertahan seumur jagung.

Kini status Anas di Komisi Pemberantasan Korupsi sudah “te-es-ka” alias tersangka, sesuai permintaan Bos Besar ke KPK saat berada di Jeddah. Sedangkan menurut pakta integritas Partai Demokrat yang digagas Bos Besar secara tergesa-gesa, dengan status TSK itu Anas harus mundur dari jabatannya sebagai ketua umum.

Bos Besar dan para petinggi Partai Demokrat kini tentu senang. Energinya tak terkuras lagi untuk menyingkirkan Anas yang sangat alot itu. Maka menentukan capres dan cawapres untuk pemilu 2014 tak perlu menunggu restu Anas lagi. Suka-suka mereka saja.

Lalu bagaimana dengan Anas? Hari-harinya tentu akan terasa lebih panjang. Sedangkan Demokrat tak akan lepas dari personifikasi Anas. Bahkan mungkin Demokrat akan lebih Anas.

Tapi dunia politik nasional mungkin akan jadi lebih bergairah. Karena masih terngiang nyanyian Nazaruddin sang (bekas) bendahara utama partai. Bila nyanyian bendahara saja sudah bisa bikin kiamat kecil di pentas politik kita, bayangkan apa jadinya bila yang nyanyi nanti sang ketua umum…! [***]

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

Prabowo Diminta Tindak Tegas Kelompok yang Masih Persoalkan Hasil Pilpres 2024

Selasa, 22 September 2026 | 23:16

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

UPDATE

Jadi Menperin, Sarmuji Tegaskan akan Lanjutkan Rintisan Agus Gumiwang

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:23

Mengenang Warisan Luhur Pesona Batik Tulungagung di Hari Batik Nasional

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:16

Ketua KPK Ucapkan Selamat kepada Kapolri Jenderal Suyudi, Dorong Sinergi Pemberantasan Korupsi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:10

MUI: Jangan Sampai Konser “Till The Whole World Knows” Jadi Sarana Propaganda Zionisme

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:10

BEI Awasi Pergerakan Tiga Saham yang Masuk Radar UMA

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:49

KPK Ungkap Besaran Uang Silmy Karim ke Dosen UB Saat Bimbingan Doktoral

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:25

Garuda Tantang Gajah Perang di Final FIFA ASEAN Cup 2026

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:25

Emas Antam Mulai Turun Hari Ini, Intip Daftar Lengkapnya

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:14

Dua Tahun Danantara, Efisiensi BUMN Digenjot untuk Kejar Pertumbuhan

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:02

Harga Minyak Naik Lagi ke Level 102 Dolar AS

Jumat, 02 Oktober 2026 | 10:59

Selengkapnya