ilustrasi, Lahan Sawah
ilustrasi, Lahan Sawah
“Total lahan yang dikonversi hamÂpir 100.000 hektar per taÂhun. Ini yang akan kita cegah karena swasembada pangan suÂdah tidak bisa ditawar lagi,†kata Menteri Kehutanan (MenÂhut) Zulkifli Hasan.
Menurut dia, penyebab masifÂnya alih guna lahan tersebut adaÂlah nilai. Ia pun mencontohkan, banyak petani di Pulau Jawa yang mengubah sawah menjadi hutan rakyat karena nilai ekonomi kayu Sengon dan Jambon yang lebih tinggi dibanding tanaman paÂngan. Untuk menyiasati itu, piÂhakÂnya akan terus berkoordinasi dengan para pemegang Hak Pengelolaan Hutan (HPH).
“Kita ajak pemilik HPH dan HTI (Hutan Tanaman Industri) dimana ada kawasan hutan kita wajibkan untuk tanaman pangan, paling kurang 5 pesen harus ditanam,†jelas Zulkifli.
Selain itu, Kemenhut akan berkoordinasi dengan KeÂmenÂteÂrian Pertanian (Kementan) memÂperluas lahan tanaman pangan di kawasan Indonesia Timur. PiÂhakÂnya juga mendukung KeÂmentan meÂnyiapkan lahan taÂnaman paÂngan di Kalimantan Tengah, BaÂrat, Timur sekitar 300.000 hektar.
Zulkifli juga mengaku akan mengevaluasi secara menyeluruh terkait perizinan HPH. Evaluasi tersebut diperlukan lantaran dari 228 perusahaan pemegang HPH, hanya sekitar 100 saja yang dinyatakan aktif.
“Kami banyak menerima laÂporan terkait hal itu. Termasuk banyaknya perusahaan yang sering lambat menanam kembali di HTI,†ujarnya.
Kuasa hukum PT Garbapati Prakarsa, Santrawan T Paparang meÂngatakan, Kemenhut wajib mengembalikan serta meÂmuÂlihÂkan HPH PT Prabu Alaska (PA) dan PT Rimbakayu Arthamas (RKA). Kedua perusahaan terÂseÂbut milik PT Garbapati Prakarsa.
“Pencabutan izin HPH yang dikeluarkan Kemenhut terhadap PT RKA dan PT PA dinilai cacat hukum oleh Mahkamah Agung (MA),†kata Santrawan kepada wartawan, kemarin.
Menurut Santrawan, MA telah memutuskan Peraturan PemeÂrintah No. 6 Tahun 2007 tentang tata hutan dan penyusunan renÂcana pengelolaan hutan serta peÂmanÂfaatan hutan, khususnya pasal 20 ayat 1 dan pasal 133 huÂruf c tidak berlaku secara umum.
Artinya, pencabutan itu harus dikembalikan seperti keadaan semula. Termasuk memÂperÂpanÂjang masa berlaku HPH sebagai penggantian penderitaan peruÂsahaan sejak Januari 2008.
Santrawan mengaku, pihaknya telah mengirimkan dua surat kepada Menhut terkait perÂmoÂhonan untuk mematuhi kepuÂtusan hak uji materil MA. Dalam surat itu, pihaknya juga meminta Kemenhut memerintahkan agar dihentikan kegiatan pihak lain di atas areal lokasi HPH PT RKA dan PT PA.
Sayangnya, menurut SanÂtraÂwan, hingga kini Kemenhut belum melaksanakan putusan MA. “Bahkan tidak mengÂguÂbrisÂnya sama sekali. Itu meÂnunÂjukÂkan tidak mau tunduk pada huÂkum,†ucap dia. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36
Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04
Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29
Senin, 06 Juli 2026 | 14:49
Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53
Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00
Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14
UPDATE
Rabu, 15 Juli 2026 | 08:16
Rabu, 15 Juli 2026 | 07:55
Rabu, 15 Juli 2026 | 07:40
Rabu, 15 Juli 2026 | 07:20
Rabu, 15 Juli 2026 | 07:11
Rabu, 15 Juli 2026 | 06:52
Rabu, 15 Juli 2026 | 06:21
Rabu, 15 Juli 2026 | 06:05
Rabu, 15 Juli 2026 | 05:37
Rabu, 15 Juli 2026 | 05:34