dahlan iskan
dahlan iskan
“Saat ini BP Migas kerjanya akan digantikan oleh SKSP, kaÂrena itu yang mengisi SKSP harus pejabat yang kreÂdiÂbel dan berÂsih,†ujar Direktur Eksekutif IRESS (Indonesian Resources EconoÂmics Studies) Marwan BatuÂbara kepada RakÂÂyat Merdeka di Jakarta, keÂmarin, menanggapi pemÂÂbentukan lembaÂga baru pengÂÂÂganti BP MiÂgas.
Salah satu penggugat BP MiÂgas di MahkaÂmah Konstitusi (MK) ini menyaÂtakan, berdasarÂkan laporan BaÂÂdan PeÂmerikÂsa Ke uangan (BPK), BP Migas diÂduÂga banyak merugikan negaÂra.
Ia memaparkan, laporan di BPK dari 2001 sampai 2005, baÂnyak sekali temuan soal BP MiÂgas. “Maka itu jangan masukÂkan Priyono cs ke dalam SKSP,†saÂran Marwan.
Menurut Marwan, KementeriÂan ESDM bisa mencari orang yang mempunyai kredibilitas daÂlam mengelola sektor migas.
“Jangan takut kehabisan stok orang-orang ahli perminyakan. Di luar sana banyak ahli permiÂnyakan yang proÂfesional. Melalui penyeleksian yang ketat, tidak ada salahnya memberikan kesemÂpatan kepada mereka,†katanya.
Mengenai pemeriksaan BPK, pihaknya mendesak agar dilakuÂkan pemeriksaan lanjutan terhaÂdap keuangan BP Migas penting.
“BP Migas perlu segera diaudit kaÂrena banyak sekali temuan BPK yang tidak ditindaklanjuti,†simpul Marwan.
Hal senada dikemukakan peÂjabat BPK terkait ditemukan adaÂnya indiÂkasi penyimpangan cost recovery (klaim biaya pengÂÂganÂtian ongÂkos operasional) yang dilakukan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) BP Migas sebesar Rp 13,9 triliun. PenyimÂpangan itu diperkirakan terjadi pada periode 2010 hingga seÂmesÂter satu tahun ini.
“Kepala BPK menyampaikan bahwa anaÂlisis tim BPKP atas temuan senilai Rp 13,9 triliun terÂsebut meÂnunjukkan ada praktik yang selalu berulang setiap taÂhunnya. Dengan bentuk dan proÂses yang mirip-mirip,†kata angÂgota BPK Bahrullah Akbar.
Dia mengatakan, pihaknya akan menguji apakah terdapat unÂsur kesengajaan dalam proses penyimpangan cost recovery yang dilakukan oleh KKKS dan tidak menutup kemungkinan juÂga meÂlibatkan pihak BP Migas.
“Jadi, bukan berarti dengan bubarnya BP Migas maka tidak bisa diusut lagi dugaan penyeÂlewengan yang terjadi. Prinsip kami jangan sampai hal-hal yang merugikan negara, lolos dari peÂngusutan,†tegas Bahrullah.
Sekretaris Pendiri Indonesia Audit Watch Iskandar Sitorus meÂngatakan, sektor migas meÂmang layak diaudit, terutama hal-hal yang terkait cost recovery. Sebab, pada dasarnya cost recovery adalah beban yang dibayarÂkan pemerintah kepada pihak yang telah berhasil mengeksÂploiÂtasi migas di Indonesia.
“Bisa jadi yang dibayarkan keÂÂpada pihak asing jauh lebih besar daripada yang seharusÂnya, akiÂbat adanya permainan di daÂlamÂnya. Itu harus diusut tunÂtas. Kita audit praktik-praktik yang meÂrugiÂkan keuangan neÂgara,†kata Iskandar.
Seperti diketahui, pekan lalu MK memutuskan pasal yang meÂngatur tugas dan fungsi BP Migas yang diatur dalam Undang-UnÂdang Nomor 22 tahun 2001 tenÂtang MÂiÂnyak dan Gas Bumi bertenÂtangan dengan UUD dan tidak meÂÂÂmiliki hukum mengikat.
Dalam acara tatap muka deÂngan karyawan, bekas Kepala BP MiÂgas Raden Priyono membanÂtah ada proses penyimpangan dan liÂberalisasi di lembaganya. Ia meÂnegaskan, jika tudingan BP MiÂgas liberal, tiap taÂhun pihakÂnya harus menghadap DPR untuk memÂÂbicaÂrakan soal alokasi lifÂting minyak dan cost recovery.
“Kalau dikataÂkan liberal saya heran, dikatakan tiÂdak efisien saÂya juga heran,†samÂbungnya.
Ia mengklaim, selama tiga taÂhun pihaknya mendapat presÂtasi dari BPK dengan Wajar TanÂpa PengÂÂecualian (WTP). Artinya beÂkerja dengan efisien.
“Jadi kaÂlau tidak efisien, perÂbandingannya seÂperti apa? Kami satu persen, instansi lama (PertaÂmina) tiga persen,†tuÂkasÂnya.
Sedangkan Menteri BUMN DahÂlan Iskan mengimbau agar Pertamina tidak terlibat serta terÂpengaruh seiring munculnya isu pengÂalihan fungsi BP Migas ke BUÂMN.
“Saya minta teman-teman PerÂtamina tidak punya pikiÂran fungsi BP Migas balik ke PerÂtamina, nanÂti ganggu konsenÂtrasi,†tukas Dahlan, kemaÂrin. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36
Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04
Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29
Senin, 06 Juli 2026 | 14:49
Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53
Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00
Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14
UPDATE
Rabu, 15 Juli 2026 | 08:16
Rabu, 15 Juli 2026 | 07:55
Rabu, 15 Juli 2026 | 07:40
Rabu, 15 Juli 2026 | 07:20
Rabu, 15 Juli 2026 | 07:11
Rabu, 15 Juli 2026 | 06:52
Rabu, 15 Juli 2026 | 06:21
Rabu, 15 Juli 2026 | 06:05
Rabu, 15 Juli 2026 | 05:37
Rabu, 15 Juli 2026 | 05:34