Jero Wacik
Jero Wacik
Alhasil, Wacik pun harus memÂbuat pertemuan dadakan dengan mengundang para investor terÂseÂbut ke Bali. Jadwal pertemuan itu tidak ada dalam agenda warÂtawan yang diajak Kementerian ESDM untuk meliput peresmian GeoÂpark Gunung Batur Sebagai GGN Unesco, Sabtu (17/11).
Pertemuan digelar Jumat malam (16/11) mulai pukul 20.00 WIT sampai 21.00 WIT di Hotel Patra Jasa, Kuta, Bali dan berÂlangsung tertutup. Dalam perÂteÂmuan itu, Wacik mengenakan batik biru garis-garis hitam putih itu didamÂpingi bekas Deputi Operasi BP Migas Gde Pradnyana.
Sedangkan para pengusaha miÂgas yang hadir antara lain PreÂsiden Direktur PT Medco Energi Lukman Mahfoedz, Vice PreÂsiÂdent PT Ephindo Sammy HamÂzah, Direktur Eksekutif InternaÂtional Petrolium AssoÂciation (IPA) Dipnala Tamzil, CEO PT Chevron Indonesia Jeff ShelleÂbarger, perwakilan ExxonMobil, perwakilan Premier dan perwaÂkilan Salamander.
Sebelum menggelar perteÂmuan, Wacik menyampaikan tujuannya memanggil bos-bos perusahaan migas itu. Yakni, meyakinkan meÂÂreka agar tidak perlu ragu dan khaÂÂwatir pasca keputusan MahÂkamah Konstitusi (MK) yang membuÂbarkan BP Migas.
“Meski bertepatan dengan haÂri libur, saya sengaja mengumÂpulÂkan mereka untuk memÂbaÂngun kepercayaan diri agar teÂtap menÂjalankan kegiatan seÂperti semuÂla,†kata Wacik.
Menurutnya, industri gas tak boÂleh berhenti sedikitpun. PemeÂrintah menjamin keberÂlangÂsuÂngan usaha migas di Indonesia. SeÂbab jika terhenti, nilai kerugian yang diderita mencapai Rp 1 trilin per hari atau Rp 300 triliun per tahun
Wacik menegaskan, pemÂbuÂbaran BP Migas tidak mempeÂngaruhi legalitas kontrak migas yang selama ini telah ditanÂdaÂtangani. Demikian juga, proses POD (Plant of Development) atau persiapan lainnya untuk neÂgosiasi, semua harus tetap berjaÂlan dan tetap berada di bawah kenÂdalinya.
Usut Illegal Mining
PT Prima Nusa Sentosa (PNS) mendesak aparat berwenang seÂrius menindaklanjuti kasus peÂnambangan mineral dan batuÂbara (illegal mining) serta peÂnyaÂÂlahÂgunaan wewenang yang terÂjadi di Sulawesi Tenggara.
“SeÂbeÂnarnya kasus ini sudah dilaÂporÂkan ke Bareskrim Mabes Polri, tapi sampai sekarang tidak ada keseriusan mengusut tunÂtas,†kata Kuasa Hukum PT PNS FatÂaÂhillah Ramli kepada wartawan.
Fatahillah menjelaskan, klienÂnya adalah pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP) bijih nikel di wilayah Kabupaten Bombana seluas 1999 Hektar di Kecamatan Kabaena Tengah dan Selatan, Kabupaten Bombana dengan jangka waktu selama 20 tahun.
IUP PT PNS ini berdasarkan Surat Keputusan Bupati BomÂbana No. 395/2010 tentang PerÂsetujuan Peningkatan Izin Usaha Pertambangan Eksplorasi MenÂjadi Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi serta Surat Keputusan Bupati Bombana No.438/2009 tentang PersetujuÂan Izin Usaha Pertambangan EksÂplorasi Kepada PT PNS.
Pada 10 Januari 2011, kata FaÂtahillah, pejabat Bombana menerÂbitkan Surat Keputusan Pejabat Bupati Bombana No.25/ 2011 tenÂtang Pencabutan Keputusan Bupati Bombana No.438/2009 Tentang Persetujuan Izin Usaha Pertambangan Eksplorasi. Juga Keputusan Bupati Bombana No.395/2010 tentang Persetujuan Peningkatan Izin Usaha PertamÂbangan Eksplorasi menjadi Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi Kepada PT PNS, deÂngan alasan wilayah sebagaimaÂna dimaksud dalam IUP EksÂploÂrasi dan IUP Operasi Produksi atas nama PT PNS tersebut berÂada pada lintas Kabupaten BomÂbana dan Kabupaten Buton.
Padahal, wilayah pertambangÂan PT PNS seluruhnya berada dalam wilayah Kabupaten BomÂbaÂna. Berdasarkan Surat KeputuÂsÂan Pejabat Bupati Bombana No.25/2011 tersebut, PT PNS mengÂajukan gugatan Tata Usaha NegaÂra (TUN).
Putusan TUN meÂneÂrima permoÂhonan gugatan dan menyatakan tindakan tergugat mengeluarkan SK Bupati BomÂbana No.25/2011 tentang PenÂcaÂbutan SK Bupati Bombana No. 438/2009 bertentaÂngan dengan peraturan perunÂdang-undangan yang berlaku.
Pihaknya juga telah mengiÂrimkan surat kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No.123/PNS/X/2012 tertanggal 29 Oktober 2012 untuk memohon perlindungan hukum serta menÂdesak memberikan teguran keras atas kegiatan penambangan ilegal yang dilakukan di lokasi izin usaha pertambangan milik peÂrusahaan PT PNS. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36
Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04
Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29
Senin, 06 Juli 2026 | 14:49
Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53
Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00
Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14
UPDATE
Rabu, 15 Juli 2026 | 08:16
Rabu, 15 Juli 2026 | 07:55
Rabu, 15 Juli 2026 | 07:40
Rabu, 15 Juli 2026 | 07:20
Rabu, 15 Juli 2026 | 07:11
Rabu, 15 Juli 2026 | 06:52
Rabu, 15 Juli 2026 | 06:21
Rabu, 15 Juli 2026 | 06:05
Rabu, 15 Juli 2026 | 05:37
Rabu, 15 Juli 2026 | 05:34