Berita

LUMPUR LAPINDO/IST

Politik

LUMPUR LAPINDO

SBY Ahli Strategi, Tak Mungkin Serang Golkar untuk Tingkatkan Elektoral Demokrat

JUMAT, 15 FEBRUARI 2013 | 11:32 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Presiden SBY menegur PT Lapindo Berantas untuk menyelesaikan kewajiban membayar ganti rugi kepada warga terdampak luapan lumpur Sidoarjo. Ganti rugi yang harus dibayar perusahaan milik Aburizal Bakrie itu sebesar Rp 800 miliar.

Menurut pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, A. Bakir Ihsan, ada dua aspek yang bisa dilihat dari teguran Presiden SBY itu. Pertama, teguran tersebut muncul karena bila masalah lumpur Lapindo tidak selesai sampai akhir periode kekuasaan SBY, maka SBY bisa dianggap meninggalkan catatan merah.

"Oleh karenanya, SBY berkepentingan untuk mengingatkannya," kata dia kepada Rakyat Merdeka Online, Kamis malam (14/2).


Kedua, lanjut dia, secara politik teguran SBY ini menjadi beban bagi Aburizal Bakrie alias Ical secara personal sebagai calon presiden, bukan bagi Partai Golkar. "Kasus Lapindo adalah kasus korporasi, dan pencapresan Ical sendiri belum menjadi suara bulat Golkar."

Menurut dia, tidak tepat mengartikan langkah SBY itu sebagai upaya menurunkan tingginya elektoral Partai Golkar dan memperbaiki elektoral Demokrat yang kini disebut-sebut hanya sebesar 8,3 persen saja.

"Langkah SBY untuk meningkatkan citra Partai Demokrat dengan menyerang partai lain justru bisa jadi blunder. Sebagai ahli strategi, saya kira SBY akan menghindari langkah blunder," pungkas Bakir.

Permintaan agar PT Lapindo Brantas menepati janji melunasi pembayaran ganti rugi kepada warga yang terdampak luapan lumpur di Sidorajo disampaikan SBY saat membuka rapat kabinet di Istana Negara kemarin. Rapat tersebut diselenggarakan sebagai evaluasi rencana pembangunan jangka menengah nasional 2010-2015.

"Sampaikan kepada Lapindo, kalau janji ditepati, kalau main-main dengan rakyat, dosanya dunia-akhirat. Sampaikan," ujar SBY. [dem]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

MNC Siap Lawan Putusan CMNP Lewat Banding hingga PK!

Selasa, 28 April 2026 | 20:09

Menyambut Hardiknas 2026: Mengupas Makna Tema, Filosofi Logo, dan Harapan Pendidikan Indonesia

Selasa, 28 April 2026 | 20:06

RUPS bjb Angkat Susi Pudjiastuti Jadi Komut, Ayi Subarna Dirut

Selasa, 28 April 2026 | 20:02

KAMMI Ingin Perempuan jadi Penggerak Kedaulatan Energi

Selasa, 28 April 2026 | 20:01

Membaca Paslon Pimpinan NU di Muktamar ke-35

Selasa, 28 April 2026 | 19:59

Prabowo Sempatkan Ziarah ke Makam Sang Kakek Margono Djojohadikusumo

Selasa, 28 April 2026 | 19:47

Jamaluddin Jompa Kembali Jabat Rektor Unhas

Selasa, 28 April 2026 | 19:47

Legislator Golkar Desak Dirut KAI Mundur

Selasa, 28 April 2026 | 19:44

RUPST bank bjb, Susi Pudjiastuti Komut Independen

Selasa, 28 April 2026 | 19:42

Polri Unjuk Gigi, Timnas Silat Sapu Emas di Belgia

Selasa, 28 April 2026 | 19:34

Selengkapnya