Berita

ilustrasi/ist

Bisnis

Pinjaman Luar Negeri Bertambah APBN Buat Nyicil Utang Bengkak

Utang Capai Rp 1.979,75 Triliun, Pemerintah Ngaku Bakal Selektif Lagi
KAMIS, 21 FEBRUARI 2013 | 08:16 WIB

.Pemerintah mengklaim bakal mengurangi ketergantungan utang dengan cara lebih selektif menarik pinjaman dari luar negeri.

“Kita sangat selektif meminjam dari luar karena debt to Gross Do­mestic Product (GDP) rasio kita semakin turun dan kita lebih me­ngutamakan pendanaan dari da­lam negeri,” ujar Deputi Men­ko Perekonomian

Bidang Ker­ja Sa­ma Ekonomi dan Perdagangan Internasional Rizal Affandi Luk­man di Jakarta, kemarin.


Ia mengaku pemerintah saat ini masih menerima pinjaman luar negeri. Namun, bantuan bi­lateral mau­pun multilateral ter­sebut le­bih bersifat kapasitas tek­nis yang bermanfaat untuk mendo­rong dan mempercepat pem­ba­ngunan infrastruktur.

Menurut Rizal, pemerintah se­karang lebih menerima bantuan be­rupa capacity building. Jadi bu­kan dari sisi finance, tapi kon­sultasi dan engineering yang me­reka miliki. Misalnya, penga­la­man JICA (Japan International Cooperation Agency) dalam me­lakukan operasional Mass Rapid Transportation (MRT) di Tokyo. “Itu pengalaman yang tidak bisa dibeli oleh uang,” ucapnya.

Rizal mengatakan, negara be­sar seperti China saja masih me­nerima bantuan atau pinjaman luar negeri dari beberapa lem­baga multilateral seperti Bank Dunia atau IMF untuk men­du­kung pro­yek-proyek yang ber­manfaat men­dorong pertum­buh­an ekonomi.

Posisi utang peme­rintah per Ja­nuari 2013 mencapai Rp 1.979,75 triliun dengan rasio utang ter­hadap Produk Domestik Bruto (PDB) men­capai 24 persen. PDB Indo­nesia saat ini tercatat Rp 8.241,9 triliun.

Rinciannya, pinjaman bilateral Rp 348,93 triliun, multilateral Rp 229,68 tri­liun, komersial Rp 24,77 triliun, supplier Rp 390 mi­liar dan pinjaman dalam negeri Rp 1,82 triliun.

Koordinator Koalisi Anti Utang (KAU) Dani Setiawan men­desak pemerintah segera meng­hentikan kebiasaan ber­utang karena akan menambah Ang­garan Pendapatan dan Be­lanja Negara (APBN) untuk ci­cilan utang.

Dalam APBN 2013 porsi pem­bayaran cicilan bunga dan po­kok utang mencapai Rp 171.7 tri­liun (15 persen  terhadap be­lanja pe­merintah pusat) atau me­ningkat 2,4 persen dari 2012 sebesar Rp 167.5 triliun.

Angka tersebut terdiri dari pembayaran bunga Utang Luar Negeri (ULN) dan Utang Dalam Negeri (UDN) Rp 113.243 tri­liun, serta pembayaran cicilan pokok utang luar negeri Rp 58.405 triliun.

“Pengurasan APBN untuk pem­­bayaran cicilan pokok dan bunga utang tentu akan ber­dam­pak langsung berkurangnya porsi anggaran untuk membiayai sektor yang vital dan prioritas seperti diamanatkan konstitusi,” jelas Dani.

Menurut dia, hal tersebut bisa dilihat dari minimnya anggaran untuk peningkatan kesejahteraan rakyat dan pelayanan umum. Alokasi pembayaran utang pada RAPBN 2013 jauh melebihi jumlah anggaran kesehatan yang

hanya Rp 50,90 triliun. Atau to­tal ang­garan untuk ketahanan pa­ngan sebesar Rp 83 triliun dan anggaran untuk fungsi pertanian, kehutanan, perikanan dan kelau­tan yang hanya berjumlah Rp 19,9 triliun.

Wakil Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Hasan Bisri mengatakan, pihaknya belum selesai melakukan audit utang luar negeri pemerintah. Sebab, lem­baga auditor pemerintah itu mem­butuhkan waktu untuk me­lakukan konfirmasi ke negara pemberi pinjaman.

 â€œPersoalannya agak rumit. Ini kan menyangkut pinjaman luar negeri yang harus dikonfir­ma­sikan ke pemberi pinjaman, jadi butuh waktu,” katanya.

Hasan menjelaskan, untuk Su­rat Berharga Negara (SBN) lebih mudah dikonfirmasi meng­ingat pinjaman tersebut berasal dari da­lam negeri. Pasalnya, SBN da­ta­nya relatif lebih gampang ka­rena itu dalam negeri.

Pihaknya juga akan melakukan kajian terkait tingkat bunga yang telah ditetapkan pemerintah apakah sudah cukup efisien, cukup murah atau paling kom­petitif. Menurut Bisri, dengan stabilitas ekonomi cukup baik saat ini,

seharusnya pemerintah bisa dapat insentif dan bunga yang lebih rendah.

Selama ini, kata Bisri, lelang Surat Utang Negara (SUN) atau SBN permintaannya cukup ting­gi, hampir 600 persen dari yang ditawarkan. Itu artinya, Indonesia punya peluang men­dapatkan su­ku bunga yang lebih rendah se­hingga biaya lebih murah. [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

UPDATE

Kasus Korupsi Kuota Haji Masuk Babak Baru, Gus Yaqut Cs Dilimpahkan ke JPU KPK

Selasa, 14 Juli 2026 | 12:19

Kericuhan Warnai Kongres VII BM PAN di Banten

Selasa, 14 Juli 2026 | 12:12

Purbaya Bidik Ekonomi Digital hingga Sektor Informal untuk Dongkrak Penerimaan Pajak

Selasa, 14 Juli 2026 | 12:10

Trump Sebut Mojtaba Khamenei Nyaris Tumbang, Militer Iran Hancur

Selasa, 14 Juli 2026 | 12:08

DPR Ingin Rampungkan RUU Perampasan Aset Tahun Ini

Selasa, 14 Juli 2026 | 12:00

JPO Tendean Rusak Berat Ditabrak Truk, Warga Diimbau Gunakan Jalur Alternatif

Selasa, 14 Juli 2026 | 11:56

Saham Shell Menguat Usai Divestasi Bisnis Energi Terbarukan di India

Selasa, 14 Juli 2026 | 11:56

Bantah Isu Penolakan, DPR Tegaskan RUU Perampasan Aset Masih Berproses

Selasa, 14 Juli 2026 | 11:44

BRI Setor Rp19,1 Triliun ke Kas Negara di Kuartal I 2026, Bukukan Kontribusi Pajak Terbesar

Selasa, 14 Juli 2026 | 11:21

Indonesia Harus Benahi Regulasi dan Insentif untuk Perkuat Filantropi

Selasa, 14 Juli 2026 | 11:19

Selengkapnya