Berita

ilustrasi, Aksi kriminal pencurian

Bisnis

Wuih Ngeri, Aksi Kriminalitas Juga Marak Di Siang Bolong

Patroli Sudah Ketat Pada Malam Hari
SABTU, 23 FEBRUARI 2013 | 08:59 WIB

Aksi kriminal pencurian dengan kekerasan akhir-akhir ini merajalela di wilayah ibukota. Lebih mengkhawatirkan lagi, pelaku kejahatan kini tak hanya beraksi di malam hari, namun semakin berani menggasak korban pada siang hari. Seperti yang terjadi di depan sebuah bank swasta Jalan Otistas Raya, Jatinegara, Jakarta Timur, Senin (18/2).

Kabid Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Rikwanto menyatakan, dari data kejahatan di wilayah hukumnya sepanjang Januari-Februari 2013, terdapat 15 kejadian perampokan.

Sedangkan penodongan dan perampasan terjadi lebih dari 30 kali. Mayoritas perampokan beralih waktu menjadi siang hari. Pelaku bahkan tidak segan-segan melukai korbannya.


“Para pelaku beralih di siang hari sekitar pukul 11.00-15.00 WIB setelah sebelumnya patroli kami lakukan intensif di malam hari, di rumah maupun di kantor-kantor yang menjadi sentra ekonomi. Para penjahat akhirnya beralih beraksi pada siang hari,” jelasnya.

Untuk mengantisipasi maraknya aksi perampokan, lanjut Rikwanto, pihak kepolisian terus melakukan operasi melalui patroli yang intensif, penguatan peranan Badan Pembinaan Keamanan Ketertiban Masyarakat (Babinkantibmas) serta mengejar beberapa pelaku yang sudah menjadi target.

“Nasabah bank atau petugas SPBU saya imbau, kalau membawa uang dalam jumlah besar sebaiknya meminta petugas kepolisian untuk mengawal,” sarannya.

Seperti diketahui, sebuah mobil BMW nopol B 2687 YF, Senin (18/2), dihadang oleh dua orang bandit dengan senjata api di depan BNI di Jalan Otista Raya, Jatinegara, Jakarta Timur. Menggunakan sepeda motor, pelaku yang berjumlah dua orang memepet mobil korban saat hendak masuk ke pelataran bank.

 Dua korban yang merupakan pemilik SPBU ditodong di depan banyak orang dan dipaksa menyerahkan uang sebesar Rp 86,5 juta, hasil penjualan di SPBU yang hendak disetorkan di bank. Keduanya akhirnya menyerahkan uang yang disimpan di dash board mobil.

Kriminolog dari Universitas Indonesia (UI) Adrianus Meliala mengatakan, kejahatan jalanan merupakan masalah kriminal utama di Jakarta. Pasalnya, Jakarta merupakan kota besar yang memiliki banyak wilayah publik.

“Karena kita berada di wilayah publik, kita menjadi anonim (tak beridentitas). Anonim di sini ada dua, yakni anonim secara kenyataan dan anonim secara persepsi. Untuk mengatasi rasa anonim, kita sebaiknya pergi berdua, pergi dengan memberitahukan, pergi dengan teman atau memakai identitas yang jelas,” katanya.

Teorinya, lanjut Adrianus,  seseorang yang anonim akan lebih besar kemungkinan menjadi pelaku atau korban kejahatan.

“Misalnya, ada orang yang kita tidak kenal memukul orang lain. Kita tidak berusaha menangkap orang itu, karena kita tidak kenal. Sebaliknya, kita juga tidak akan ditolong ketika dipukul, karena anonim,” jelasnya.

Dia menilai, tindakan kriminalitas Jakarta pada 2013 tak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya. Profil dan besarannya sama.

“Mungkin ada beda tapi kecil, kayak riak-riak saja. Curanmor (pencurian kendaraan bermotor) kecenderungannya naik, narkoba tetap naik. Untuk yang bersifat terorisme polisi juga akan habis-habisan. Juga untuk kasus korupsi,” ungkapnya.

Hanya saja, Adrianus mengaku khawatir jika motif kejahatan tak lagi didasari persoalan ekonomi. “Kalau kemudian misalnya ada hal yang berubah, ekonomi yang selama ini menjadi topik atau motif utama tiba-tiba turun, nah itu bahaya. Tetapi saya kira nggak akan seperti itu,” tandasnya.

Mobil Patroli Jadi Pengganti Pos Polisi Sub Sektor


Tindak kriminalitas bisa terjadi kapan dan di mana saja. Masih terdapat kasus-kasus kejahatan tahun lalu yang belum tuntas di tahun ini. Dari tindak kejahatan yang terjadi, masyarakat menjadi sasarannya.

Untuk meminimalisasi tingkat kriminalitas, Kepolisian selalu mengoptimalkan kemampuannya dalam melayani masyarakat. Kepala Kepolisian Daerah (Polda) Metro Jaya Inspektur Jenderal Putut Eko Bayuseno mengakui, pihaknya masih memiliki kekurangan, baik dari segi jumlah personel ataupun sarana penunjang tugasnya. Salah satunya, keberadaan pos-pos Kepolisian Sub Sektor.

“Saya setuju semakin diperbanyak pos-pos polisi di tengah masyarakat,” ujarnya.

Ia mengatakan, dengan mengadakan pos-pos polisi di dekat permukiman warga, memudahkan masyarakat menjangkau aparat Kepolisian. Ini dimaksudkan agar bila terjadi gangguan ketertiban masyarakat, warga dapat segera melaporkannya pada aparat penegak hukum. Selama ini memang diakui Putut, pos-pos tersebut masih kurang jumlahnya.

Putut menjelaskan, anggotanya seperti Badan Pembinaan Keamanan Ketertiban Masyarakat (Babinkantibmas) akan berperan aktif dengan berpatroli keliling di sekitar pemukiman warga.

“Termasuk mendatangi rumah-rumah penduduk. Mobil-mobil patroli yang stand by di tempat-tempat tertentu, fungsinya bisa sebagai pengganti pos polisi sub sektor,” jelasnya.

Menurutnya, jika ada warga yang mengalami gangguan keamanan dan ketertiban di lingkungannya agar mendatangi mobil-mobil patroli tersebut. Langkah-langkah seperti itu demi memudahkan masyarakat agar tidak perlu memakan waktu untuk melaporkannya pada yang berwenang.
 
“Jadi masyarakat tidak perlu mendatangi Kantor Polda, Polres atau polsek-polsek, bila terjadi sesuatu gangguan kemanan dan ketertiban di lingkungan mereka,” tandasnya. [Harian Rakyat Merdeka]

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

UPDATE

Kasus Korupsi Kuota Haji Masuk Babak Baru, Gus Yaqut Cs Dilimpahkan ke JPU KPK

Selasa, 14 Juli 2026 | 12:19

Kericuhan Warnai Kongres VII BM PAN di Banten

Selasa, 14 Juli 2026 | 12:12

Purbaya Bidik Ekonomi Digital hingga Sektor Informal untuk Dongkrak Penerimaan Pajak

Selasa, 14 Juli 2026 | 12:10

Trump Sebut Mojtaba Khamenei Nyaris Tumbang, Militer Iran Hancur

Selasa, 14 Juli 2026 | 12:08

DPR Ingin Rampungkan RUU Perampasan Aset Tahun Ini

Selasa, 14 Juli 2026 | 12:00

JPO Tendean Rusak Berat Ditabrak Truk, Warga Diimbau Gunakan Jalur Alternatif

Selasa, 14 Juli 2026 | 11:56

Saham Shell Menguat Usai Divestasi Bisnis Energi Terbarukan di India

Selasa, 14 Juli 2026 | 11:56

Bantah Isu Penolakan, DPR Tegaskan RUU Perampasan Aset Masih Berproses

Selasa, 14 Juli 2026 | 11:44

BRI Setor Rp19,1 Triliun ke Kas Negara di Kuartal I 2026, Bukukan Kontribusi Pajak Terbesar

Selasa, 14 Juli 2026 | 11:21

Indonesia Harus Benahi Regulasi dan Insentif untuk Perkuat Filantropi

Selasa, 14 Juli 2026 | 11:19

Selengkapnya