Berita

ilustrasi, Terigu

Bisnis

Eksportir Terigu Turki Menjerit

Berbahaya Jika Konsumen Tergantung Impor Pangan
JUMAT, 23 NOVEMBER 2012 | 08:31 WIB

Importir terigu asal Turki menjerit gara-gara pengenaan pajak pengaman alias safeguard sebesar 20 persen. Berbahaya jika Indonesia harus tergantung pada impor pangan seperti tepung atau gandum.

Asosiasi Eksportir, Produk, Gandum, Kacang-Kacangan dan Minyak Sayur Turki keberatan dengan rencana pemberlakuan pajak safeguard sementara 20 per­sen terhadap tepung terigu dari negara mereka.

Hal itu ter­kait safeguard yang diberlakukan di Indonesia oleh Komite Penga­manan Perdaga­ngan Indonesia (KPPI), berdasar­kan permintaan Asosiasi Produ­sen Terigu Indo­ne­sia (Aptindo).

Sekedar informasi, Ketua KPPI Bachrul Khairi telah meng­­­­ambil prakarsa untuk mela­kukan inves­tigasi safeguard pada 24 Agustus 2012 atas impor tepung terigu ber­dasarkan per­min­taan Aptindo.

Ketua Asosiasi Eksportir, Pro­­duk, Gandum, Kacang-Kacang­an dan Minyak Sayur Turki Tur­gay Unlu menuturkan, pihaknya me­nyayangkan langkah KPPI yang telah merekomendasikan kepada Kementerian Perdaga­ngan untuk memberlakukan pa­jak safeguard sementara sebe­sar 20 persen.

Menurut Unlu, penyelidikan KPPI terhadap produk impor te­pung terigu bertentangan dengan Perjanjian safeguard WTO (Or­ga­­nisasi Perdagangan Dunia). Pihak­nya sudah mengirimkan pe­nga­cara untuk meminta infor­masi yang sebenarnya dan hingga saat ini belum menerima informasi.

“Oleh karena itu, eksportir teri­gu asal Turki pun menolak inves­ti­gasi yang bertentangan dengan safeguard WTO tersebut,” kata­nya di Jakarta, kemarin.

Dikatakan Unlu, berdasarkan aturan yang ada di WTO, ada em­pat persyaratan yang harus di­pe­nuhi negara anggota. Pertama, adanya peningkatan impor; ke­dua, terbukti adanya kerugian se­rius bagi industri dalam negeri secara keseluruhan atau adanya ancaman kerugian yang serius; ketiga, adanya hubungan sebab akibat antara kenaikan impor dengan kerugian serius atau anca­man kerugian serius; dan ke­empat, muncul perkembangan diluar dugaan.

Pihaknya akan memastikan pa­sokan dan keamanan pangan. Pemerintah seharusnya melindu­ngi pengusaha kecil dan petani dari dampak negatif mono­poli yang menyebabkan ekonomi biaya ting­gi.  

“Kenapa pemerintah membela pengusaha yang kaya karena ha­sil monopoli? Kenapa petani kita ti­dak dibela?” tanya Koor­dinator Per­kumpulan Peda­gang Kecil Peng­­olah Terigu (PP­KPT) Didi Rachmat.

Menurut Didi, tepung gandum kini telah menjadi komoditas pa­ngan penting bagi masyarakat In­do­­nesia. Namun di­sa­yang­kan, 100 persen kebutu­han tepung gan­­dum bergantung pada impor dan tidak ada sebutir pun gan­dum yang ditanam di Indo­nesia.

Harga gandum sebagai bahan dasar tepung terigu di Turki me­miliki kisaran harga 430 dolar AS per ton. Unlu me­nye­but­kan, ter­dapat 20-30 jenis te­pung terigu yang dihasilkan dari gan­dum Tur­ki.

Pengamat pertanian Khudori, mengingatkan ketergantungan masyarakat yang kian mening­kat pada gandum impor akan mem­­ba­­hayakan perekonomian dan ke­daulatan pangan nasio­nal. Hal itu sangat bahaya. [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

UPDATE

Wall Street Hijau Berkat Inflasi AS Melandai

Rabu, 15 Juli 2026 | 08:16

Danantara Dorong Hilirisasi Mineral untuk Wujudkan Indonesia Pemain Utama Global

Rabu, 15 Juli 2026 | 07:55

AS Serang Iran dan Tutup Akses Pelabuhan di Selat Hormuz

Rabu, 15 Juli 2026 | 07:40

Logam Mulia Melesat Didorong Melandainya Inflasi AS, Emas Tembus 4.000 Dolar AS

Rabu, 15 Juli 2026 | 07:20

Bursa Eropa Rebound, Inflasi AS Melandai Redakan Kekhawatiran Investor

Rabu, 15 Juli 2026 | 07:11

PFI Dukung Zakat Jadi Pengurang Pajak

Rabu, 15 Juli 2026 | 06:52

Kuliner Viral Hair Croissant Tak Bisa Disertifikasi Halal

Rabu, 15 Juli 2026 | 06:21

Prancis Mati Kutu

Rabu, 15 Juli 2026 | 06:05

Karyawan BUMN Bakal Diwajibkan Salurkan Zakat Lewat Baznas

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:37

TPPU Bukan soal untuk Apa Uangnya, tapi soal Asal Usulnya

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:34

Selengkapnya