Jero Wacik
Jero Wacik
Menteri ESDM Jero Wacik meÂngatakan, untuk mengantisiÂpasi permasalahan yang mungÂkin timbul dengan dibentuknya SaÂtuan Kerja Sementara PeÂngeÂloÂlaan Migas (SKSP Migas), pihakÂnya segera melakukan perÂtemuan deÂngan Badan PemeÂriksa KeÂuaÂngÂan (BPK).
“Permasalahan tersebut antara lain timbulnya implikasi terhaÂdap kebijakan pengelolahan keÂuangÂan dan aset Kontrak KerÂja Sama MiÂgas,†kata Wacik di Jakarta, kemarin.
Menurut dia, BPK juga perÂlu mengetahui implikasi pelaksaÂnaan kedua keputusan yang diÂkeluarkan setelah dibubarkanya BP Migas dan pengeÂlolaan neÂgaÂra di sektor energi mineral. KeÂdua keputusan tersebut adalah PerÂaturan PresiÂden Nomor 95 tahun 2012 dan disusul oleh KepÂutusan Menteri ESDM.
“BPK sebagai pemeriksa keÂuangan negara memiliki keÂweÂnangan untuk memeriksa pengeÂlolaan keuangan negara atas keÂkayaan eks BP Migas di bawah satuan kerja khusus terÂsebut,†cetus Wacik.
Ketua BPK Ali Masykur Musa menilai, perÂtemuan ini sangat penting unÂtuk mempersiapkan pemeÂriksaan atas pengelolaan keuangÂan negara, khususnya atas aspek personalia, aspek pendaÂnaan dan aspek peÂlaporan keuaÂngannya.
“BPK mengÂangÂgap masalah tersebut harus segera ditangani secara baik agar tidak memÂpeÂngaruhi iklim investasi migas di IndoÂneÂsia serta peneÂrimaan sekÂtor migas di APBN,†jelas polÂiÂtisi PKB ini.
Sebelumnya, BPK menyataÂkan seÂgera memeriksa indikasi peÂÂnyimÂpangan cost recovery (klaim biaya penggantian ongÂkos operaÂsional) yang dilakukan KontrakÂtor Kontrak Kerja Sama (KKKS) BP Migas sebesar Rp 13,9 triliun. Penyimpangan itu diÂÂperkirakan terjadi pada peÂrioÂde 2010 hingga semester satu taÂhun ini.
“AnaÂlisis temuan senilai Rp 13,9 triliun tersebut menunjukkan ada prakÂtik yang selalu berulang setiap tahunnya. Dengan bentuk dan proses yang mirip-mirip,†kata Anggota BPK Bahrullah Akbar. (Rakyat MerÂdeka, 20/11)
Dia mengatakan, pihaknya akan menguji apakah terdapat unÂsur kesengajaan dalam proses penyimpangan cost recovery yang dilakukan oleh KKKS dan tidak menutup kemungkinan juÂga melibatkan pihak BP Migas.
“Jadi, bukan berarti dengan buÂbarÂnya BP Migas maka tidak bisa diusut lagi dugaan penyeÂleweÂngan yang terjadi. Prinsip kami jangan sampai hal-hal yang meÂruÂgikan negara, lolos dari peÂngÂuÂsutan,†kata Bahrullah.
Operasional Mencemaskan
Indonesian Petroleum AssociaÂtion (IPA) mengaku khawatir deÂngan dasar opersional yang diÂlaÂkukan para KKKS. Hal ini kaÂrena institusi yang mendasari, yaitu BP Migas, sudah tidak ada.
Vice President IPA Sammy HamÂzah, mengatakan memang kegiatan hulu Migas tetap berÂjaÂlan seperti biasa pasca BP MiÂgas dibubarkan Mahkamah KonÂsÂÂÂtitusi (MK).
“Yang dikhawatirkan opersioÂnal dasar yang kita lakukan, seÂdangÂkan institusinya nggak ada,†kata Sammy di DharmaÂwangÂsa Hotel, Jakarta, kemarin.
Dia menjelaskan, pandaÂngan KKKS tidak akan berubah sesaat. Yang dinilai dari kejadian pemÂbubaran BP Migas adalah baÂgaiÂmana tindakan Pemerintah, kareÂna opini tidak akan terbentuk paÂda satu kejadian saja.
“Jadi kita giring bersama berÂbagai pihak, untuk tetap positif, tapi nggak cukup dengan kata-kaÂta dan peraÂturan. Perlu dengan kebijakan,†cetus Sammy.
Sementara itu, Presiden KonÂfederasi Serikat Pekerja Migas InÂdonesia (KSPMI) Faisal Yusra tetap menginginkan agar PertaÂmina bisa mendapatkan jatah wewenang eks BP Migas. Karena itu, pihaknya mendukung PerÂtamina sebagai pemegang keÂdauÂlatan migas Indonesia dalam rangka membangun ketahanan energi nasional.
Menurut dia, penyerahan pengÂelolaan migas kepada Pertamina sudah menjadi tekad pekerja miÂgas sejak lama dengan adaÂnya Petisi Plaju dan DeÂklarasi BalikÂpapan. Deklarasi itu diteken perÂwakilan peÂkerja KKKS asing dan pekerja naÂsional. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36
Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04
Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29
Senin, 06 Juli 2026 | 14:49
Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53
Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00
Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14
UPDATE
Rabu, 15 Juli 2026 | 08:16
Rabu, 15 Juli 2026 | 07:55
Rabu, 15 Juli 2026 | 07:40
Rabu, 15 Juli 2026 | 07:20
Rabu, 15 Juli 2026 | 07:11
Rabu, 15 Juli 2026 | 06:52
Rabu, 15 Juli 2026 | 06:21
Rabu, 15 Juli 2026 | 06:05
Rabu, 15 Juli 2026 | 05:37
Rabu, 15 Juli 2026 | 05:34