Berita

ilustrasi: situs gunung padang cianjur

Politik

Ditemukan Batu Beranak, Rejeki dan Perang Di Pulau Mantai Papua

MINGGU, 25 NOVEMBER 2012 | 12:36 WIB

Balai Arkeologi Jayapura berhasil menemukan situs megalitik berupa batu beranak, batu rejeki dan batu perang di Kawasan Danau Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua.

"Ketiga situs megalitik ini ditemukan di pulau Mantai merupakan salah satu dari 21 pulau yang berada di tengah Danau Sentani. Situs ini berada di koordinat 020 36' 23,4" LS dan 1400 26' 22,7' BT," kata Hari Suroto, staf peneliti dari Balai Arkeologi Jayapura, Papua, Minggu (25/11).

Menurut pria alumnus jurusan Arkeolog Universitas Udayana ini, untuk menjangkau pulau tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan "long boat" atau perahu bermesin dari dermaga Kampung Toware selama kurang lebih 20 menit ke arah Kampung Kwadeware, distrik Waibu. Yang mana pulau tersebut berbentuk bulat, tidak berpenghuni dan hanya dijadikan sebagai tempat berkebun.

Di pesisir Pulau Mantai dulunya pernah berdiri dua perkampungan yaitu Manukandaro di selatan dan Huikanjero di bagian timur. Namun kedua kampung tersebut telah habis terbakar dan masyarakatnya sudah berpindah lokasi pemukiman ke daratan.

Situs di Pulau Mantai merupakan situs terbuka. Kata Hari, pada situs ini ditemukan sejumlah materi arkeologi berupa fragmen gerabah hias maupun polos dan beberapa bangunan megalitik berupa sejumlah menhir dalam berbagai ukuran baik yang berada di dalam danau maupun yang berada di pulau. "Gerabah di Pulau Mantai didapatkan di permukaan tanah, namun kondisi situs tersebut sudah teraduk oleh aktivitas berkebun," katanya.

Terkait penemuann situs megalitik berupa batu Beranak atau "Ainining Duka" (dalam bahasa Sentani,red), lanjut Hari, batu beranak ini berada di dalam danau Sentani, dimana keberadaannya dapat disaksikan dengan jelas pada saat air danau turun atau surut. Namun jika air danau sedang pasang/naik, hanya dapat disaksikan dari permukaan danau secara samar-samar.

Adapun atau batu beranak tersebut berjumlah 12 buah, yang terdiri dari 2 buah yang berukuran besar yang dipercayai sebagai laki-laki dan perempuan dewasa. Dan 10 buah yang berukuran kecil dipercayai sebagai anak-anaknya, sehingga semuanya dikenal dengan nama batu beranak. Namun pada penelitian yang dilakukan pada Juli lalu, pihaknya hanya dapat menggambil gambar bagian atas menhir yang berukuran besar yang terlihat.

"Karena pada saat itu kondisi permukaan air danau sedang pasang dan peralatan yang digunakan kurang memadai sehingga kami tidak melakukan penyelaman untuk mendokumentasi semua menhir yang ada, serta tidak melakukan pengukuran pengukuran kami hanya menduga tingginya sekitar 3 meter," kata Hari dan menambahkan jka ditinjau dari jenis batuannya tergolong ke dalam jenis batuan beku.

Untuk batu Rejeki atau "Marew" ditemukan kira-kira 10 meter dari arah batu beranak, dimana terdapat bongkah batu besar yang sebagiannya tertancap di Pulau Mantai dan sebagian lagi ke danau atau tepatnya batu ini berada di tepi danau pulai itu. Batu marew dipercaya sebagai batu rejeki oleh warga sekitar pulau, sehingga apabila ada orang yang hendak berburu atau mencari ikan biasanya datang membawa sesaji berupa kapur, pinang dan siirih ke batu tersebut untuk meminta berkat. "Warga setempat percaya, jika dalam suatu kegiatan mencari makanan dan mereka tidak mendapat apapun, ini disebabkan kemarahan batu ini, sehingga warga harus memberikan sesaji agar dapat murah rejeki kembali," katanya.

"Pada penelitian ini, sama halnya dengan batu Beranak, kami hanya dapat menggambil gambar bongkah batu bagian atasnya dan tidak melakukan pengukuran, karena pada saat itu kondisi permukaan air danau naik dan menutupi hampir semua permukaan batu. Adapun jenis batuannya adalah batuan beku," lanjut pria jebolan SMUN Pleret, Bantul, Yogyakarta.

Sedangkan untuk penemuan Batu perang, juga tak jauh dari baru Beranak dan Batu Rejeki. Berjarak sekitar 200 meter dari arah bongkah batu besar ke daratan Pulau Mantai, dan ditemukan 2 buah menhir yang berada dalam posisi melintang dan berdekatan. Namun salah satunya dalam kondisi patah. Dan pada kedua menhir tersebut terdapat lubang-lubang kecil yang diperkirakan sebagai akibat dari sentakan unjung-ujung tombak dari para prajurit perang saat melakukan ritual perang, agar mereka memperoleh kemenangan.

"Oleh warga setempat, batu ini biasanya dijadikan tempat ritual atau sembahyang agar bisa menang dalam perang," jelasnya.

Hari yang pernah mengajar di Jurusan Sejarah Universitas Hasanuddin Makassar, Sulawesi Selatan itu menambahkan tempat penemuan situs Megalitik ini bisa dijadikan tujuan wisata. [ant/dem]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Mengejar Halusinasi 2045: Mengapa Ekonomi Hanya Bisa Tegak di Atas Literasi

Senin, 27 April 2026 | 14:15

Penerjemah Bible Dibakar Hidup-hidup pada Zaman Renaisans Eropa

Senin, 27 April 2026 | 14:07

Bitcoin Melaju Mendekati 80.000 Dolar AS

Senin, 27 April 2026 | 14:06

Luar Biasa Kiandra, Start ke-17, Finis Pertama

Senin, 27 April 2026 | 13:59

Digitalisasi dan Green Dentistry, Layanan Kesehatan Gigi yang Minim Limbah

Senin, 27 April 2026 | 13:46

Usul KPK Berpotensi Paksa Capres Harus Kader Parpol

Senin, 27 April 2026 | 13:43

Pemda Didorong Lakukan Creative Financing

Senin, 27 April 2026 | 13:36

Citra Negatif Bahlil di Dalam Negeri Pengaruhi Negosiasi Energi Presiden?

Senin, 27 April 2026 | 13:35

Qodari Respons Isu Dilantik Jadi Kepala Bakom: Itu Hak Prerogatif Presiden

Senin, 27 April 2026 | 13:30

Selengkapnya