ilustrasi
ilustrasi
Anggota Komisi VII DPR Bobby Rizaldy berpendapat, pemerintah tidak perlu melaÂkuÂkan impor untuk meÂmeÂnuhi kebutuhan pembangkit PLN. Yang diperlukan seÂkarang adalah keberanian pemerintah menghentikan kontrak-konÂtrak ekpor gas yang merugikan.
Menurutnya, salah satu konÂtrak ekspor gas yang meruÂgikan negara adalah ke MalayÂsia. Kontrak gas Conoco ke Petronas Malaysia kurang lebih 300 Million British Thermal Units (MMBTU) terlalu murah karena hanya dijual sekitar 3-6,5 dolar AS per Billion British Thermal Unit (BBTU).
“Saatnya hentikan aliran gas Indonesia ke Malaysia. AlihÂkan ke domestik untuk meÂmenuhi pembangkit PLN dan industri,†kata Bobby.
Melihat harga ekspor gas pipa yang hampir 2 kali lipat ke Singapura sebesar 12 dolar AS per BBTU, maka tidak panÂtas jika Malaysia tidak mau merenegosiasi. Apalagi seÂmuanya berasal dari pemÂboran offshore (laut) yang cost reÂcovery-nya lebih mahal dari yang di onshore.
Bobby mengatakan, PT PeÂruÂsahaan Gas Negara (PGN) atau PLN sanggup membeli di atas harga kontrak Malaysia. Apalagi selama ini negeri jiran itu tidak beritikad baik meÂlakukan renegosiasi karena haÂnya naik dari 3 dolar AS per BBTU menjadi menjadi 6 doÂlar AS per BBTU.
“Gas kita menerangi acara F1 di MaÂlaysia sementara SuÂmatera Selatan yang memÂpunyai gas masih perlu banyak energi listrik,†ucap politisi asal Partai Golkar itu.
Hal senada disampaikan anggota Komisi VII DPR Achmad Rilyadi. Dia memÂperÂtanyakan keseriusan KeÂmenÂterian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) dalam pengÂaloÂkasian pasokan gas domestik.
Saat ini dia belum melihat keseriusan dan kejelasan meÂngenai berapa alokasi pasokan gas untuk pembangkit industri, PLN, pupuk dan pelaksanaan konversi BBM ke gas.
“Memang tahun depan peÂmerintah bilang pasokan gas untuk di dalam negeri secara gelondongan dapat 40 persen. Tapi alokasinya belum jelas ke mana-mananya, kita ingin tahu bagian masing-masingnya,†paparnya.
Belum lagi, alokasi gas yang 40 persen itu juga untuk menÂdongkrak produksi minyak yang terus turun. Karena itu, pemerintah diminta menjeÂlaskan pembagian pasokan gas dalam negeri. Dalam pemÂbagiannya juga harus transÂparan. Apalagi PLN dan inÂdustri dalam negeri juga terus mengeluhkan pasokan gas yang tidak memadai.
Sebelumnya, Wakil Menteri ESDM Rubi Rubiandini meÂngaÂtakan, impor gas dari TiÂmur Tengah tersebut akan dipasok ke terminal penamÂpungan dan regasifikasi (Floating Storage RegasifiÂcation Unit/FSRU) Teluk JaÂkarta yang dikelola Nusantara Regas untuk memenuhi keÂbutuhan Pembangkit PLN.
“Mereka kira-kira bisa mÂeÂnyuplai sampai 1,5 MTPA per tahun. Nusantara Regas yang kurang sekarang bisa terÂpenuhi gas fisiknya dari QaÂtar,†kata Rudi.
Rudi menyatakan, impor tersÂebut akan dimulai pada 2013 dan akan selesai 2015. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 23 Maret 2026 | 01:38
Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08
Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43
Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59
Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07
Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26
Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15
UPDATE
Rabu, 01 April 2026 | 08:16
Rabu, 01 April 2026 | 08:07
Rabu, 01 April 2026 | 07:53
Rabu, 01 April 2026 | 07:42
Rabu, 01 April 2026 | 07:35
Rabu, 01 April 2026 | 07:24
Rabu, 01 April 2026 | 07:17
Rabu, 01 April 2026 | 06:57
Rabu, 01 April 2026 | 06:48
Rabu, 01 April 2026 | 06:20