ilustrasi, tambang
ilustrasi, tambang
Anggota Komisi VII DPR Satya W Yudha menilai, harus ada tindaklanjut dari pihak terÂkait. Ia menyayangkan terÂjaÂÂdiÂnya kelambanan perizinan pasca kesepakatan antara KeÂmenterian ESDM dan KeÂmenÂhut unÂtuk izin tambang baik miÂneral, batubara ataupun miÂgas dan panas bumi, padahal bisa diÂcarikan solusi.
“Pemberian izin kini bisa diÂurus dalam sebulan. Ini harus ditindaklanjuti. Untuk pihak industri bisa melaporkan ke KoÂmisi VII DPR agar bisa diÂperÂtanyakan,†katanya.
Pernyataan ini menanggapi adanya perusahaan tambang emas yang mengalami kerugian akibat ketidaksinkronan peraÂturan. Misalnya peruÂsaÂhaan Kalimantan Surya KenÂcana (KSK), yang menderita keruÂgian jutaan dolar AS akibat tumpang tindihnya perizinan dan ketiÂdakjelasan sikap peÂmerintah mengatasinya.
Perusahaan yang dikenal deÂngan nama Kalimantan Gold di pentas dunia ini mengÂesÂtimaÂsikan sudah mengÂhaÂbisÂkan 24 juta dolar AS untuk pekerjaan ekplorasi sejak 1997 hingga kini. Namun, kini peruÂsahaan dengan tenaga kerja 90 persen masyarakat lokal itu terancam tak bisa meÂlangÂsungÂkan pekerÂjaan hingga tahapan feasibility studies dan kehiÂlangan semua investasinya kaÂrena tak kunÂjung tuntasnya Izin Pinjam PaÂkai Kawasan Hutan (IPPKH) oleh Kemenhut, yang prosesÂnya sudah lebih dari 3 tahun diajukan.
“Peraturan mana yang harus kami ikuti dan bagaimana perÂtanggungjawaban atas keÂruÂgian kami, itu harus diÂteÂgaskan peÂmerintah. KSK sudah keÂluarÂkan 24 juta dolar AS dan belum ada hasilnya karena ini masih tahap eksplorasi. Dana ini pun terancam hangus karÂena perÂsoalan ini tak kunjung tunÂtas,†keluh Direktur Proyek Mansur Geiger kepada wartaÂwan, kemarin.
Di sisi lain, penyerapan teÂnaga kerja oleh perusahaan penerima penghargaan World Economic Forum 2011 ini, yang ditaksir bisa mencapai ribuan orang juga terkendala akibat perizinan itu.
Padahal, proyek ini didasarÂkan untuk melindungi lingkuÂngan, sekaÂligus mengurangi kemiskinan. Selama ini perÂtambangan suÂdah menyumÂbang 42 persen penguÂrangan kemiskinan di KaliÂmanÂtan TeÂngah pada 2005 dan penguraÂngan 11 persen angka kemisÂkinan pada 2011.
Pihak KSK juga tak habis piÂkir, bagaimana persoalan izin itu menjadi rumit. Government ReÂlation KSK Prasetianto MangÂÂkusubroto mendesak pemeÂrintah segera mencari solusi atas persoalan ini. Perizinan yang tak tegas, menjadi kendala bagi iklim invetasi.
“Kepastian hukum itu harus jelas dan tegas. Investor kan tak mau dana hangus begitu saja. Daerah pun bisa kehiÂlangan kesejahteraan,†tegas PraseÂtianto. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36
Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04
Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29
Senin, 06 Juli 2026 | 14:49
Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53
Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00
Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14
UPDATE
Rabu, 15 Juli 2026 | 08:16
Rabu, 15 Juli 2026 | 07:55
Rabu, 15 Juli 2026 | 07:40
Rabu, 15 Juli 2026 | 07:20
Rabu, 15 Juli 2026 | 07:11
Rabu, 15 Juli 2026 | 06:52
Rabu, 15 Juli 2026 | 06:21
Rabu, 15 Juli 2026 | 06:05
Rabu, 15 Juli 2026 | 05:37
Rabu, 15 Juli 2026 | 05:34