ilustrasi/ist
ilustrasi/ist
Percepatan pembangunan infrastuktur harus segera dilakuÂkan seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan laju masuknya inÂvesÂtasi ke Indonesia. CEO PT Nusantara Infrastructure Tbk (META) Ramdhani Basri mengÂaku sudah mengambil iniÂsiatif untuk mengajak para pelaku inÂfrastruktur duduk bersama daÂlam sebuah forum dan menÂcoba mencari solusi inovatif serta maÂsukan bagi pemerintah dalam percepatan pembangunan infraÂstruktur di Indonesia.
“Ini adalah salah satu bentuk kepedulian dan komitmen kami bagi bangsa,†katanya dalam disÂkusi “ForÂmat Kerja Sama Public Private Partnership†pada acara InfraÂstruÂcture Leadership Forum di Jakarta, akhir pekan lalu.
Menurutnya, tanÂtaÂngan utama yang akan dihadapi antara lain permasalahan kontrak dan aspek komersial PPP (Public Private Partnership atau KemiÂtraan PubÂlik Swasta/KPS), pemÂbebasan lahan, tumpang tindihÂnya perÂaturÂan serta minimnya kaÂpasitas penyelenggara tender PPP.
“Persoalan ini memberikan imÂplikasi terhadap pertumbuhan ekonomi dan laju masuknya inÂvestasi ke Indonesia,†urainya.
Di kalangan investor, lanjut Ramadhani, lambannya kemajuÂan infraÂstruktur menjadi salah satu kata kunci yang membuat mereka berÂpikir ulang untuk meÂlakukan reaÂlisasi investasi seÂhingga kondisi ini telah memÂbawa Indonesia berada dalam situasi kedaruratan infrastruktur.
Dari dari data yang dikeluarkan oleh Badan Perencanaan dan PemÂÂbangunan Nasional (BappeÂnas), dana yang dibutuhkan untuk membangun infrastruktur dalam kurun lima tahun ke depan menÂcapai 140 miliar dolar AS atau seÂkitar Rp 1260 triliun. Dari total dana tersebut, kemampuan keÂuangan pemerintah hanyalah seÂkitar 35 persen (Rp 441 triliun). Selebihnya diharapkan akan diÂdapat melalui Kerja Sama PemeÂrintah Swasta (KPS).
Selain itu, dari total 79 proyek yang ditawarkan bernilai 53 miÂliar dolar AS saat ini, ada 34 proÂyek unggulan senilai 38 miliar dolar AS. “Dari jumlah itu, hanya satu proyek PPP Jawa Tengah yang sudah meloloskan pemeÂnang. Masih banyak lagi daftar belum berjalannya proyek-proÂyek KPS di tahap awal, apalagi pada proyek-proyek yang trafik dan hitungan keuangan yang maÂkin cekak,†terang Ramadhani.
Pengamat ekonomi dari LemÂbaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Latif Adam menekankan, kendala pembangunan infraÂstruktur masih menjadi kartu mati bagi perekonomian nasional, mesÂkipun sebenarnya alokasi dana naik sekitar 25 persen dalam periode 2005-2013. Skema pemÂbangunan melalui kerja sama peÂmerintah dan swasta (PPP) diÂniÂlai belum optimal karena maÂsih meÂngalami berbagai persoalan.
“Pembenahan infrastruktur akan memperlancar arus barang dan jasa, mempertahankan daya beli masyarakat dan mendorong konÂsumsi domestik,†ujarnya.
Latif menjelaskan, kenaikan anggaran proyek infrastruktur itu ternyata kurang efektif untuk meÂmacu proyek yang ada. Masih baÂnyak hambatan untuk mengÂgenjot proyek infrastruktur, yakni maÂsalah regulasi, birokrasi dan keÂlembaÂgaan. Ia mencontohÂkan, dalam PPP book milik BapÂpeÂnas baru 5-6 proyek diÂtenÂderkan dari sebanyak 79 proÂyek hingga 2014.
Kepala Divisi Humas MP3EI (Masterplan Percepatan dan PerÂluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia) Edib Muslim mengaÂtakan, pembangunan infrastrukÂtur menjadi faktor penting penÂdorong pertumbuhan ekonomi InÂdonesia tahun depan, termasuk jika proyek MP3EI berjalan.
SeÂperti proyek infraÂstruktur yang ada di koridor Jawa, koriÂdor SuÂmatera serta Kalimantan, SulaÂwesi, Bali-Nusa Tenggara dan PaÂpua-Maluku. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36
Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04
Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29
Senin, 06 Juli 2026 | 14:49
Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53
Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00
Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14
UPDATE
Rabu, 15 Juli 2026 | 08:16
Rabu, 15 Juli 2026 | 07:55
Rabu, 15 Juli 2026 | 07:40
Rabu, 15 Juli 2026 | 07:20
Rabu, 15 Juli 2026 | 07:11
Rabu, 15 Juli 2026 | 06:52
Rabu, 15 Juli 2026 | 06:21
Rabu, 15 Juli 2026 | 06:05
Rabu, 15 Juli 2026 | 05:37
Rabu, 15 Juli 2026 | 05:34