Berita

ilustrasi, petani karet

Bisnis

Tiga Negara Sepakat Perbaiki Harga Karet

Petani Masih Ngaku Rugi Besar
JUMAT, 14 DESEMBER 2012 | 08:01 WIB

.Indonesia mendukung lang­kah-langkah ITRC (International Tripartite Rubber Council) dalam mempertahankan dan memper­baiki harga karet alam. Hal ter­sebut disampaikan Menteri Per­da­gangan Gita Wirjawan pada saat Pertemuan Dewan Menteri ITRC, Rabu (12/12) di Phuket, Thailand. Dalam pertemuan ter­sebut, mem­bahas pentingnya pe­ning­katan harga karet, pengem­bangan Pasar Karet Regional, serta pe­ngua­tan kapasitas kelem­bagaan ITRC dan IRCo (Inter­national Rubber Con­sortium Limited).

Sekedar informasi, dalam ke­rangka ITRC dan IRCo, Indo­ne­sia bersama Thailand dan Ma­laysia sepakat untuk menerapkan skema pengurangan volume eks­por karet (Agreed Export Tonna­ge Scheme/AETS) sebesar 300 ribu ton yang diberlakukan sejak Okto­ber 2012 sampai Maret 2013.

Kesepakatan yang diumumkan tanggal 16 Agustus 2012 tersebut, telah meningkatkan harga karet (Daily Composite Price, atau ga­bungan rata-rata harga di ketiga negara) dari 2,54 dolar AS per  kilogram (kg) menjadi sekitar  2,9 dolar AS per kg atau sekitar Rp 27 ribu per kg pada awal Desem­ber 2012.

Gita menyimpulkan, bahwa pe­nurunan volume ekspor ketiga negara anggota ITRC su­dah se­suai kesepakatan AETS. “De­ngan de­mikian diharapkan terjadi dam­pak langsung yang positif bagi tingkat pendapatan jutaan petani di Indo­nesia, Thai­land dan Ma­lay­sia,” ujarnya se­perti rilis yang diterima Rakyat Merdeka, kemarin.

Berdasarkan data ITRC, total produksi karet dari tiga negara ini mencakup 67 persen dari total pro­­duksi dunia, dan ekspornya se­besar 86 persen dari total eks­por dunia.

Salah satu pedagang karet Su­mut, M Harahap menye­butkan, harga karet yang bertahan di kisaran Rp 22ribuan per kilogram (kg) di pabrikan mem­buat peda­gang semakin sulit mem­beli karet ke petani. Dengan harga tersebut, harga karet petani cuma di­hargai Rp 14 ribu per kg.”Pedagang juga semakin berhati-hati bertransaksi karet karena flkuktuasi harga dengan tren melemah itu menim­bulkan kerugian,” katanya. [Harian Rakyat Merdeka]



Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

UPDATE

Wall Street Hijau Berkat Inflasi AS Melandai

Rabu, 15 Juli 2026 | 08:16

Danantara Dorong Hilirisasi Mineral untuk Wujudkan Indonesia Pemain Utama Global

Rabu, 15 Juli 2026 | 07:55

AS Serang Iran dan Tutup Akses Pelabuhan di Selat Hormuz

Rabu, 15 Juli 2026 | 07:40

Logam Mulia Melesat Didorong Melandainya Inflasi AS, Emas Tembus 4.000 Dolar AS

Rabu, 15 Juli 2026 | 07:20

Bursa Eropa Rebound, Inflasi AS Melandai Redakan Kekhawatiran Investor

Rabu, 15 Juli 2026 | 07:11

PFI Dukung Zakat Jadi Pengurang Pajak

Rabu, 15 Juli 2026 | 06:52

Kuliner Viral Hair Croissant Tak Bisa Disertifikasi Halal

Rabu, 15 Juli 2026 | 06:21

Prancis Mati Kutu

Rabu, 15 Juli 2026 | 06:05

Karyawan BUMN Bakal Diwajibkan Salurkan Zakat Lewat Baznas

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:37

TPPU Bukan soal untuk Apa Uangnya, tapi soal Asal Usulnya

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:34

Selengkapnya