Berita

KOmbes Khrisna murti

BUDAYA DAN KONFLIK

Menimbang Tulang Punggung Indonesia...

KAMIS, 29 NOVEMBER 2012 | 09:43 WIB | OLEH: KHRISNA MURTI

DI Indonesia hidup berbagai ragam etnik dan sukubangsa, yang mendiami pulau-pulau yang membujur dari Sabang sampai Merauke. Keberadaan dan keragaman etnik ini merupakan warisan dai kerajaan-kerajaan lama. Harsya Bachtiar (1976) menyebutkan Indonesia sebenarnya terdiri dari nation-nation lama yang kemudian terintegrasi kedalam nation Indonesia. Berbagai kelompok etnik dan suku bangsa merupakan tulangpunggung bagi keberadaan nasion Indonesia.

Para pendiri bangsa ini menyadari, bahwa bangsa Indonesia terdiri dari beranekaragam etnis dan suku bangsa. Karena itulah jauh-jauh hari The Founding Fathers mencoba merumuskan ciri kebangsaan dari berbagai teori yang ada. Beberapa pemikir barat yang sering dikutip mereka dalam ruang-ruang diskusi dan perdebatan, salah satunya pendapat pemikir Perancis, Ernest Renan, adalah yang paling popular dikalangan kaum pergerakan.

Renan memberikan gambaran tentang bangsa dalam satu pertanyaan Qu’est Ce Quune Nation? Pertanyaan yang ia ajukan itu kemudian dijawabnya sendiri, bahwa bangsa itu dibentuk atas keinginan bersatu: Le Desir d’etre ensamble, serta kesediaan untuk bersama-sama berkorban. Pernyataan Renan yang masyur itu, ia sampaikan di muka sidang Akademi Perancis pada tanggal 11 Maret 1882.

Agar bangsa baru segera lahir, maka haruslah ada sifat yang mendorong persatuan itu. Misalnya: Segala fakta kepahlawanan di masa silam, penderitaan bersama dan kesediaan berkorban di hari depan dengan syarat-syarat ini, maka Renan merumuskan apa yang dinamainya negara-negara atau nation: Suatu setia kawan yang luas mendalam dan berdasarkan pengorbanan dan kesadaran yang telah ditaburkan serta bersedia pula akan ditaburkan. Oleh karena itu, bangsa negara ialah suatu ikatan jiwa.

Di masa lalu, kesadaran baru itu belumlah dapat diterima dan dimengerti oleh segenap penghuni nusantara. Namun, peristiwa Proklamasi 17 Agustus 1945 telah memunculkan kesadaran baru di kalangan kelompok-kelompok etnis yang ada, yakni kesadaran akan sebuah bangsa yang bersatu dan berdaulat. Itu pun hanya pada kalangan tertentu atau para pemimpin golongan etnis. Sementara di kalangan masyarakat kebanyakan kesadaran akan persatuan sebagai sebuah bangsa belum sepenuhnya lahir.

Baru setelah pengakuan kedaulatan oleh Belanda tahun 1949, proses pembentukan masyarakat Indonesia mulai berjalan lancar. Suasana saling mengenal antar berbagai golongan etnis atau proses akulturasi budaya semakin nampak sejalan dengan usaha-usaha pemerintah ketika itu untuk menyatukan masyarakat Indonesia dengan budayanya yang khas.

Namun, pada kenyataannya, perjalanan menjadi satu bangsa itu tidak berjalan mulus. Beragam perbedaan, jika tidak terus dipelihara, semangat kebangsaan yang kuat dirasuki oleh keadilan di bidang ekonomi, akan menjadi potensi pertentangan. Pertentang bisa menjadi cepat menjalar jika ada ketidakserasian pandangan tentang nilai-nilai persatuan yang terjadi antara para elit atau tokoh golongan dengan masyarakat yang dipimpinnya.

Apalagi pada dasarnya, seperti dikatakan Bachtiar, “Bahwa masyarakat daerah yang berbasis etnis itu masing-masing merupakan apa yang pada jaman pra kemerdekaan disebut sebagai nasion-nasion tersendiri.”

Realitas itu pada gilirannya menghambat usaha-usaha ke arah persatuan, sehingga tidak jarang keseragaman emosional di kalangan elit politik saat itu melahirkan perselisihan di antara kelompok etnis. Bahkan kadang-kadang menimbulkan konflik-konflik yang berujung pada gerakan penghancuran terhadap pihak lain. (Bersambung)

Kombes Khrisna Murti adalah anggota Polri yang saat ini bertugas sebagai Senior Police Planner di kantor Police Division, Markas Besar PBB

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Lie Putra Setiawan, Mantan Jaksa KPK Dipercaya Pimpin Kejari Blitar

Selasa, 13 Januari 2026 | 00:04

Pemangkasan Produksi Batu Bara Tak Boleh Ganggu Pasokan Pembangkit Listrik

Selasa, 13 Januari 2026 | 00:00

Jaksa Agung Mutasi 19 Kajari, Ini Daftarnya

Senin, 12 Januari 2026 | 23:31

RDMP Balikpapan Langkah Taktis Perkuat Kemandirian dan Ketahanan Energi Nasional

Senin, 12 Januari 2026 | 23:23

Eggi Sudjana-Damai Hari Lubis Ajukan Restorative Justice

Senin, 12 Januari 2026 | 23:21

Polri dan TNI Harus Bersih dari Anasir Politik Praktis!

Senin, 12 Januari 2026 | 23:07

Ngerinya Gaya Korupsi Kuota Haji

Senin, 12 Januari 2026 | 23:00

Wakapolri Tinjau Pembangunan SMA KTB Persiapkan Kader Bangsa

Senin, 12 Januari 2026 | 22:44

Megawati: Kritik ke Pemerintah harus Berbasis Data, Bukan Emosi

Senin, 12 Januari 2026 | 22:20

Warga Malaysia Ramai-Ramai Jadi WN Singapura

Senin, 12 Januari 2026 | 22:08

Selengkapnya