Berita

DR. Rizal Ramli/ist

SBY DI MALAYSIA

RR: Pemerintahan SBY Harus Berhenti Bohong

SELASA, 18 DESEMBER 2012 | 16:37 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Cara terbaik yang dapat dilakukan pemerintah Indonesia untuk menjawab pelecehan dan penghinaan sebagian masyarakat adalah dengan bekerja keras menciptakan lapangan kerja dan kesejahteraan. Yang juga penting dilakukan pemerintahan SBY adalah berhenti berbohong.

Terutama berbohong tentang jumlah pengangguran di negeri ini.

Ekonom senior DR. Rizal Ramli sudah sering menyampaikan kebohongan pemerintah ini di dalam berbagai kesempatang.

Dalam pembicaraan dengan Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Selasa sore, 18/12) ia kembali mengatakan, tingkat pengangguran di Indonesia yang resmi disampaikan pemerintah adalah salah satu kebohongan yang dimaksudkannya.

"Pemerintah mengumumkan pengangguran di Indonesia sebesar 6 persen. Masa iya sih? Di negara-negara Eropa saja 10 persen. Di Prancis 10,8 persen, di Spanyol dan Yunani 25 persen," kata Menko Perekonomian di era Abdurrahman Wahid ini.

Tingkat pengangguran ini terbilang kecil karena pemerintah Indonesia menggunakan definisi pengangguran yang berbeda dari definisi yang diakui dunia internasional. Menurut pemerintah Indonesia, seseorang sudah dapat dikatakan bekerja bila dalam satu minggu bekerja selama satu jam.

"Tentu saja bekerja satu jam selama seminggu tidak cukup untuk hidup," ujarnya sambil menambahkan hanya Indonesia dan sebuah negara di Afrika yang menggunakan definisi ini.

"Kalau kita menggunakan definisi yang lazim dipakai di seluruh dunia, yaitu bekerja selama 35 jam atau 40 jam seminggu, maka yang menganggur di Indonesia itu 30 persenan. Atau dari tiga orang Indonesia ada satu yang menganggur," ujar dia lagi.

"Dan satu orang yang menganggur ini, karena nggak ada harapan di dalam negeri, pun menjadi TKI atau TKW antara lain di Malaysia," sambungnya.

Menurut RR, begitu ia biasa disapa, selama pemerintah gemar berbohong dan menutup-nutupi hal ini, selama itu pula tidak akan diketahui solusi untuk mengurangi pengangguran.

Kata dia, definisi bekerja yang digunakan pemerintah itu harus diubah. Setelah itu barulah pemerintah fokus menyelesaikan persoalan lapangan pekerjaan yang ada. [dem]

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

DPR Paripurna Bahas RAPBN 2027 Hari Ini, Purbaya Dijadwalkan Hadir

Kamis, 02 Juli 2026 | 10:21

Indonesia Hidupkan Kembali Pusat Pelatihan Pertanian di Gambia

Kamis, 02 Juli 2026 | 10:20

Emas Antam Terbang Rp15.000, Satu Gram Jadi Rp2,64 Juta

Kamis, 02 Juli 2026 | 10:08

AS Desak SPBU Turunkan Harga Bensin Seiring Anjloknya Minyak Dunia

Kamis, 02 Juli 2026 | 10:00

Sanksi Tegas Harus Dijatuhkan ke Pihak yang Terlibat Kasus Helikopter KPU

Kamis, 02 Juli 2026 | 09:47

Heddy Lugito Ungkap Peran Penting Media Massa bagi Eksistensi DKPP

Kamis, 02 Juli 2026 | 09:40

IHSG Terbang 1,2 Persen, Rupiah Loyo Rp17.979 per Dolar AS

Kamis, 02 Juli 2026 | 09:32

Purbaya Tegaskan Surat Utang Danantara Tak Buka Ruang TPPU

Kamis, 02 Juli 2026 | 09:26

Penyaluran KPP Melesat, Pemerintah Tingkatkan Plafon Pembiayaan Jadi Rp50 Triliun

Kamis, 02 Juli 2026 | 09:17

Prabowo Dijadwalkan Gelar Pertemuan Bilateral dengan Lukashenko Pagi Ini

Kamis, 02 Juli 2026 | 09:08

Selengkapnya