Berita

ilustrasi

Bisnis

Kontrak Ekspor Gas Ke Malaysia Terlalu Murah

SENIN, 10 DESEMBER 2012 | 08:25 WIB

Rencana pemerintah meng­impor gas dari Qatar sebanyak 1,5 metrik ton per annum (MTPA) per tahun untuk me­menuhi kebutuhan PT Peru­sa­haan Listrik Negara (PLN) dikritik DPR. Pasalnya, Indo­nesia negeri kaya akan gas.

Anggota Komisi VII DPR Bobby Rizaldy berpendapat, pemerintah tidak perlu mela­ku­kan impor untuk me­me­nuhi kebutuhan pembangkit PLN. Yang diperlukan se­karang adalah keberanian pemerintah menghentikan kontrak-kon­trak ekpor gas yang merugikan.

Menurutnya, salah satu kon­trak ekspor gas yang meru­gikan negara adalah ke Malay­sia. Kontrak gas Conoco ke Petronas Malaysia kurang lebih 300 Million British Thermal Units (MMBTU) terlalu murah karena hanya dijual sekitar 3-6,5 dolar AS per Billion British Thermal Unit (BBTU).

“Saatnya hentikan aliran gas Indonesia ke Malaysia. Alih­kan ke domestik untuk me­menuhi pembangkit PLN dan industri,” kata Bobby.

Melihat harga ekspor gas pipa yang hampir 2 kali lipat ke Singapura sebesar 12 dolar AS per BBTU, maka tidak pan­tas jika Malaysia tidak mau merenegosiasi.  Apalagi se­muanya berasal dari pem­boran offshore (laut) yang cost re­covery-nya lebih mahal dari yang di onshore.

Bobby mengatakan, PT Pe­ru­sahaan Gas Negara (PGN) atau PLN sanggup membeli di atas harga kontrak Malaysia. Apalagi selama ini negeri jiran itu tidak beritikad baik me­lakukan renegosiasi karena ha­nya naik dari 3 dolar AS per BBTU menjadi  menjadi 6 do­lar AS per BBTU.  

“Gas kita menerangi acara F1 di Ma­laysia sementara Su­matera Selatan yang mem­punyai gas masih perlu banyak energi listrik,” ucap politisi asal Partai Golkar itu.

Hal senada disampaikan anggota Komisi VII DPR Achmad Rilyadi. Dia mem­per­tanyakan keseriusan Ke­men­terian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) dalam peng­alo­kasian pasokan gas domestik.

Saat ini dia belum melihat keseriusan dan kejelasan me­ngenai berapa alokasi pasokan gas untuk pembangkit industri, PLN, pupuk dan pelaksanaan konversi BBM ke gas.

“Memang tahun depan pe­merintah bilang pasokan gas untuk di dalam negeri secara gelondongan dapat 40 persen. Tapi alokasinya belum jelas ke mana-mananya, kita ingin tahu bagian masing-masingnya,” paparnya.

Belum lagi, alokasi gas yang 40 persen itu juga untuk men­dongkrak produksi minyak yang terus turun. Karena itu, pemerintah diminta menje­laskan pembagian pasokan gas dalam negeri. Dalam pem­bagiannya juga harus trans­paran. Apalagi PLN dan in­dustri dalam negeri juga terus mengeluhkan pasokan gas yang tidak memadai.

Sebelumnya, Wakil Menteri ESDM Rubi Rubiandini me­nga­takan, impor gas dari Ti­mur Tengah tersebut akan dipasok ke terminal penam­pungan dan regasifikasi (Floating Storage Regasifi­cation Unit/FSRU) Teluk Ja­karta yang dikelola Nusantara Regas untuk memenuhi ke­butuhan Pembangkit PLN.

“Mereka kira-kira bisa m­e­nyuplai sampai 1,5 MTPA per tahun. Nusantara Regas yang kurang sekarang bisa ter­penuhi gas fisiknya dari Qa­tar,” kata Rudi.

Rudi menyatakan, impor ters­ebut akan dimulai pada 2013 dan akan selesai 2015. [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

UPDATE

Wall Street Hijau Berkat Inflasi AS Melandai

Rabu, 15 Juli 2026 | 08:16

Danantara Dorong Hilirisasi Mineral untuk Wujudkan Indonesia Pemain Utama Global

Rabu, 15 Juli 2026 | 07:55

AS Serang Iran dan Tutup Akses Pelabuhan di Selat Hormuz

Rabu, 15 Juli 2026 | 07:40

Logam Mulia Melesat Didorong Melandainya Inflasi AS, Emas Tembus 4.000 Dolar AS

Rabu, 15 Juli 2026 | 07:20

Bursa Eropa Rebound, Inflasi AS Melandai Redakan Kekhawatiran Investor

Rabu, 15 Juli 2026 | 07:11

PFI Dukung Zakat Jadi Pengurang Pajak

Rabu, 15 Juli 2026 | 06:52

Kuliner Viral Hair Croissant Tak Bisa Disertifikasi Halal

Rabu, 15 Juli 2026 | 06:21

Prancis Mati Kutu

Rabu, 15 Juli 2026 | 06:05

Karyawan BUMN Bakal Diwajibkan Salurkan Zakat Lewat Baznas

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:37

TPPU Bukan soal untuk Apa Uangnya, tapi soal Asal Usulnya

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:34

Selengkapnya