.Mahalnya harga daging sapi di pasaran membuat minat masyarakat membeli daging menjadi berkurang. Hal ini dikeluhkan para pedagang karena berdampak pada keuntungan yang turun drastis.
Salah seorang pedagang daÂging sapi di Pasar Kramat Jati, HerÂman berharap pemerintah seÂgera menstabilkan harga daging sapi. Dengan demikian, maÂsyarakat akan berminat membeli daging sapi lagi.
“Sejauh ini pasokan daging tidak ada masalah, bahkan meÂlimÂpah. Tapi harganya masih tinggi, itu membuat kami susah menÂjualnya. Saat ini saja kita kehiÂlangan 50 persen pendaÂpatan,†kata Herman.
Ia mengungkapkan, saat ini harga rata-rata daging sapi cenÂderung di kisaran Rp 90 ribu per kilogram (kg). Harga tersebut sudah berlangÂsung sejak awal tahun ini.Herman mengatakan, untuk beberapa pekan ini memang tidak ada kenaikan harga, tapi dia tetap berharap harganya kembali norÂmal seperti dulu. Paling tidak Rp 80 ribu per kg.
Selama ini, kata dia, harga daÂging sapi mencapai Rp 90 ribu per kg, omset penjualan daging saÂpi hanya mencapai 10 kg per hari. Jumlah ini jauh lebih seÂdikit saat harga daging sapi masih norÂmal. “Sepi jualannya. Biasa kita jual 30-45 kg per hari, sekarang 10 kg per hari saja sulit,†keluh Herman.
Namun, Kementerian PerÂtaÂnian (KeÂmenÂtan) masih yakin swaÂsemÂbada daging akan tercapai pada 2014. Walaupun impor daging sapi masih tinggi.
Dirjen Peternakan Kementan Syukur Iwantoro mengatakan, populasi sapi dari tahun ke tahun selalu mengalami peningkatan.
Ia mengungkapkan, pada 2011 jumlah sapi 15,421 ekor dan di 2012 meningkat menjadi 16.656 ekor. “Kita masih yakin swaÂsemÂbada bisa tercapai bila menÂdapatkan dukungan dari segala instansi, baik pemerintah maupun masyarakat,†katanya.
Kader Partai Keadilan SeÂjahÂtera (PKS) ini akan terus meÂningÂkatkan populasi sapi dan meÂnekan impor hingga impor hanya 10 persen. Selain itu, pemerintah juga berkerja sama dengan Kementerian BUMN dan KeÂmenterian PerhuÂbungan memÂperbaiki distribusi dan transÂportasi sapi.
“Mulai Febuari 2013 akan disediakan gerbong khusus daging oleh PT KAI dari Provinsi Jawa Timur ke Jakarta. SedangÂkan pengangkutan sapi antar pulau akan diangkut oleh PT PELNI. April depan siap berÂoperasi,†tuturnya.
Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) Teguh Boediyana mengungÂkapkan, 83 persen kebutuhan daging sapi nasional bisa tercuÂkupi dari pasokan dalam negeri.
“Yang terpenting impor itu tidak mematikan harga daging sapi lokal,†kata Teguh.
Menurut dia, peternak sapi dalam negeri tidak bisa dipotong setiap saat. Namun, hampir 99 persen sapi dikelola masyarakat baru akan dipotong atau dijual jika membutuhkan uang.
“Kita nggak bisa maksa peternak sapi menjual dan jangan sampai sapi betinanya pun ikut dipotong,†ucapnya.
Impor daging sapi, kata Teguh, boleh saja dilakukan saat ini karena sapi lokal belum bisa memenuhi kebutuhan nasional. Akan tetapi, kran impor jangan berlebihan, seperti tahun 2009 dan 2010 yang sangat merugikan peternak sapi dalam negeri.
“Kalau impor besar, itu yang senang importir bukan masyaÂrakat. Pemerintah kan mencaÂnangkan swasembada daging dan pemerintah harus pro rakyat,†tegasnya.
Mengenai kualitas daging sapi lokal, Teguh berkeyakinan daÂging sapi lokal tidak kalah berÂsaing dengan daging sapi impor. “Sapi lokal digemukkan secara alami tidak menggunakan bahan kimia apapun, sehingga berkuaÂlitas baik. Karena itu, daging sapi lokal lebih bagus,†tuturnya. [Harian Rakyat Merdeka]