Berita

ilustrasi

Bisnis

Dua Pesawat Lion Air Nyaris Tabrakan, Copot Dirut AP II

Kasus Radar Mati, PLN Diminta Tak Main-main Dengan Listrik Bandara
SELASA, 18 DESEMBER 2012 | 09:38 WIB

Matinya radar Bandara Soekarno Hatta, tidak bisa disepelekan. Dua pesawat Lion Air nyaris tabrakan. Direksi PT Angkasa Pura (AP) II mesti ditegur. Kalau perlu dicopot saja.

Matinya radar pemandu jalur penerbangan di Bandara Soe­kar­no-Hatta Minggu (16/12) yang me­nyebabkan sejumlah pener�"ba­ngan terganggu disesali banyak pihak. Akibat kejadian ini, ratus­an nyawa nyaris melayang aki­bat ter­gang­gu­­nya jadwal pener­ba­ngan. Ka­rena itu, muncul usu­lan agar Dirut PT AP II Tri S Su­ noko di­copot dari jabatannya.

Anggota Komisi V DPR bi­dang per­hubungan Marwan Ja’far mengatakan, puluhan pesawat bisa mengalami kecelakaan ha­nya karena listrik bandara udara mati beberapa saat. Potensi ke­celakaan tinggi, karena ketika lis­trik mati, komunikasi pilot de­ngan pihak bandara terputus.

Karena itu, Ketua Fraksi PKB ini mengimbau PLN untuk tidak main-main dengan listrik ban­dara. Menurut Marwan, PLN se­harusnya menyediakan tenaga cadangan untuk pasokan listrik obyek-obyek vital. Bandara uda­ra harus menjadi pri­ori­tas karena berkaitan de­ngan ke­selamatan ra­tusan orang dari berbagai negara.

“Listrik di ban­dara itu sangat vital,” ujar Marwan ke­pada Rak­yat Merdeka, ke­marin.

Ketika dikonfirmasi, Corporate Secretary PT Angkasa Pura II (Persero) Trisno Heryadi sudah meminta maaf akibat gangguan radar di Bandara Soekarno-Hatta. Menurutnya, kerusakan sistem radar itu karena perangkat UPS (Uninterruptible Power Supply) yang mendukung pasokan energi listrik ke perangkat komputer pen­dukung kerja pemanduan pe­sawat terbakar. Peristiwa terjadi sekitar pada pukul 16.55 WIB, Minggu (16/12).

“Terbakarnya perangkat UPS itu mengakibatkan gang­guan pada sistem pemanduan otomatis JAATS (Jakarta Auto­mated Air Traffic System) dan membuat sis­tem tidak dapat be­kerja selama 15 menit,” beber Trisno.

Hingga kini, masih dilakukan in­vestigasi untuk menelusuri pe­nyebab rusaknya UPS. Investi­gasi dipandang perlu mengingat saat ini sebenarnya AP II telah menggunakan UPS Cyberex se­bagai transisi dengan UPS baru yang akan didatangkan pada per­tengahan Januari 2012. UPS ter­sebut diproduksi di Jerman.

Seringnya radar bandara Soe­karno-Hatta mengalami gang­guan, membuat Kementerian Per­hubungan (Kemenhub) me­nu­runkan tim khusus untuk me­ng­investigasi penyebab ka­cau­nya radar bandara tersebut.

“Di­rek­torat navigasi dari Ke­men­­hub langsung turun ke ban­dara untuk melakukan koordina­si pe­nang­anan dan menyelidiki me­ng­apa bisa terjadi,” kata Ka­pus­kom Publik Kemenhub Bam­bang S Ervan, kemarin.

Kemenhub akan melihat ba­gaimana perawatan UPS yang seharusnya berfungsi saat aliran listrik ke radar padam. Hal itu pen­­­ting untuk melihat apakah UPS tersebut benar-benar dirawat secara berkala, karena menyang­kut keselamatan penerbangan.

Menurut Menteri BUMN Dah­lan Iskan, kejadian tersebut tak terkait pasokan listrik PLN. “Itu bukan salah PLN,” ujar­nya ke­pada wartawan, kemarin.

Matinya radar Bandara Soe­karno-Hatta disebabkan karena terbakarnya UPS sejak pukul 16.55 WIB. Akibatnya, sebanyak 64 pe­nerbangan tertunda. Baru  pukul 19.30 WIB penerbangan normal kembali.

 Manager Senior Komunikasi Korporat PT PLN Bambang Dwi­yanto menilai, matinya listrik bu­kan kesalahan pasokan PLN.  Me­nurutnya,  persoalan matinya listrik di Bandara Soekarno Hatta Tangerang Banten merupakan persoalan internal bandara.

“Pa­sokan listrik PLN ke Ban­dara So­et­ta aman,” tukas Bam­bang ke­pada Rakyat Mer­deka.

Nyaris Tabrakan

Terbakarnya UPS di Bandara Soekarno Hatta juga nyaris me­nyebabkan bencana penerbang­an. “Hampir terjadi persinggu­ngan (tabrakan) antara dua pesa­wat, Lion dengan Lion. Lion ke­mu­dian return to base (kembali ke bandara se­mula),” kata Menko Perekonomian Hatta Rajasa di Istana Negara, kemarin.

Sementara Direktur Umum Lion Air Ed­ward Sirait belum men­­dapat laporan soal dua pesa­wat yang nyaris bertabrakan itu. “Bi­asa­nya pilot langsung lapo­ran ke ma­najemen. Itu rahasia Tower Air Traffic Control (TA­C),” kata Edward.  [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

UPDATE

Wall Street Hijau Berkat Inflasi AS Melandai

Rabu, 15 Juli 2026 | 08:16

Danantara Dorong Hilirisasi Mineral untuk Wujudkan Indonesia Pemain Utama Global

Rabu, 15 Juli 2026 | 07:55

AS Serang Iran dan Tutup Akses Pelabuhan di Selat Hormuz

Rabu, 15 Juli 2026 | 07:40

Logam Mulia Melesat Didorong Melandainya Inflasi AS, Emas Tembus 4.000 Dolar AS

Rabu, 15 Juli 2026 | 07:20

Bursa Eropa Rebound, Inflasi AS Melandai Redakan Kekhawatiran Investor

Rabu, 15 Juli 2026 | 07:11

PFI Dukung Zakat Jadi Pengurang Pajak

Rabu, 15 Juli 2026 | 06:52

Kuliner Viral Hair Croissant Tak Bisa Disertifikasi Halal

Rabu, 15 Juli 2026 | 06:21

Prancis Mati Kutu

Rabu, 15 Juli 2026 | 06:05

Karyawan BUMN Bakal Diwajibkan Salurkan Zakat Lewat Baznas

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:37

TPPU Bukan soal untuk Apa Uangnya, tapi soal Asal Usulnya

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:34

Selengkapnya