ilustrasi, Toyota
ilustrasi, Toyota
Presiden Direktur PT Toyota Astra Motor (TAM) Johnny DarÂÂmawan mengatakan, keÂnaiÂkan harga mobil tidak bisa diÂelakÂkan. TAM telah menaikkan harga jual produknya per 1 JaÂnuari mulai daÂri Rp 2 juta hingÂga Rp 20 juta.
“Kenaikan harga tidak terjadi secara signifikan. Kenaikan harÂga ini tergolong lambat dibanÂding beberapa APM lain yang telah lebih dulu menaikkannya,†ungÂkap Johnny saat dikontak Rakyat Merdeka, kemarin.
Menurutnya, perusahaan suÂdah melakukan efisiensi agar harÂga mobil tetap stabil. Namun dengan melemahnya rupiah dan biaya proÂduksi naik, harga jual mobil terÂpaksa dinaikkan.
Namun, Johnny pede, kenaikÂan harga tidak akan memÂpengaÂruhi penjualan Toyota ke depan.
“Penjualan masih oke, kok. Tidak ada masalah, saya yakin Toyota telah mendapat keperÂcaÂyaan di hati konsumen. Jadi keÂbijakan kenaikan harga nggak akan berÂpengaruh,†kilahnya.
Pasca menaikkan harga, Toyota berjanji akan tetap memberikan fasilitas dan pelayanan terbaik sebagai bukti penghargaan peÂruÂsahaan terhadap konsumen.
Direktur Pemasaran TAM Joko Trisanyoto menambahkan, keÂnaikÂan harga mobil ini belum diÂperhitungkan dengan rencana adaÂnya regulasi baru pemerinÂtah, seperti tarif dasar listrik, harÂga bahan bakar minyak (BBM) dan kenaikan upah buruh.
“Tiap kuartal kami akan meÂmantau kemungkinan kenaikan biaya produksi akibat regulasi terÂÂsebut. Bagian manufaktur mengÂhendaki adanya kenaikan harga mobil yang lebih tinggi akibat kenaikan biaya produksi. Namun, bagian pemasaran haÂrus memÂperÂtimbangkan perÂsaiÂngÂan pasar akibat kenaikan ini,†jelas Joko.
Bahkan Joko memprediksi, keÂnaikan harga mobil kemungÂkinan akan terjadi kembali pada perÂtengahan tahun ini.
“Belum tahu secara pasti beÂrapa kenaikannya. Kita lihat nanÂti, semua tergantung kondisi InÂdoÂnesia ke depan,†pungkasnya.
Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Jongkie D Sugiarto menuturkan, adanya kenaikan harga jual dari beberapa APM termasuk Toyota, tidak berÂpeÂngaÂruh secara signifikan.
“Kebanyakan konsumen tidak memikirkan harga jual dalam membeli mobil. Ada juga yang tipenya asal suka produknya, harÂga berapa pun dibeli,†ujar JongÂkie kepada Rakyat Merdeka.
Menurutnya, penjualan mobil akan tetap berjalan lancar, mesÂkipun ada kenaikan, “Naiknya masih kecil. Kalaupun nanti ada kenaikan yang tinggi, konsumen bukan tidak membeli, tapi cuma menunÂda,†kata Jongkie.
Namun, Jongkie tidak meÂnamÂpik blongnya rem rupiah bisa menÂdongrak harga jual mobil menjadi lebih mahal. Apalagi, katanya, sebagian besar produk otomotif sudah dirakit dan diÂproduksi di dalam negeri.
“Adanya regulasi mobil murah ramah lingkungan (Low Cost Green Car/LCGC) nanti akan mÂeringankan beban APM dalam memproduksi mobil murah,†imbuh Jongkie. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55
UPDATE
Rabu, 14 Januari 2026 | 16:08
Rabu, 14 Januari 2026 | 16:03
Rabu, 14 Januari 2026 | 16:00
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:59
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:50
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:37
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:31
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:23