PSSI
PSSI
Pengambilalihan kantor PSSI ini merupakan hasil keseÂpaÂkatan kongres yang yang digeÂlar di Hotel Sultan, Jakarta. Salah satu poinnya yakni menjalankan roda organisasi PSSI dan berÂkanÂtor di kantor PSSI Pintu X dan XI Stadion Gelora Bung Karno.
Rencana pengambilalihan kanÂtor PSSI ini pun ditindaklanjuti pihak kepolisian. Polda Metro Jaya menurunkan pasukan untuk berjaga-jaga di kantor PSSI sejak Senin sore.
Saat Rakyat Merdeka datang ke kantor PSSI kemarin siang, terliÂhat tiga polisi baru saja keluar dari dalam kantor organisasi yang dipimpin Djohar Arifin itu. MeÂreÂka tak ada yang membawa senÂjata. Sambil berjalan, petugas itu maÂsih sempat melemparkan seÂnyum pada awak media yang nongkrong di pelataran kantor.
Tak lama tiga polisi lagi ke luar dari kantor PSSI. Dari arah berÂlaÂwanan muncul tiga polisi. MeÂreka hendak masuk ke dalam. PinÂtu kaca yang sejak tadi dituÂtup, didorong sampai terbuka. Lalu mereka masuk ke dalam.
Pantauan Rakyat Merdeka di kantor PSSI tampak lengang. Tidak ada staf atau pegawai PSSI yang ngantor. Hanya ada seorang satpam saja yang berjaga-jaga di dekat pintu masuk kantor.
Suasana kantor pun tampak teÂmaram. Hanya sebagian lampu ruangan saja yang dinyalakan. MeÂsin pendingin ruangan juga dimatikan karena tak pengurus yang berada di kantor.
Di luar kantor PSSI, polisi meÂnyebar di beberapa sudut Gelora Bung Karno. Ada yang terlihat tidur-tiduran di atas tikar plastik di bawah pohon, tak jauh dari kanÂtor PSSI. Ada juga ngopi samÂbil ngobrol dengan polisi lainÂnya. Beberapa polisi mengisi waktu main playstation.
Perwira yang berdiri di sebeÂrang kantor PSSI di Pintu X dan XI Gelora Bung Karno meniup peluit panjang. Personel polisi yang sebelumnya menyebar muÂlai berkumpul. Ada yang datang dari arah selatan. Ada yang lari-lari kecil dari warung tenda.
Agung, anggota polisi yang seÂdang merebahkan badan di tikar plastik segera bangkit mendengar panggilan itu. Sehabis santap siang, ia bersama polisi lainnya berÂistirahat di bawah pohon rindang di kawasan Gelora Bung Karno.
Sebelum memakai sepatu, poÂlisi muda itu lebih dulu meÂluÂrusÂkan badan. Dalam hitungan detik, kedua kakinya sudah mengeÂnaÂkan sepatu boot. Baret yang dijaÂdikan alas tidur dikenakan di keÂpalanya yang berpotongan ramÂbut cepak. Ia lalu menghadap ke komandan regu.
Dalam beberapa menit, ratusan polisi sudah berkumpul di depan komandan regu. Tanpa banyak bicara, mereka segera memÂbeÂnÂtuk barisan dan mengambil sikap istirahat untuk mendengarkan instruksi komandan regu.
“Kita berkemas. Tugas sudah seÂlesai, sekarang kembali ke markas. Segera laksanakan dan bubar,†ujar komandan yang meÂniup peluit tadi.
Barisan pun bubar. Sebagian perÂsonel polisi ada yang tetap berdiri di pinggir-pinggir pagar besi sambil berbincang. Sisanya mengemasi alat pengamanan unjuk rasa yang mereka bawa.
Puluhan tameng plastik dan taÂmeng baja yang sebelumnya terÂgeletak rapi di atas tanah segera dibenahi. Tak hanya tameng, tongkat rotan yang menjadi senÂjata menghadapi massa, diÂpuÂngut. Perlengkapan sudah diÂpeÂgang pasukan lalu menunggu truk pengangkut.
Dari arah selatan terlihat empat truk polisi melaju pelan menÂdeÂkati pasukan Salah satu truk parÂkir membelakangi personel yang sudah menyandang perlengkapan.
Truk pun berhenti. Dua polisi terlihat langsung berlari kebagian belakang truk. Dibukanya pintu beÂlakang sehingga membuka ceÂlah yang lebarnya seukuran deÂngan badan truk. Satu-persatu perlengkapan yang tadi dibawa dimasukkan dalam truk.
“Kami akan kembali ke markas di Polda Metro Jaya. Kalau perÂsonel sih rata-rata pulang ke ruÂmah masing-masing. Sebab, baÂnyak yang bawa motor sendiri tiÂdak ikut rombongan,†kata seÂorang polisi yang enggan diÂseÂbutÂkan namanya.
Ketika ditanya apakah akan ada pergantian polisi yang berÂjaga, ia menjawab tidak. Kata dia, berdasarkan informasi yang diteÂrima, kondisi kantor PSSI aman untuk beberapa ke depan.
“Kabar soal akan diambil alih kantor PSSI ini tidak terbukti. SuÂdah satu malam kami jaga disini, situasi aman. Tapi kita lihat saja nanti,†ujarnya sambil berÂgeÂgas meÂnuju ke parkiran motor.
Organisasi Dibubarkan, Mulai Dari Nol Lagi
Kemelut antara Komite PeÂnyeÂlamat Sepakbola Indonesia (KPSI) dengan PSSI dianggap telah merusak prestasi cabang olahÂraga itu. Untuk memperbaiki kondisi persepakbolaan, keduaÂnya perlu dibubarkan.
Adalah bekas anggota Komite Normalisasi PSSI FX Hadi Rudyatmo yang menyarankan hal itu. Menurut Rudy, kisruh yang terjadi antara KPSI dan PSSI sulit untuk diselesaikan.
“Bubarkan dulu PSSI dan KPSI, mereka tidak mungkin bisa berÂsatu kalau masih mempÂerÂtaÂhanÂkan kepentingannya sendiri-sendiri. Setelah itu pemerintah baru intervensi,†ujarnya.
Wali Kota Solo itu menilai, kekisruhan yang terjadi di tubuh sepak bola Indonesia baru bisa diselesaikan, bila organisasi dimulai dari nol lagi.
Maksudnya? Kata dia, bila tiÂdak ada organisasi, maka peÂmeÂrintah bisa dengan mudah meÂlaÂkuÂkan penataan baru terhadap masa depan sepakbola tanah air.
Dengan pemerintah turun tangan, lanjutnya, maka FIFA akan mengeluarkan sanksi berupa pembekuan terhadap organisasi yang ada. “Pemerintah harus meÂngirim surat kepada FIFA, minta waktu sebulan untuk menyusun kepengurusan yang baru,†tambah Rudy.
Rudy paham benar akan ancaÂman sanksi dari FIFA jika pemeÂrintah turun tangan. Namun laÂngÂkah ini dianggapnya sebagai soÂlusi untuk meredakan kisruh seÂpak bola di Indonesia.
“Lebih baik kita kena sanksi, 6 bulan atau setahun. Setelah itu kita berbenah, dan timnas IndÂoÂneÂsia akan menjadi macan Asia lagi, dari pada kisruh terus seperti ini. Tidak ada selesainya,†tegasnya.
Bekas Menteri Pemuda dan Olahraga Adhyaksa Dault berÂpenÂdapat, dualisme kepenguÂruÂsan sepakbola susah untuk diÂleÂrai, mengingat kedua belah pihak masih sama-sama ngotot paling benar dan berkuasa. “Perlu jiwa besar untuk seleÂsaiÂkan semuanya. Tapi pemerintah juga tidak boleh tinggal diam,†ujarnya.
Pemerintah Bentuk Gugus Tugas
Hindari Sanksi FIFA
Untuk menyelesaikan duaÂlisÂme kepengurusan organisasi seÂpak bola, pemerintah memÂbenÂtuk gugus tugas (task force). Tim ini dibentuk Menteri KoorÂdinator Kesejahteraan MasyaÂraÂkat (Menko Kesra) Agung Laksono, yang juga pejabat sementara Menteri Pemuda dan Olahraga.
Pembentukan gugus tugas ini setelah Agung berkonsultasi dengan beberapa tokoh olah raga nasional, di kantor KemenÂpora, kemarin. Rapat konsultasi itu dihadiri Ketua KOI Rita SuÂbowo, Ketua KONI Tono SuÂratÂman, dan belas Ketua KoÂmite Normalisasi PSSI, Agum Gumelar.
“Dalam pertemuan tersebut dibahas berbagai hal terkait kemelut PSSI dan KPSI yang tidak kunjung selesai dan memÂpertimbangkan kemungÂkinan akan dikeluarkannya sanksi kepada Indonesia oleh FIFA,†ujar Agung Laksono usai perÂtemuan itu.
Karena itu, lanjut Agung, piÂhaknya lalu memutuskan memÂbentuk task force yang terdiri dari lima orang. Komposisinya, tiga tokoh di atas ditambah dua orang dari Kementerian PeÂmuda dan Olahraga. Kedua orang itu Yuli Mumpuni, SeÂkÂreÂtaris Kemenpora; dan Deputi I Kemenpora Joko Pekik Irianto.
Rita Subowo ditunjuk menÂjadi ketua tim. Sementara Yuli Mumpuni sekretaris. Tiga orang lainnya bertindak sebagai angÂgota. Tim ini, memiliki tiga tuÂgas utama. Yakni berÂkonÂsulÂtasi dengan FIFA agar Indonesia terÂhindar dari sanksi.
Tim ini juga, lanjut Agung, akan mengadakan konsultasi dengan FIFA dan AFC meÂngeÂnai kemungkinan pemerintah menggunakan kewenangannya sesuai dengan UU Nomor 3 TaÂhun 2005 tengan Sistem KeÂolahÂragaan Nasional dan PP Nomor 16 Tahun 2007 Tentang Penyelenggaraan KeÂolahÂraÂgaÂanÂ.
Selain itu, tim akan meÂlaÂkuÂkan langkah terhadap organisasi PSSI untuk mengantisipasi seÂandainya Indonesia terkena sanÂksi FIFA.
“Kami Menunggu Pengakuan FIFAâ€
Hingga kemarin sore, isu KPSI akan mengambil alih kanÂtor PSSI tidak terbuktui. NaÂmun pihak KPSI memasÂtiÂkan tetap akan menduduki kanÂtor PSSI.
La Nyalla Mahmud MatÂtaÂlitÂti, Ketua KPSI yang juga terÂpiÂlih jadi Ketua PSSI versi KoÂnÂgÂres Luar Biasa Ancol meneÂgasÂkan, akan menjalankan reÂkomendasi kongres. Salah satunya akan berkantor di GeÂlora Bung Karno yang saat ini ditempati PSSI.
Kapan mulai menempati? La Nyalla mengatakan pihaknya masih menunggu keputusan dari organisasi sepakbola interÂnasional (FIFA) tentang dua hasil kongres yang digelar KPSI. Pertama, yakni Kongres Luar Biasa (KLB) Ancol 18 Maret lalu. Kedua, yakni KongÂres Biasa yang baru saja digelar di Hotel Sultan, Jakarta.
“Terserah FIFA. Kalau FIFA meÂngakui malam ini ya kita duÂduki. Kalau FIFA membalas beÂsok ya besok kita duduki,†katanya.
“Meski berhak, kami akan melakukan dengan cara baik-baik dan begitu juga dengan para voter. Kami akan memberi somasi dengan halus agar meÂreka (kubu Djohar) sadar bahwa kami yang mendapat dukungan mayoritas sesuai MoU,†tegas pengusaha yang juga Ketua Kadin Jawa Timur.
Menurut La Nyalla, hasil keÂdua kongres KPSI sudah diseÂrahkan ke FIFA via surat. “Ke FIFA kan nggak perlu harus orangnya. Surat kan bisa juga. Jadi kami sudah jalan,†jelasnya.
Sekjen PSSI Halim Mahfudz mengatakan rencana menduÂduki kantor PSSI di Gelora Bung Karno hanya hanya gertak sambal. Menurut dia, tidak ada organisasi yang berhak berÂkanÂtor di sini, selain PSSI.
“Organisasi yang mana (yang mau ambil alih)? PSSI, kan lembaga sah. Ada yang melinÂduÂngi kita, lho. Tuhan juga meÂlindungi,†kata Halim.
Ia yakin pemerintah tidak akan tinggal diam bila nanti terÂjadi pendudukan terhadap kanÂtor PSSI. Sebab, kantor itu meÂrupakan milik negara yang diÂpiÂnjam kepada PSSI. Bukan miÂlik organisasi. “Tapi, terserah saja kalau dibiarkan negara ini menjadi chaos. Saya kira tidak, dan saya tidak yakin. Pada akÂhirnya apapun akan kelihatan,†kata Halim. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11
Senin, 15 Juni 2026 | 02:37
Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00
Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07
Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11
Senin, 15 Juni 2026 | 19:07
Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21
UPDATE
Senin, 22 Juni 2026 | 20:22
Senin, 22 Juni 2026 | 19:50
Senin, 22 Juni 2026 | 19:48
Senin, 22 Juni 2026 | 19:42
Senin, 22 Juni 2026 | 19:32
Senin, 22 Juni 2026 | 19:20
Senin, 22 Juni 2026 | 19:16
Senin, 22 Juni 2026 | 19:15
Senin, 22 Juni 2026 | 19:09
Senin, 22 Juni 2026 | 19:05