Berita

ilustrasi, daging sapi

Bisnis

Daging Sapi Langka, DPR Duga Ada Pengusaha Nakal Bermain

Wamendag Ngaku Sudah Turunkan Tim Pantau Harga Di Pasaran
SELASA, 20 NOVEMBER 2012 | 08:02 WIB

Kelangkaan daging sapi yang kini terjadi menyulut protes keras masyarakat. Pemerintah diminta bertanggung jawab mengatasi masalah tersebut.

Ketua Komisi IV DPR Ro­ma­hur­muziy mengatakan, peme­rintah dalam hal ini Kementerian Per­ta­nian (Kementan) harus se­ce­pat­nya mengatasi masalah itu, mengingat tingginya ke­naikan har­ga daging sapi bukan dise­babkan naiknya konsumsi mas­yarakat.

”Kenaikan itu sudah di luar ke­wajaran. Pemerintah harus me­ngambil tindakan tegas dan tepat agar tidak menimbulkan kere­sa­h­­­an masyarakat,” katanya.

Karena itu, Politisi Partai PPP ini meminta pemerintah me­man­tau dan mengevaluasi pa­sokan daging di pasaran. “Sebab, ma­sa­lah kelangkaan ini bukan dise­babkan kurangnya pasokan da­ging, tapi bisa jadi ada upaya da­ri pengusaha daging dan peng­usaha rumah potong nakal yang men­coba melakukan peng­ge­mu­kan sapi,” tudingnya.

Selain itu, dia juga meminta pe­­merintah tidak gegabah me­nam­bah kuota impor daging ka­rena populasi sapi nasional saat ini se­kitar 15,9 juta ekor. Arti­nya, jum­lah itu cukup untuk me­menuhi pa­sokan domestik tanpa harus me­naikkan harga, teruta­ma men­je­lang libur Natal dan Tahun Baru.

Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Bayu Krisnamurthi mengatakan, pihaknya sudah me­­nurunkan tim untuk mela­ku­kan pantauan terhadap harga daging. Tim tersebut memang mendapati kenaikan harga daging di atas harga normal.

“Tim kami menelusuri bebe­rapa pasar di Bogor, Santa, BSD, Senen, Mayestik, Jatinegara, Ke­bayoran Lama, Tomang, Cile­dug dan Mala­bar. Di sana bebe­rapa pedagang masih berjualan tapi dengan stok yang sangat tipis dan harganya sampai Rp 105 ribu,” teragn Bayu ke­pada war­tawan, kemarin.

Menurut Bayu, naiknya harga daging dikarenakan pasokan da­ging-daging ke pasar sangat ku­rang. Kondisi ini membuat para peda­gang tidak berjualan karena ke­sulitan mendapatkan daging. Meskipun ada, harganya tidak nor­mal seperti biasanya. Peda­gang pun tidak mau ambil risiko de­ngan menjual daging yang mahal.

“Ini situasi riil yang harus kita hadapi. Saya tidak mau berdebat dengan teman-teman di pertani­an yang menyatakan ada sapi­nya. Tapi kenyataan di pasar me­mang tidak ada,” ungkapnya.

Bayu berjanji, pihaknya akan melakukan koordinasi dengan Ke­mentan untuk mencarikan so­lusi  permasalahan ini. Selain itu, dia meminta supaya Kementan mem­be­rikan informasi mengenai jumlah pasokan yang akan di­tambah.

Ketua Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) Teguh Boediyana me­ne­­gaskan, importir daging dan sapi bakalan didesak untuk me­le­pas­kan stok mereka ke pasar guna mengatasi lonjakan harga daging di pasaran

Ketua Komite Daging Sapi Ja­karta Sarman Simanjorang me­nilai, kelangkaan daging sapi di­sebabkan kebijakan pemerintah membatasi impor daging di saat progam swasembada daging be­lum berjalan baik. Karena itu, pi­haknya mendesak pemerintah kembali membuka kran impor daging agar kelangkaan daging bisa teratasi.

“Sejak awal 2012, kami sudah mendorong pemerintah menga­dakan evaluasi sekaligus me­nam­bah kuota impor daging sapi guna terpenuhinya kebutuhan dunia usaha. Tapi mereka ber­sikeras pa­da data yang dimiliki bahwa da­ging sapi lokal tersedia dan mam­pu memenuhi kebu­tuhan pasar,” tutur Sarman.

Kini, kata Sarman, kalangka­an daging sapi tidak hanya ter­jadi di Jakarta, tetapi sudah me­ram­bah hampir ke seluruh da­erah di tanah air.

Meski demikian, Sarman me­ng­akui, satu bulan lalu peme­rin­tah telah merespons dunia usaha dengan melakukan impor­tasi daging sapi potong dari Austra­lia dan New Zealand seba­nyak 8.500 ton untuk olahan. Namun, jumlah itu hanya untuk industri olahan.

“Untuk bidang usaha non in­dustri dan UKM tidak ada pe­nam­bahan. Ini yang membuat har­ga daging bergejolak,” jelasnya.

Sebelumnya, Dirjen Peter­na­kan dan Kesehatan Hewan Ke­mentan Syukur Iwantoro menga­takan, pemerintah akan menja­min stok daging sapi hingga ak­hir tahun aman dan mencukupi.

Se­bab, untuk No­vember dan Desember, sebanyak 15 ribu ekor sapi dari Nusa Teng­gara Barat (NTB) disiapkan dan 5 ribu ekor sapi potong di antaranya un­tuk memenuhi kebutuhan da­ging Ja­bodetabek. [Harian Rakyat Merdeka]



Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

UPDATE

Wall Street Hijau Berkat Inflasi AS Melandai

Rabu, 15 Juli 2026 | 08:16

Danantara Dorong Hilirisasi Mineral untuk Wujudkan Indonesia Pemain Utama Global

Rabu, 15 Juli 2026 | 07:55

AS Serang Iran dan Tutup Akses Pelabuhan di Selat Hormuz

Rabu, 15 Juli 2026 | 07:40

Logam Mulia Melesat Didorong Melandainya Inflasi AS, Emas Tembus 4.000 Dolar AS

Rabu, 15 Juli 2026 | 07:20

Bursa Eropa Rebound, Inflasi AS Melandai Redakan Kekhawatiran Investor

Rabu, 15 Juli 2026 | 07:11

PFI Dukung Zakat Jadi Pengurang Pajak

Rabu, 15 Juli 2026 | 06:52

Kuliner Viral Hair Croissant Tak Bisa Disertifikasi Halal

Rabu, 15 Juli 2026 | 06:21

Prancis Mati Kutu

Rabu, 15 Juli 2026 | 06:05

Karyawan BUMN Bakal Diwajibkan Salurkan Zakat Lewat Baznas

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:37

TPPU Bukan soal untuk Apa Uangnya, tapi soal Asal Usulnya

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:34

Selengkapnya