PLN
PLN
Pemerintah mengatakan, peÂnurunan laba PT PLN Persero daÂpat menggangu setoran dividen BUMN tahun buku 2013. Hal ini disebabkan, BUMN kelistrikan ini merupakan salah satu peÂnyumÂÂbang dividen terbesar kedua setelah PT Pertamina Persero.
Kepala Bbiro Perencanaan dan SumÂber Daya Manusia (SDM) BUMN Imam Apriyanto Putro mengataÂkan, pihaknya teÂngah mengÂuÂsulÂkan penurunan setoran diviÂden PLN mengingat perÂolehan laba peÂÂrusahaan setrum negara tersebut anjlok.
Pada peÂriode Januari-SepÂtemÂber 2012, PLN menÂcatat peÂnuÂruÂnan laba sekitar 90,84 perÂsen menÂjadi Rp 865,1 miliar, diÂbanÂdingkan peÂriode yang sama taÂhun lalu seÂbesar Rp 9,45 triliun.
“Untuk itu, kami mau usulÂkan ke KemenÂterian KeuangÂan agar dividennya disesuaikan karena kinerja PLN lagi drop,†tutur Imam di Jakarta, kemarin.
Menurut dia, penurunan kiÂnerÂja tersebut disebabkan keruÂgian kurs yang diderita PLN. Saat ini, kurs rupiah terhadap dolar AS menembus angka 11 ribu, selain itu adanya penerapan StanÂdar Pelaporan Keuangan InternaÂsional (International Financial Reporting Standard/IFRS).
“Oleh sebab itu, tahun ini seÂpertiÂnya laba PLN hanya Rp 1 triÂliun. Padahal PLN penyumbang diviÂden terbesar,†terangnya.
PLN mengalami kerugian kurs sebesar Rp 9,16 triliun per 30 SepÂÂtember 2012. Selain itu, beÂban keuangan PLN kian memÂbengkak tercatat dari Rp 12,6 triÂliun per September 2011 menjadi Rp 17,4 triliun.
Berdasarkan data KementeÂriÂan BUMN, target dividen BUMN taÂhun buku 2013 naik 8,54 perÂsen menjadi Rp 33,5 triliun diÂbanding tahun buku 2012 sebesar Rp 30,86 triliun. Proyeksi terseÂbut lebih tinggi 2,63 persen dari renÂcana target sebelumnya Rp 32,64 triliun. BUMN peÂnyumÂÂÂbang dividen terbesar salah saÂtunya PLN yang diperkirakan seÂbesar Rp 4,37 triliun.
Selain mengalami rugi kurs, beÂban keuangan PLN kian memÂbengkak, yakni 38 persen dari Rp 12,613 triliun per 30 September 2011 menjadi Rp 17,413 triliun daÂÂlam sembilan bulan pertama tahun ini. Penghasilan bunga BUMN kelistrikan tersebut juga tergerus 33,72 persen menjadi Rp 302,279 miliar. PLN juga harus mengalami peningkatan biaya baÂhan bakar dan pelumas sekitar 3,75 persen dari Rp 96,816 triliun per 30 September 2011, menjadi Rp 100,450 triliun per 30 SepÂtemÂÂber 2012. Pembelian tenaga listÂrik turut melonjak 129,1 perÂsen menjadi Rp 1,986 triliun.
Dalam sebuah kesempatan, DiÂrut PLN Nur Pamudji mengakui adanya kerugian kurs tersebut. MeÂnurut dia, kerugian tersebut terÂjadi akibat salah mengkalkuÂlasi kurs, apalagi PLN juga tidak dibolehkan untuk melakukan hedging (lindung nilai). Fasilitas ini, rencana dia, akan dilakukan terhadap utang-utang PLN yang berbentuk dolar AS.
“Namun kami belum mengeÂtahui apakah faÂsilitas hedging ini diperbolehÂkan oleh Kementerian BUMN,†ujar Nur Pamudji.
Kementerian Badan Usaha MiÂlik Negara (BUMN) pesimisÂtis target dividen dalam RancaÂngan Anggaran Pendapatan dan BelanÂja Negara (RAPBN) 2013 sebesar Rp 32,6 triliun dapat terÂcapai. Target laba beberapa BUMN beÂsar seperti PLN dan PerÂtamina diprediksi meleset, sehingga meÂnurunkan dividen.
PPD Dilikuidasi
Menteri BUMN Dahlan Iskan mengaku dalam waktu dekat akan meliÂkuidasi perusahaan bus plat meÂrah, PeÂrum Pengangkutan PeÂnumÂpang Djakarta (PPD).
Dahlan menyaÂtaÂkan, aset dari perusahaan ini yang berupa bus akan diambil alih oleh Perum Damri dan aset beÂrupa tanah akan dilelang. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36
Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04
Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29
Senin, 06 Juli 2026 | 14:49
Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53
Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00
Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14
UPDATE
Rabu, 15 Juli 2026 | 08:16
Rabu, 15 Juli 2026 | 07:55
Rabu, 15 Juli 2026 | 07:40
Rabu, 15 Juli 2026 | 07:20
Rabu, 15 Juli 2026 | 07:11
Rabu, 15 Juli 2026 | 06:52
Rabu, 15 Juli 2026 | 06:21
Rabu, 15 Juli 2026 | 06:05
Rabu, 15 Juli 2026 | 05:37
Rabu, 15 Juli 2026 | 05:34