Berita

presiden sby

Inilah Cara Terbaik Mengurangi Jumlah TKI Versi Rizal Ramli yang Diabaikan Presiden SBY

KAMIS, 20 DESEMBER 2012 | 10:40 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Ketika SBY baru terpilih sebagai Presiden RI tahun 2004 lalu, ekonom senior DR. Rizal Ramli pernah menjelaskan sebuah jurus yang bisa jadi amat jitu untuk mengurangi jumlah TKI yang dikirim ke luar negeri.

"Beliau (SBY) setuju. Tapi sampai sekarang tidak dilaksanakan. Padahal kalau dilaksanakan tahun 2004, tahun 2009 mungkin kita tidak usah mengirimkan TKI ke luar negeri lagi," ujar Rizal Ramli dalam perbincangan dengan Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Rabu, 20/12).

Hubungan SBY dan Rizal Ramli yang biasa disapa RR pada masa menjelang reformasi terbilang sangat baik. Di masa itu RR adalah penasihat ekonomi Fraksi ABRI di DPR RI yang dipimpin SBY. Adalah Rizal Ramli, misalnya, yang menyarankan agar Fraksi ABRI tidak menyetujui RUU Migas yang diajukan Mentamben Kuntoro Mangkusubroto ketika itu, karena sarat kepentingan asing dan memang dibiayai pemerintah Amerika Serikat.

SBY dan RR juga pernah sama-sama menjadi tulang punggung kabinet Abdurrahman Wahid dan Megawati Soekarnoputri. SBY bertugas sebagai Menko Polkam dan RR sebagai Menko Perekonomian. Sebelum menjadi Menko Polkam, SBY adalah Menteri Energi dan Sumber Mineral. Sementara sebelum menjadi Menko Perekonomian, Rizal Ramli adalah Kepala Badan Urusan Logistik (Bulog).

Keduanya sempat berpisah menjelang kejatuhan Gus Dur. SBY memilih menyelamatkan diri dan bergabung dengan Megawati. Sementara Rizal Ramli tetap setia menemani Gus Dur sampai kiai NU itu keluar dari Istana. Sebagai ganjarannya, SBY direkrut Mega menjadi Menko Polkam.

Namun begitu keduanya tetap menjalin hubungan baik. RR, misalnya, menghadiri sidang terbuka disertasi SBY tentang pembangunan kawasan perdesaan di Institut Pertanian Bogor (IPB).

Setelah SBY memenangkan pemilihan presiden, salah satu ekonom yang kerap diajaknya bertukar pikiran adalah Rizal Ramli. Berbagai hal mereka diskusikan, termasuk mengenai cara terbaik mengurangi jumlah TKI.

Menurut RR dalam perbincangan tadi, harus dipahami bahwa Indonesia dan Malaysia sebagai salah satu negara tujuan TKI di era 1960an memiliki kondisi ekonomi yang relatif sama dengan Indonesia. Pendapatak perkapita masyarakat kedua negara sama-sama di bawah 100 dolar AS. Tetapi empat dasawarsa kemudian, tingkat kesejahteraan rakyat menengah bawah di Malaysia sebesar empat hingga lima kali dari Indonesia.

"Itulah kenapa banyak TKI kita yang kesana," ujarnya.

Menurut hemat RR, cara paling efektif untuk mengurangi jumlah TKI yang pergi ke luar negeri adalah dengan menciptakan lapangan pekerjaan di dalam negeri sebanyak mungkin.

"Misalnya, membangun jaringan kereta api di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan itu akan menghidupkan ekonomi Indonesia dengan cepat," kata pendiri Econit Advisory Group ini.

Selain proyek pembangunan padat karya, hal lain yang harus dilakukan adalah land reform yang terukur. Misalnya dengan membagikan tanah di luar Pulau Jawa kepada rakyat yang mau pindah plus cost of living, juga bantuan keuangan dalam mengelola lahan. Setelah berjalan lima tahun, misalnya, kelompok masyarakat transmigran seperti ini akan menjadi orang kaya baru.

"Kalau sudah begitu, mereka akhirnya tak mau sekadar menjadi tukang kebon. Mereka akhirnya perlu tenaga. Bukan tidak mungkin nanti kita panggil TKI dari Pakistan, Bangladesh untuk bekerja di kebon-kebon kita di Kalimantan dan Sulawesi," demikian RR. [dem]

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

DPR Paripurna Bahas RAPBN 2027 Hari Ini, Purbaya Dijadwalkan Hadir

Kamis, 02 Juli 2026 | 10:21

Indonesia Hidupkan Kembali Pusat Pelatihan Pertanian di Gambia

Kamis, 02 Juli 2026 | 10:20

Emas Antam Terbang Rp15.000, Satu Gram Jadi Rp2,64 Juta

Kamis, 02 Juli 2026 | 10:08

AS Desak SPBU Turunkan Harga Bensin Seiring Anjloknya Minyak Dunia

Kamis, 02 Juli 2026 | 10:00

Sanksi Tegas Harus Dijatuhkan ke Pihak yang Terlibat Kasus Helikopter KPU

Kamis, 02 Juli 2026 | 09:47

Heddy Lugito Ungkap Peran Penting Media Massa bagi Eksistensi DKPP

Kamis, 02 Juli 2026 | 09:40

IHSG Terbang 1,2 Persen, Rupiah Loyo Rp17.979 per Dolar AS

Kamis, 02 Juli 2026 | 09:32

Purbaya Tegaskan Surat Utang Danantara Tak Buka Ruang TPPU

Kamis, 02 Juli 2026 | 09:26

Penyaluran KPP Melesat, Pemerintah Tingkatkan Plafon Pembiayaan Jadi Rp50 Triliun

Kamis, 02 Juli 2026 | 09:17

Prabowo Dijadwalkan Gelar Pertemuan Bilateral dengan Lukashenko Pagi Ini

Kamis, 02 Juli 2026 | 09:08

Selengkapnya