Berita

Dato Syed Munshe Afdzaruddin

Wawancara

WAWANCARA

Dato Syed Munshe Afdzaruddin: 3 Tahun Jadi Dubes, Tak Pernah Dipanggil Muhaimin

KAMIS, 22 NOVEMBER 2012 | 08:48 WIB

Duta Besar Malaysia untuk Indonesia Dato Syed Munshe Afdzaruddin merasa gerah atas pernyataan Menakertrans Muhaimin Iskandar yang mengajak warga negara Indonesia di Malaysia melakukan mogok kerja.

”Seharusnya kita mencari penye­lesaiannya dengan baik. Jangan memperburuk situasi,” katanya di Jakarta, kemarin.      

Menurutnya,  pemerintah Indo­nesia dan Malaysia bisa berbicara dengan baik dan duduk bersama menemukan penyelesaian­nya. “Jangan membuat statement yang memperburuk keadaan,” katanya.

Berikut kutipan seleng­kap­nya:    

Kenapa Anda begitu ke­cewa, padahal banyak TKI di­perla­kukan semena-me­na?      

Saya menyesalkan adanya sta­tement semacam itu. Saya juga menyakan juru bicara Me­na­kertrans, Dita Indah Sari yang mengusulkan  kepada Ke­mente­rian Luar Negeri me­mu­lang­kan duta besar Ma­laysia.      

Seharusnya kita ber­sama-sama berbicara dengan baik dan mencari solusi yang tepat demi men­sejahterakan masyarakat. Saya ini sangat peduli dengan warga Indonesia.

Anda tidak pernah berbicara dengan Muhaimin?      

Selama tiga tahun menjadi Du­bes Malaysia untuk Indonesia ini, tidak pernah dipanggil oleh  Mu­haimin untuk bersama-sama mem­bicarakan masalah yang terjadi.

Kenapa Anda tidak ber­ini­siatif?      

Saya kan di sini hanya sebagai bagian dari pihak kecil saja. Jika ada kasus yang terbaru soal TKI  di Malaysia yang dilakukan tiga Po­lisi Malaysia, seharusnya kita men cari masalahnya apa, kenapa ini ter­jadi dan bagaimana jalan ke­luarnya. Bukan melemparkan per­nyataan yang justru memper­buruk keadaan.

Kerasnya pernyataan itu me­ngingat TKI sering men­da­patkan pelakuan dis­kri­minasi?

Statemen semacam itu bu­kan­lah jawaban atau penyele­saian. Saya mau bicara soal ini atas da­sar hati nurani.

Jika ada orang yang memba­ca statement itu, ma­ka orang tersebut bisa menilai hu­bungan Malaysia dengan In­do­nesia ini tidak baik.       

Padahal kan selama ini hu­bungan kita baik-baik saja. Pak Menakertrans juga jangan hanya melihat dari sisi yang kurang baik­nya saja, tetapi juga harus me­lihat sisi positif hubungan kedua negara ini.

Misalnya apa?   

Hubungan Malaysia dan In­do­nesia itu sangat baik. Hubungan politik, ekonomi, pendidikan dan lainnya itu kan sangat baik. Kita ada joint investment committee, dan Kemenhan juga begitu akrab dengan kami.

Selain itu, di bidang ekonomi juga sangat baik. Lihat saja, di Ma­laysia itu ada 6 hotel milik orang Indonesia yang pekerjanya juga dari Indonesia. Ada tam­bahan nilai.       

Kami merasa sangat akrab dan dekat dengan rakyat Indo­nesia. Menteri-mentei seperti Mentei Ekonomi Pak Hatta Ra­jasa juga pernah berbicara de­ngan saya untuk kemajuan eko­nomi bersa­ma. Tetapi Pak Mu­haimin belum pernah mengajak bicara.             

Masalahnya pemerintah Ma­laysia tidak menghargai TKI, makanya polisi yang memper­kosa itu mendapatkan penang­gu­­han penahanan?

Hukum di Malaysia itu setelah dita­han, mereka  dihadapkan ke pengadilan untuk menentukan pengakuan bersalah atau tidak bersalah. Jika mengaku bersalah maka tertuduh akan langsung dihukum.                     

Jika membuat pengakuan tidak bersalah, pengadilan akan me­nen­tukan sidang dengan ke­ha­­diran tim pengacara dan pen­dak­wa.

Nah, semasa menunggu tang­gal dibicarakannya itu, ha­kim bisa memutuskan tertuduh tidak ditahan sementara, menung­gu hari disidangkan.       

Itu berdasarkan proses sidang Inggris yang berlandaskan you are innocence until proven quality. Jadi, tertuduh itu tidak bebas dari tuduhan.  

Jika setelah disidang dan ter­bukti bersalah, maka tertuduh akan dihukum. Dalam masa pe­nangguhan itu, tertuduh akan di­garansi oleh penjamin bahwa tertu­duh akan hadir pada hari persi­dangan.

Penangguhan diberikan se­suai hukum, karena ketiganya me­ngaku tidak bersalah. Tapi proses persidangan tetap berjalan. Jadi sebenarnya bukan dibebas­kan, law di Malaysia mengikuti Bri­tish Law. [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

Direktur P2 Ditjen Bea Cukai Rizal Bantah Ada Setoran ke Atasan

Jumat, 06 Februari 2026 | 03:49

KPK: Warganet Berperan Ungkap Dugaan Pelesiran Ridwan Kamil di LN

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:34

Nasabah Laporkan Perusahaan Asuransi ke OJK

Kamis, 05 Februari 2026 | 16:40

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

UPDATE

Polda Metro Minta Insan Pers Imbangi Kecepatan Medsos

Senin, 09 Februari 2026 | 22:00

Pemprov Sultra Agendakan Mediasi Kedua Konflik Yayasan Unsultra

Senin, 09 Februari 2026 | 21:40

Ketua DPW PPP Kalteng Diberhentikan Usai Nyatakan Dukung Prabowo

Senin, 09 Februari 2026 | 21:36

MPR Ajak Masyarakat Perkuat Literasi Kebangsaan Agar Tak Mudah Diprovokasi

Senin, 09 Februari 2026 | 21:22

Mahfud Pastikan Tim Reformasi Tidak Giring Polri di Bawah Kementerian

Senin, 09 Februari 2026 | 21:16

KPK Dalami Informasi Keterlibatan Lasarus Dkk di Kasus Suap DJKA

Senin, 09 Februari 2026 | 20:52

Menkop Resmikan Toko Rakyat Serba Ada di Kubu Raya

Senin, 09 Februari 2026 | 20:41

Istana Belum Serahkan Supres Calon Pimpinan OJK ke DPR

Senin, 09 Februari 2026 | 20:38

7 Tradisi Imlek di Indonesia, Bukan Cuma Berbagi Angpau

Senin, 09 Februari 2026 | 20:29

Legislator Golkar Dorong Sertifikasi Halal Juru Potong Ayam Dapur MBG

Senin, 09 Februari 2026 | 20:26

Selengkapnya