.Para pengusaha waralaba daÂlam negeri yang tergabung daÂlam PerÂhimpunan Waralaba dan LiÂsensi Indonesia (Wali) menunÂtut diÂkaji ulang pasal mengenai peÂnyertaan modal di Peraturan MenÂteri PerÂdagangan (PermenÂdag) No 07/M-DAG/PER/2/2013 tentang peÂngemÂbangan keÂmiÂtraan dalam waralaba untuk jenis usaha jasa makanan dan miÂÂnuÂman.
Peraturan itu dinilai lebih meÂnguntungkan para peÂmodal beÂsar asing dan menutup kesemÂpatÂan pengusaha Usaha Kecil dan Menengah (UKM) berÂkembang.
Ketua Dewan Pengarah Wali Amir Karamoy menjelaskan, di dalam Permendag waralaba, peÂnyertaan modal UKM atau pubÂlik untuk sebuah gerai waralaba diÂbatasi 30 sampai 40 persen. SeÂdangÂkan sisanya 60 persen diÂkuaÂsai oleh pemilik waralaba (comÂpany owned).
“Para UKM dan publik yang ikut menyertakan modal 30-40 hamÂpir dipastikan, hanya akan menÂjadi mitra pasif atau penonÂton,†kata Amir di Jakarta, keÂmaÂrin.
Amir menilai, pembatasan peÂnyertaan modal tidak sesuai deÂngan semangat dan tujuan pemÂbatasan waralaba itu senÂdiri. Sebaliknya, justru mendoÂrong peÂrusahaan waralaba restoÂran dan rumah makan minum, khuÂsusnya asing dan lokal yang beÂsar, berÂlomÂba-lomba membaÂngun gerai baru agar mereka seÂmakin besar.
“Lain ceritanya bila UKM diÂbolehkan peÂnyertaan moÂÂdal 100 persen. UKM akan berÂÂkembang karena leluasa mengonÂtrol dan menguaÂsai opeÂrasional gerai,†ujar Amir.
Amir keberatan dengan asumsi pemerintah bahwa penyertaan moÂdal dibatasi 30-40 perÂsen dengan pertimbangan bahwa UKM tidak memiliki cukup dana untuk menguasai 100 persen. MeÂnurutnya, UKM mampu menyerÂtaÂkan modal hingga 100 persen. UKM bisa bergabung mengumÂpulkan modal atau menÂdapatkan kredit dari bank.
“Dari pengalaman, bank akan dengan senang hati menyalurkan kredit untuk usaha waralaba yang meÂnyandang merek terkenal,†paÂparÂnya.
Dia berharap, pemerintah mengÂÂkaji ulang peraturan itu agar bisa disempurnakan. Dengan beÂgitu, masalah ini tak perlu samÂpai berÂperkara di Mahkamah Agung.
Permendag Waralaba ditetapÂkan Mendag Gita Wirjawan satu pekan lalu. Permendag tersebut mengatur soal kewajiban pemÂbeÂri waralaba atau penerima waÂralaba untuk jenis usaha restoÂran, rumah makan, bar/rumah miÂnum dan kafe telah memiliki outlet/gerai sebanyak 250 outlet/gerai dan akan melakukan peÂnambahan outlet/gerai maka penÂÂdirian outlet tambahan wajib diwaralabakan dan atau dikerjaÂsamakan deÂngan pola penyerÂtaan modal. [Harian Rakyat Merdeka]